Kecepatan vaksinasi di Jawa Barat dianggap masih rendah dengan angka 22 ribu penyuntikan tiap hari. Jumlah ini ingin ditingkatkan menjadi 150 ribu penyuntikan tiap hari.
Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil menjelaskan, salah satu faktor yang membuat hal vaksinasi tidak cepat karena keterbatasan tempat dan kapasitas fasilitas kesehatan. Untuk mengatasinya, ia meminta vaksinasi dilakukan di gedung-gedung, sarana olahraga hingga rumah dinasnya.
"Jadi kami sudah menghitung kecepatan hari ini di Jabar masih rendah untuk vaksinasi masih di 22 ribu per hari, target kalau mau tercapai kita harus naik ke 150 ribu per hari. Mengandalkan Puskesmas saja tidak cukup, maka kami mengimbau semua institusi yang punya gedung besar untuk membantu kami meminjamkan gedungnya sebagai namanya sentra vaksinasi," kata Ridwan Kamil, Bandung, Selasa (9/3).
"Nah, karena di rumah dinas di Pakuan ini ada gedung olahraga dan halamannya luas, maka saya memberikan gestur yang sama rumah dinas gubernur Jabar pun direlakan jadi tempat vaksinasi massal warga Jabar, dimulai besok ke tokoh Jabar dulu, jadi besok berita luar biasa sebenarnya, sesepuh semua itu akan diatur untuk disuntik vaksinasi di sini," ia melanjutkan.
Ia berharap, kebijakan ini diikuti oleh pemerintah di tingkat kabupaten kota. Terlebih, Fasilitas milik institusi TNI dan Polri pun sudah diinstruksikan untuk digunakan.
"Nah supaya menaikkan tadi dari 22 ribu per hari menjadi 150 ribu per hari, kalau bisa 150 ribu per hari maka target vaksinasi bisa selesai di akhir tahun. (tokoh Jawa Barat yang ikut divaksin) Kalau dengan pasangannya ada sekitar 150-an lah," ucap dia.
Disinggung mengenai stok vaksin, Ridwan Kamil menegaskan relatif aman. Pada vaksinasi tahap dua ada 6 juta target yang harus mendapat pelayanan, termasuk yang diutamakan adalah para warga lansia.
"Kalah vaksin enggak ada masalah, masalah kita bukan dari ketersediaan vaksin, masalah kita dari metode mempercepat target," terang dia.
"Karena vaksin ini kan ada kedaluwarsanya sejak dia diproduksi di hari pertama, dia kedaluwarsa enam bulan si gelombang produksinya itu, jadi kalau kita pakai vaksin yang baru diproduksi terus enam bulannya kelewat kan mubazir padahal dapat vaksin tuh susah. Punya duit aja kan belum tentu bisa dapat vaksin kan negara-negara," pungkasnya.