Revitalisasi Besar-besaran Keraton Surakarta Terancam Molor, Ini Penyebabnya

Revitalisasi tahap dua ini menyasar hampir seluruh area Keraton Surakarta.

Arie Sunaryo
Oleh Arie Sunaryo - Reporter
Revitalisasi Besar-besaran Keraton Surakarta Terancam Molor, Ini Penyebabnya
Keraton Surakarta Gelar Wilujengan pertanda dimulainyaa revitalisasi besar-besaran. (Merdeka.com/Arie Sunaryo)

Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat melakukan revitalisasi besar-besaran. Revitalisasi tahap kedua ini ditandai dengan acara wilujengan di Sasana Maligi, Selasa (21/7/2026).

Selain Raja Paku Buwono (PB) XIV Hangabehi, turut hadir Pelaksana Pelestarian Pengembangan dan Pemanfaatan Kawasan Cagar Budaya Keraton Solo KGPH Panembahan Agung Tedjowulan, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Koes Moertiyah Wandansari (Gusti Moeng), Ketua Eksekutif LDA KPH Eddy Wirabhumi, serta jajaran Sentana Dalem dan abdi dalem.

Gusti Moeng, revitalisasi kali ini sangat luas, membentang dari area depan hingga kawasan dalam keraton. Di antaranya  meliputi Pagelaran, Sitinggil, Museum, Bangsal Pradonggo, Sasana Handrawina, Pakubuwanan, Langen Katong serta Keraton Kilen yang luasnya sekitar 2 hektare.

"Revitalisasi kali ini sangat luas. Dari Pagelaran, museum dan yang paling luas Keraton Kilen, itu luasnya 2 hektare," ujar Gusti Moeng.

Proyek revitalisasi Keraton Solo yang dibiayai APBN terancam molor karena akses ke sejumlah bangunan vital masih tertutup gembok. Namun Gusti Moeng memastikan jika pihaknya akan bersikap tegas. Ia mengancam akan membuka paksa pintu-pintu yang tidak kunjung dibuka oleh kubu PB XIV Purbaya.

"Kalau mereka enggak mau membuka, ya kita akan buka. Sebetulnya kan masalah ditutup itu kan kita udah selalu ngomong gitu, untuk dibuka," tandasnya.

Dikatakan Moeng, hingga saat ini area yang belum bisa diakses meliputi Keputren, Keraton Kilon, Ndalem Ageng, hingga Sino Renggo. Total ada 5 building di kawasan itu yang masuk paket revitalisasi.

Gusti Moeng menyebut sudah 5 bulan membujuk agar kunci diserahkan, namun tidak digubris. Padahal menurutnya, Keraton Solo adalah milik dinasti, bukan milik pribadi, dan tanggung jawabnya ada di LDA.

Selain fisik, revitalisasi ini juga menyasar penataan SDM abdi dalem dan sentana dalem. Soal anggaran, Gusti Moeng mengaku tidak mengetahui nominalnya karena sepenuhnya dikelola pusat.

"Total ada 13 titik yang akan disentuh, termasuk 5 building di area Keraton Kilen dan Sino Renggo. Manusianya yang perlu ditata kembali, yang perlu juga dibekali, dan terutama pastinya kami libatkan adalah sentana dalem," jelas Gusti Moeng.

Menurutnya, pelibatan sentana dalem menjadi kunci agar nilai-nilai keraton tidak luntur. Di sisi lain, LDA juga menyoroti pentingnya penegakan aturan adat. Gusti Moeng menyayangkan masih adanya aktivitas di area keraton yang tidak sesuai pakem, seperti 'caos dhahar' yang dilakukan tengah malam oleh sekelompok orang.

"Padahal caos dhahar itu di keraton itu ya ada waktunya. Ada harinya, ada waktunya," tegasnya.

Terkait akses bangunan yang masih tertutup, LDA menyatakan akan membuka sendiri untuk kepentingan inventarisasi pusaka dan kelancaran revitalisasi.

Rekomendasi