Wiji Fitriani, seorang remaja putri yang menderita gangguan jiwa (ODGJ) kehilangan jari tangannya. Warga Desa Ngadi Kecamatan Mojo Kabupaten Kediri memakan jari tangannya sendiri hingga putus. Dia sempat dipasung karena kerap mengamuk.
Perbuatan ini dilakukan wiji karena diluar kesadarannya. Jari tangan kirinya nyaris habis, sementara jari kanan jempol habis. Jari telunjuk tinggal separuh, jari manis membusuk dan yang utuh tinggal jari kelingking.
Wiji tinggal bersama neneknya bernama Jirah di sebuah rumah kecil di kawasan Makam Auliya, Gus Miek. Saat kecil Wiji dalam keadaan normal. Tetapi setelah kedua orang tuanya bercerai, kondisi kejiwaannya terganggu dan berubah drastis.
Wiji kerap mengamuk dan membahayakan warga hingga pihak keluarga sempat mengurungnya di sebuah kamar. Setahun terakhir Wiji memiliki kebiasaan yang aneh yaitu memakan jemari tangannya sendiri.
"Seperti ada yang memerintah dan rasanya tidak enak sekali dan terus menggigit jari," kata Wiji pada wartawan sambil didampingi neneknya.
Pemerintah desa bersama puskesmas setempat sudah berupaya mengobati Wiji. Bahkan dia pernah dirujuk ke Rumah Sakit Jiwa Lawang di Malang sebanyak tiga kali. Tetapi karena keinginan pasien serta sang nenek, Wiji dibawa pulang dan hanya dirawat seadanya di rumah.
Di rumahnya, bila sewaktu-waktu gangguan kejiwaannya kambuh, keluarganya juga menyiapkan ruangan ukuran 3 x 2 meter yang mirip kerangkeng untuk mengisolasi Wiji.
"Petugas Kesehatan di Kabupaten Kediri seharusnya bisa lebih memberikan perhatikan kepada Wiji, pasien gangguan jiwa yang memakan jarinya. Wiji sangat memerlukan perawatan secara serius," Kata Arif Witanto, Koordinator Dewan Kesehatan pada merdeka.com.
Arif menambahkan, Pihak Dinsos Kabupaten Kediri kini membawa Wiji ke Rumah Sakit Jiwa Menur Surabaya.