Komnas Perempuan meminta penyematan kata 'pelaku' kepada perempuan dalam aksi pengeboman di Surabaya, perlu dicermati. Sebab, sang istri dan anak-anaknya hanya korban indoktrinasi kepala keluarga.
"Kalau merespon pengeboman kemarin perempuan menjadi dalam tanda kutip pelaku, harus agak cermat," kata Komisioner Komnas Perempuan Yuniyanti Chuzaifah di Hotel Grand Sahid, Jakarta Selatan, Rabu (23/5).
"Karena dalam hasil konsultasi kami dengan para penggiat isu-isu terorisme bahwa pertama perempuan digunakan ini terjadi karena doktrin kepatuhan," imbuhnya.
Dia melihat, ada beberapa faktor yang membuat perempuan dilibatkan dalam aksi teror di Surabaya. Pertama, peran hierarki gender. Dalam pendekatan dan relasi ini, perempuan ditempatkan pada keharusan patuh terhadap lelaki sebagai kepala keluarga. Kedua, pandangan teologis yang dianut di mana menginginkan mereka sekeluarga masuk surga bersama-sama.
"Tapi juga ada soal dominasi bahwa ada pandangan teologis bahwa, untuk masuk ke surga biar semuanya," sambungnya.
Sedangkan dari sisi pelibatan anak-anak, dia menduga karena pemikiran orang tua agar anak-anaknya kelak tidak terlantar pascabom bunuh diri. Namun, menurut Yuniyanti, itu perlu dianalisa lebih lanjut.
"Bahwa kenapa sepaket dengan keluarga karena biar tidak atau meminimalisir anak ditinggalkan sehingga anak terlantar. Gitu ya sehingga itu dalam analisis kami tapi itu harus dicek lebih jauh," ucapnya.
Diketahui dalam dua kasus bom bunuh diri di Surabaya beberapa waktu lalu, satu keluarga dilibatkan dalam aksi. Dalam serangan tiga gereja, sang istri dan dua anaknya dibekali bom untuk meledakkan diri di GKI Diponegoro. Lalu, dalam penyerangan Mapolrestabes Surabaya, satu keluarga berboncengan dengan dua sepeda menerobos penjagaan markas kepolisian dan meledakkan diri.