Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Profil

Badan Intelijen Negara

Profil Badan Intelijen Negara | Merdeka.com

Badan Intelijen negara (BIN) adalah lembaga nonkementerian pemerintah RI yang bertugas di bidang intelijen. BIN secara resmi berganti nama menjadi Badan Intelijen Negara pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000. Sementara cikal bakal BIN sudah ada sejak bulan Agustus 1945, pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

Republik Indonesia membentuk badan intelijen pertama kali dengan nama Badan Istimewa. Badan ini dipimpin oleh Kolonel Zulkifli Lubis dan beranggotakan 40 mantan tentara pembela tanah air (Peta). Anggota Badan Istimewa adalah lulusan Sekolah Intelijen Militer Nakano yang didirikan pada tahun 1943.

Pada tahun 1946, Badan Istimewa berganti nama menjadi lembaga Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) yang melakukan aktivitas intelijensi dan bahkan operasi luar negeri. BRANI kemudian bergabung dalam lembaga bernama Badan Pertahanan B yang menyatukan seluruh badan intelijen di bawah komando Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Nama badan intelijen Indonesia berubah lagi menjadi BISAP (Badan Informasi Staf Angkatan Perang) pada tahun 1952 di bawah pimpinan T.B. Simatupang. Pada tahun yang sama, Mohammad Hatta menerima tawaran pelatihan dari CIA Amerika Serikat untuk melakukan latihan terhadap anggota badan intelijen Indonesia.

Pada tahun 1952-1958 ada banyak badan intelijen pada masing-masing lembaga sehingga Presiden Soekarno menyatukan semuanya dalam sebuah lembaga yang dinamakan Badan Koordinasi Intelijen (BKI). Pada 10 November 1959, BKI berganti nama menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI). Setelah peristiwa 1965, presiden Soeharto mengubah nama BPI menjadi STI (satuan Tugas Intelijensi).

Kemudian pada 1966, Soeharto mendirikan KIN (Komando Intelijen Negara) yang bertanggung jawab langsung kepala Soeharto. Setahun setelahnya, pada 22 Mei 1967, Soeharto mengubah KIN menjadi BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) yang dikepalai oleh Mayjen Soedirgo. Pada tahun 1983, BAKIN diperluas menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS), namun tugasnya kembali dikurangi oleh Presiden Soeharto pada tahun 1993 menjadi Badan Intelijen ABRI (BIA).

Selanjutnya pada tahun 2000, BAKIN berubah nama menjadi BIN (Badan Intelijen Negara) sampai sekarang. Dengan begitu, sejak tahun 1945 sampai sekarang, organisasi intelijen negara Indonesia telah berubah nama sebanyak enam kali.

Susunan organisasi dari BIN antara lain adalah: Kepala, Wakil Kepala, Sekretariat Utama, Deputi yang terdiri atas berbagai bidang, antara lain bidang Luar Negeri, bidang Dalam Negeri, bidang Kontra Intelijen, bidang Ekonomi, bidang Teknologi, bidang Komunikasi dan Informasi, bidang Pengolahan dan Produksi. Susunan lainnya adalah Inspektorat Utama, Staf Ahli dalam berbagai bidang, antara lain: bidang Ideologi, bidang Politik, bidang Hukum, bidang Sosial Budaya, bidang Pertahanan dan Keamanan, dan Unit Intelijen Wilayah. Sejak 19 Oktober 2011, kepala BIN dijabat oleh Marciano Norman.

Riset dan analisis oleh: Kun Sila Ananda

Profil

  • Nama Lengkap

    Badan Intelijen Negara

  • Alias

    BIN

  • Agama

  • Tempat Lahir

  • Tanggal Lahir

    1945-00-00

  • Zodiak

    -

  • Warga Negara

  • Biografi

    Badan Intelijen negara (BIN) adalah lembaga nonkementerian pemerintah RI yang bertugas di bidang intelijen. BIN secara resmi berganti nama menjadi Badan Intelijen Negara pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pada tahun 2000. Sementara cikal bakal BIN sudah ada sejak bulan Agustus 1945, pasca proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia.

    Republik Indonesia membentuk badan intelijen pertama kali dengan nama Badan Istimewa. Badan ini dipimpin oleh Kolonel Zulkifli Lubis dan beranggotakan 40 mantan tentara pembela tanah air (Peta). Anggota Badan Istimewa adalah lulusan Sekolah Intelijen Militer Nakano yang didirikan pada tahun 1943.

    Pada tahun 1946, Badan Istimewa berganti nama menjadi lembaga Badan Rahasia Negara Indonesia (BRANI) yang melakukan aktivitas intelijensi dan bahkan operasi luar negeri. BRANI kemudian bergabung dalam lembaga bernama Badan Pertahanan B yang menyatukan seluruh badan intelijen di bawah komando Menteri Pertahanan Amir Sjarifuddin. Nama badan intelijen Indonesia berubah lagi menjadi BISAP (Badan Informasi Staf Angkatan Perang) pada tahun 1952 di bawah pimpinan T.B. Simatupang. Pada tahun yang sama, Mohammad Hatta menerima tawaran pelatihan dari CIA Amerika Serikat untuk melakukan latihan terhadap anggota badan intelijen Indonesia.

    Pada tahun 1952-1958 ada banyak badan intelijen pada masing-masing lembaga sehingga Presiden Soekarno menyatukan semuanya dalam sebuah lembaga yang dinamakan Badan Koordinasi Intelijen (BKI). Pada 10 November 1959, BKI berganti nama menjadi Badan Pusat Intelijen (BPI). Setelah peristiwa 1965, presiden Soeharto mengubah nama BPI menjadi STI (satuan Tugas Intelijensi).

    Kemudian pada 1966, Soeharto mendirikan KIN (Komando Intelijen Negara) yang bertanggung jawab langsung kepala Soeharto. Setahun setelahnya, pada 22 Mei 1967, Soeharto mengubah KIN menjadi BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) yang dikepalai oleh Mayjen Soedirgo. Pada tahun 1983, BAKIN diperluas menjadi Badan Intelijen Strategis (BAIS), namun tugasnya kembali dikurangi oleh Presiden Soeharto pada tahun 1993 menjadi Badan Intelijen ABRI (BIA).

    Selanjutnya pada tahun 2000, BAKIN berubah nama menjadi BIN (Badan Intelijen Negara) sampai sekarang. Dengan begitu, sejak tahun 1945 sampai sekarang, organisasi intelijen negara Indonesia telah berubah nama sebanyak enam kali.

    Susunan organisasi dari BIN antara lain adalah: Kepala, Wakil Kepala, Sekretariat Utama, Deputi yang terdiri atas berbagai bidang, antara lain bidang Luar Negeri, bidang Dalam Negeri, bidang Kontra Intelijen, bidang Ekonomi, bidang Teknologi, bidang Komunikasi dan Informasi, bidang Pengolahan dan Produksi. Susunan lainnya adalah Inspektorat Utama, Staf Ahli dalam berbagai bidang, antara lain: bidang Ideologi, bidang Politik, bidang Hukum, bidang Sosial Budaya, bidang Pertahanan dan Keamanan, dan Unit Intelijen Wilayah. Sejak 19 Oktober 2011, kepala BIN dijabat oleh Marciano Norman.

    Riset dan analisis oleh: Kun Sila Ananda

  • Pendidikan

  • Karir

  • Penghargaan

Geser ke atas Berita Selanjutnya