Tak ada lagi canda tawa yang bisa didengar Asip dari anaknya Gabriella Sheryl Howard. Pasalnya, bocah berusia 8 tahun itu meregang nyawa saat berusaha menolong temannya yang tak mampu berenang saat mengikuti olah raga renang di Sekolah Global Sevilla yang terbilang sekolah elit.Peristiwa berawal saat Gaby mengikuti olahraga renang di sekolahnya pada 17 September 2015 silam. Sebelum tewas, korban sempat berusaha menolong rekannya yang tak mampu berenang, hingga akhirnya tenggelam dan tak mampu diselamatkan.Gabriella pun merenggang nyawa karena ketidakmampuan sekolahnya untuk menyelamatkan bocah cilik tersebut. Bahkan, pihak sekolah sempat menutupi kecelakaan tersebut dari kedua orangtuanya. Mereka pun enggan disalahkan atas kematian anaknya. Asip mengatakan pihak sekolah juga tidak memberikan ganti rugi yang sesuai dalam kasus ini.Pihak sekolah, katanya, hanya memberikan kompensasi sebagai ganti rugi yakni biaya rumah duka dan pemakaman atas putrinya itu. Dengan ganti rugi itu, sekolah mengklaim telah bertanggung jawab secara keseluruhan."Biaya rumah duka abadi di Daan Mogot, biaya kuburan dianggap Rp 36 juta sudah selesai. Hadir di pemakaman dianggap sudah memberikan dukungan moril. Sekolah berkoar-sekolah itu dianggap kompensasi sudah bertanggung jawab secara keseluruhan," kata Asip di Kompleks San Diego Hills, Karawang, Jawa Barat, Kamis (14/4).
Advertisement
Asip juga kesal pemilik sekolah dan guru olahraga, Ronaldo tidak memiliki itikad baik untuk sekedar mengucapkan belasungkawa dan minta maaf kepada pihak keluarga. Tapi, saat acara-acara di sekolah, pemilik sekolah masih rutin hadir."Nyawa anak saya bukan nyawa seekor kucing. Guru olah raga dan pemilik sekolah tak pernah minta maaf ke kita. Pemilik sekolah giliran ada acara seperti grand lauching hadir, murid mati pura-pura enggak tau," sesalnya.Tak hanya itu, dia menyesalkan kelalaian dan kurangnya pengawasan pihak sekolah terhadap anak muridnya. Padahal seharusnya, untuk sekolah taraf internasional, syarat operasional renang dengan 15 anak harus diawasi dengan minimal 3 pengawas.Sedangkan, Global Sevilla hanya ada 1 guru dan itu pun guru olahraga umum sehingga ia tidak memiliki kemampuan dan pengetahuan soal pertolongan darurat tenggelam."Melanggar kurikulum, mana boleh renang jadi pelajaran wajib. Katanya ada penjaga kolam, CCTV, lalu kelas 3 dianggap sudah gede. Kebijakan 15 orang dijaga 1 guru, sekarang duduk manis. Setelah kejadian ini, CCTV baru dipasang," terangnya.Alhasil, demi mencari keadilan keluarga memutuskan untuk membongkar makam Gabriella. Makam dibongkar sekitar pukul 11.00 WIB. Terlihat pula, satu meja dengan foto-foto Gaby terpampang.Saat dibongkar, Ayahanda Gaby, Asip terlihat tak kuasa menahan kesedihan saat makam anaknya dibongkar dengan alat berat. Setelah dibongkar, 4 orang pengurus makam mengangkat peti jenazah Gaby sekitar pukul 11.20 WIB. Kemudian, dimasukkan ke dalam tenda untuk dilakukan autopsi oleh tim.Saat ini, jenazah Gaby tengah diautopsi. Keluarga Gabby dan awak media pun sedang menunggu hasil autopsi.
Advertisement
Dari hasil sementara, lanjut Asip, meskipun sudah sekitar 7 bulan dimakamkan, tubuh Gaby masih dalam kondisi baik dan laik untuk diambil sampel untuk kemudian diuji di laboratorium. Asip menuturkan ada beberapa bagian dalam tubuh Gaby yang dijadikan sampel yaitu, jantung, otak dan bagian dalam lain."Kata dokter forensik sih fisiknya masih bagus. Ada beberapa sampel yang akan diambil untuk dicek di lab forensik. Seperti jantung otak dan bagian-bagian dalam yang akan diambil. Dan bagian dalamnya kata dokter forensik tadi masih layak untuk dipakai menguji hasil tes forensik," tandasnya.Ditambahkannya, dari hasil autopsi ini diharapkan menjadi pembuktian bahwa Gaby tewas karena tenggelam dan bukan epilepsi seperti isu yang beredar saat ini. Sekaligus, lanjut Asip, berkas hukum atas perkara ini dapat disidangkan."Hasil otopsi ya kami harapkan hasilnya bisa sesuai dengan fakta yang ada bahwa anak kami mati karena tenggelam seperti yang kami harapkan," pungkas Asip.