Usai kerusuhan di Lapas Kelas II A Gorontalo, petugas melakukan sweeping di semua ruang tahanan. Hasilnya, polisi menyita 384 senjata tajam, 111 benda tumpul dan sejumlah narkoba milik narapidana.
"Kami menemukan parang, pisau, tombak, balok kayu, obeng, jarum, paku, hingga satu paket yang diduga narkoba jenis sabu beserta alat hisap," ungkap Kepala Bidang Humas Polda Gorontalo, Ajun Komisaris Besar Polisi (AKBP) Bagus Santoso, Rabu (1/6).
Hingga kini, ratusan polisi bersenjata lengkap dari Polda Gorontalo dan Polres jajaran, terus berjaga di lapas. Saat ini situasi Lapas Gorontalo dalam keadaan aman dan terkendali.
Bagus menuturkan kronologis kejadian versi polisi. Menurut dia, anggotanya saat itu tengah mengantar salah satu narapidana usai mengikuti sidang. Kurniawan ditemani rekan seprofesinya, Bripda RS. Namun, di dalam lapas Kurniawan diteriaki Edi.
"Kalau mo maso di dalam ba tanya (Kalau mau masuk, tanya dulu)," kata Bagus tiru teriakan Edi, dalam keterangannya, Rabu (1/6). Kurniawan langsung menjawab teriakan itu. "Kenapa?" ujar Kurniawan kepada Edi ditirukan Bagus.
Kurniawan dan Edi langsung terlibat cekcok. Bahkan, menurut Bagus, terjadi pengeroyokan kepada anak buahnya. Lebih kurang ada 10 orang mengeroyok Kurniawan.
Dalam pengeroyokan, kata Bagus, para napi juga mengancam. "Mo suru potong ngana (saya potong kamu)," ujarnya.
Lantaran merasa terancam, Kurniawan langsung menendang salah satu tersangka demi bisa kabur dari kepungan. Apalagi salah seorang napi membawa senjata tajam.
Usai menendang salah seorang napi, Kurniawan akhirnya bisa kabur. "Korban langsung menaiki mobil tahanan kejaksaan dan menyuruh sopir kejaksaan atas nama Bapak Yani untuk di bawa ke Rumah Sakit Bunda dan pihak Rumah Sakit Bunda merujuk ke RS Aloei Saboe," terangnya.