Beberapa penerbangan internasional langsung yang telah dibuka menjadi angin segar untuk ekspor komoditas pertanian di Pulau Bali. Salah satunya adalah ekspor buah manggis.
Kepala Balai Karantina Pertanian Kelas I Denpasar, Bali, I Putu Terunanegara menerangkan, dirinya tak mengungkapkan ditutupnya penerbangan internasional selama Pandemi Covid-19, menyebabkan terhentinya ekspor dan terpuruknya penyerapan hasil produksi petani.
Namun, sejak dibuka dari data IQfast Karantina Denpasar, kegiatan ekspor buah segar seperti manggis sudah mulai terjadi di minggu terakhir bulan September kemarin. Rata-rata pengiriman manggis 2 hingaa 3 ton per hari menuju China, bahkan sudah sampai 8 ton sehari.
"Sampai saat ini, permintaan manggis dari Bali ke China, tiap hari rutin ada pengiriman," kata Terunanegara dalam keterangan tertulisnya, Senin (11/10).
Ia menyampaikan, buah manggis dari Bali punya peminatnya tersendiri di pasar China. Hal itu, dikarenakan manggis dari Bali memiliki daging yang lebih empuk dan tidak lembek serta tampilan luarnya lebih cantik.
"Sekarang musim panen manggis sudah mulai ada di beberapa daerah di Bali. Saya optimis setelah adanya pembukaan penerbangan langsung di Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, volume ekspor manggis akan melonjak naik," imbuhnya.
Ia mengungkapkan, selama ini Karantina Denpasar terus melakukan pendampingan kepada para petani. Sehingga, produk pertanian di Bali terjamin kualitasnya.
"Karantina Pertanian Denpasar, terus melalukan pendampingan dari hulu sampai ke hilir. Sehingga, produk yang dihasilkan petani terjaga kualitasnya dan pasar terus berkelanjutan," ujarnya.