Indeks kebutuhan air masyarakat di Pulau Lombok masuk kategori kritis. Salah satunya karena pengelolaan yang kurang baik. Saat ini kebutuhan air di Pulau Lombok mencapai 76 persen. Sedangkan, potensi air mencapai 9 miliar kubik, namun yang baru terkelola hanya 6 miliar kubik.
"Kritis air ini karena pemakaian air yang berlebihan, sementara yang terkelola tidak banyak," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum Nusa Tenggara Barat Wedha Magma Ardhi di Mataram, seperti dilansir Antara, Senin (12/12).
Persoalannya bukan hanya pemakaian yang berlebihan, tapi juga karena banyak terjadi pembalakan liar alias illegal logging. Sehingga kemampuan hutan menahan atau menyimpan air menjadi turun. Air terbuang begitu saja tanpa termanfaatkan.
Mantan Kepala BPBD NTB ini mengatakan, selain persoalan ilegal logging, indikator lain yang menyebabkan indeks air NTB kritis karena banyak wilayah di NTB khususnya Pulau Lombok saat musim kemarau mengalami kekeringan.
"Ini kita lihat di sumur milik masyarakat yang mengering dan air sungai yang kian keruh. Sedangkan, di perkotaan makin meningkatnya konsumsi air minum dalam kemasan," ucap Wedha Magma Ardhi.
Wedha mengklaim segala daya dan upaya sudah dilakukan pemerintah untuk mengatasi makin kritisnya ketersediaan air. Semisal pembangunan bendungan dan embung rakyat. Direncanakan, pada tahun 2017 ini, empat bendungan yakni, Meninting, Bringin Sila, Kerakas dan Mujur akan dimulai pelaksanaannya.
Tidak hanya itu, koordinasi dengan SKPD lainnya seperti Dinas Pertambangan dan Energi (Distamben) untuk mulai memperketat pengawasan perizinan terhadap aktivitas penggunaan sumur bor yang kian marak oleh dunia usaha (perhotelan) dan perumahan di daerah perkotaan juga intensif dilakukan.
"Kita juga tengah menyusun skema menangkap air di wilayah pesisir dengan teknologi historidum, namun khusus di daerah pesisir yang pantainya dialiri aliran sungai, tapi tidak di daerah pariwisata, sehingga tidak mengganggu nantinya," terangnya.
Sementara untuk potensi ketersediaan air di wilayah Pulau Sumbawa masih sangat besar mencapai 15 miliar kubik. Dari jumlah tersebut, yang dipergunakan baru berkisar 2,8 miliar kubik.
"Untuk Pulau Sumbawa kita tidak ada masalah, karena kecukupan air melimpah. Sementara Pulau Lombok masih kita perlukan," imbuhnya.