PPDI Sebut Idealnya Indonesia Punya 2.500 Dokter Paru

Apalagi penyakit paru masuk dalam 10 besar dengan jumlah penderita terbanyak. "Kalau sesuai standar Internasional, rasionya 2-3 dokter dibanding 100 ribu penduduk," kata Ketua PDPI Pusat dr Agus Dwi Susanto.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
PPDI Sebut Idealnya Indonesia Punya 2.500 Dokter Paru
PPDI Sebut Indonesia masih kekurangan Dokter Paru. ©2019 Merdeka.com/Arie Sunaryo

Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) menyatakan Indonesia masih kekurangan dokter paru. Saat ini jumlah dokter paru di Indonesia hanya 1.075 orang. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang saat ini mencapai sekitar 260 juta jiwa.

Ketua PDPI Pusat dr Agus Dwi Susanto mengatakan jika sesuai dengan standar internasional, idealnya Indonesia membutuhkan sekitar 2.500 dokter paru. Apalagi penyakit paru masuk dalam 10 besar dengan jumlah penderita terbanyak.

"Kalau sesuai standar Internasional, rasionya 2-3 dokter dibanding 100 ribu penduduk," ujar Agus kepada wartawan saat konferensi pers Konferensi Kerja ke-16 PDPI di Solo, Kamis (12/9).

Oleh karena itu, pada konferensi yang akan diselenggarakan 11-16 September di Alila Hotel tersebut, pihaknya juga akan membahas hal-hal terkait terkait pelayanan, pendidikan, dan penelitian di Indonesia untuk bisa mendukung program pemerintah khususnya masalah paru.

Sementara itu untuk menuju "Universal Coverage 2020", dorongan ditambahnya jumlah dokter paru merupakan bentuk dukungan dari PDPI. Menurutnya, ada 3 jenis penyakit paru yang masuk ke dalam 10 penyakit dengan jumlah penderita terbanyak, yaitu tuberculosis (TBC), pneumonia, dan kanker paru. Ia mengatakan khususnya kanker paru ini kebanyakan diderita oleh kaum pria.

"Berdasarkan data prevalensi, Indonesia menempati posisi tiga untuk jumlah perokok tertinggi di dunia. Persisnya jumlah perokok di Indonesia ini mencapai 69 persen dari penduduk pria yang ada," jelasnya.

Dengan jumlah tersebut, dijelaskannya, risiko penyakit kanker paru makin tinggi. Di sisi lain, beban kesehatan karena kanker juga besar.

Pada konferensi kerja tersebut, lanjut dia, akan dibahas isu-isu menarik dan terbaru di bidang kesehatan pernapasan melalui simposium untuk meningkatkan kemampuan dan manajerial praktisi sehingga diharapkan dapat menurunkan angka kesakitan dan kematian terkait penyakit pernapasan di Indonesia.

Sedangkan agenda lainnya adalah lokakarya terintegrasi sehingga para peserta dapat lebih memiliki kewaspadaan dengan manajemen komprehensif dengan mempersiapkan strategi untuk pencegahan awal dan pengobatan yang tepat sehingga dapat memenuhi tujuan dan tercapai optimalisasi kualitas hidup yang baik.

Rekomendasi