Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Sutiyoso membentuk Dewan Informasi Strategis & Kebijakan (DISK) BIN. Sutiyoso menunjuk nama Banyu Biru sebagai salah seorang Anggota DISK bidang politik. Namun, sungguh sangat disayang, Banyu Biru terkesan jumawa karena ditunjuk menjadi anggota yang seharusnya bersifat rahasia dalam hal apapun.
Buktinya, dengan percaya diri, Politikus yang juga putra dari seniman Eros Djarot itu malah mengunggah SK pengangkatannya ke sosial media Path miliknya. Tak ayal, namanya langsung menjadi buah bibir karena dinilai 'narsis'.
Masyarakat menilai dia gagal paham karena tak mengerti bekerja di badan telik sandi haruslah sangat rahasia. "Banyu biru diundang rapat ke kantor BIN. Gak lama selesai rapat dia bakalan twitpic notulensi hasil rapat," sindir akun @qaqqah menanggapi sikap Banyu Biru.
Wakil Ketua DPR Fadli Zon sangat menyayangkan diunggahnya SK tersebut. Menurut Fadli, urusan tersebut seharusnya dirahasiakan.
"Ya mestinya sih orang namanya intelijen masak SK diungkap ke media massa seperti itu," kata Fadli.
Fadli menjelaskan, BIN merupakan institusi yang berbeda dengan lembaga atau institusi negara lainnya. BIN adalah lembaga negara yang gaya kerjanya tidak dipublis ke publik.
"Saya kira intelijen punya protap menjaga kerahasiaan. Bahkan kerahasiaan itu menjadi salah satu pembeda dengan institusi lain," tegasnya.
Advertisement
Wakil Ketua Komisi I DPR TB Hasanuddin menilai apa yang dilakukan oleh Banyu Biru itu sangat menyedihkan. "Postingan agen intelijen baru hasil rekrutan BIN yang bernama Banyu Biru, yang kemudian mem-posting SK pengangkatannya di media sosial Path benar-benar menyedihkan," kata TB Hasanuddin.
Seharusnya, lanjut Hasanuddin, seseorang yang direkrut jadi intel sebelum diberikan SK ditatar terlebih dahulu. Para agen-agen rahasia negara tersebut dilatih atau dikursus, diberi pengetahuan dasar soal intelijen, prosedur kerja termasuk juga kode etik intelijen.
Bukan malah mengumbar jati dirinya sebagai intelijen yang seharusnya menjadi rahasia. Setelah semuanya dilalui dengan baik, baru kemudian dilakukan penyumpahan dan terakhir baru diberi SK.
"Inilah suramnya wajah intel kita, di saat bangsa ini sedang membutuhkan aparat intelijen yang tangguh, profesional dan berdedikasi tinggi dalam rangka menghadapi gerakan teroris yang semakin masif dan brutal," jelas Hasanuddin.
"Tapi kita malah disuguhi aparat intel yang kolokan, membuka identitas dirinya ke publik bahwa dia adalah agen intelijen. Dia tidak sadar bahwa perbuatannya itu dapat membahayakan dirinya, dan telah melanggar kode etik serta sumpah intelijen," tambahnya.
Politikus PDIP itu sudah mendapatkan laporan bila komunitas intelijen menyesalkan kasus ini bisa terjadi. Komisi I menyarankan agar BIN betul-betul bisa menyusun dan memperkuat personel BIN agar mampu melaksanakan tugasnya dengan lebih baik lagi.
"Isi BIN dengan aparat intelijen profesional, tangguh dan berdedikasi tinggi demi bangsa dan negara," tukasnya.
Advertisement
Sementara itu, Kepala BIN Sutiyoso pun angkat bicara. Mantan Gubernur DKI itu mengakui telah menunjuk Banyu Biru menjadi anggota DISK BIN.
"(Banyu Biru) yang menunjuk ya saya kan," kata Sutiyoso. Meski demikian, Sutiyoso mengatakan penunjukan itu bisa saja dievaluasi ulang jika diperlukan.
"Tapi (penunjukan) ini bisa saja keliru kan. Semua personel BIN itu perlu dievaluasi baik yang struktural maupun nonstruktural. Ini kan, masukan bagus. Kami jadi cepat tahu bahwa oh orang ini tidak cocok untuk tugas di intelijen," ujarnya.
Dia menuturkan tugas Banyu di BIN yakni bekerja di dalam perangkat kerja Dewan Analisis Intelijen yang dalam tanggungjawabnya tidak bekerja sendirian. Sutiyoso menegaskan akan menindaklanjuti beredarnya surat pengangkatan Banyu sebagai DISK BIN di media sosial. Dia juga menegaskan tindaklanjut tersebut yakni dilakukan dengan pencopotan jabatan atau sanksi terhadap Banyu.
"Ya, kalian (media) nanti bisa tahu kira-kira keputusan saya apa kan," tutupnya.