Perayaan Grebeg Maulid Nabi yang digelar Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat tahun ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Kali ini Maulid Nabi jatuh di tahun Dal. Tahun Dal ini dirayakan setiap 8 tahun sekali.Diantara yang berbeda adalah jika tahun-tahun sebelumnya hanya 6 gunungan yang diberikan kepada masyarakat, di tahun Dal ini ada tambahan sebuah gunungan yang dinamai Gunungan Bromo.Menurut Penghageng Tepas Tandha Yekti, GKR Hayu khusus untuk Gunungan Bromo tidak diperebutkan oleh masyarakat biasa seperti gunungan lainnya. Gunungan Bromo khusus diperebutkan oleh Sultan beserta keluarga."Jika gunungan lain dibawa keluar Kraton, maka Gunungan Bromo justru dibawa masuk ke dalam Kraton. Gunungan Bromo dibawa masuk ke Gedong Jane dan dibagikan pada keluarga dan para sentono," ujar GKR Hayu, Jumat (1/12).Acara rebutan Gunungan Bromo, lanjut GKR Hayu diawali oleh Sri Sultan HB X yang mengambil salah satu isi gunungan itu. Setelahnya baru diikuti oleh putri-putrinya dan para pangeran."Kalau (gunungan) yang lain isinya ada makanan ada wajik segala macam. Kalau Bromo isinya ada seperti nasi kepal, selo dan kemenyan makanya ada asap di atasnya," ungkap GKR Hayu yang juga merupakan putri Sultan HB X ini.GKR Hayu menjabarkan tradisi Gunungan Bromo yang dibuat setiap 8 tahun sekali atau setiap tahun Dal ini sudah ada sejak pertama kali ada acara perayaan Maulid Nabi di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. "Gunungan itu merupakan sedekah dari Raja sebagai wujud syukur. Dengan banyaknya yang ngerayah (berebut) sebagai tanda bahwa rakyat menerima sedekah dari Raja. Sehingga prinsip manunggaling kawula gusti tetap berjalan," pungkas GKR Hayu.
Sultan HB X delapan tahun sekali sedekahkan Grebeg Bromo
GKR Hayu menjabarkan tradisi Gunungan Bromo yang dibuat setiap 8 tahun sekali atau setiap tahun Dal ini sudah ada sejak pertama kali ada acara perayaan Maulid Nabi di Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Advertisement
Rekomendasi