Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah selesai melakukan investigasi penyebab jatuhnya pesawat AirAsia QZ8501 di Selat Karimata pada 28 Desember 2014 lalu. Hasil investigasi ini diperoleh dari rekaman keadaan pesawat sebelum jatuh dari Flight Data Recorder (FDR).Plt Kasubkom Investigasi Kecelakaan Penerbangan KNKT Kapten Nurcahyo menjelaskan kronologis kejadian jatuhnya pesawat yang membawa 162 penumpang dan awak pesawat. Hal ini diawali oleh retakan solder pada electronic module pada rudder travel limiter unit (RTLU) yang lokasinya berada pada vertical stabilizer.Kerusakan ini akhirnya menyebabkan munculnya peringatan (master cauton). Akibatnya pesawat rute Surabaya menuju Singapura ini jatuh ke laut.Pada Pukul 06.01 WIB rekaman di FDR mencatat, adanya gangguan kerusakan rudder travel limiter (RTL). Gangguan ini juga mengaktifkan electronic centralized aircraft monitoring (ECAM).Kemudian pilot melakukan sejumlah antisipasi untuk mengendalikan pesawat. Gangguan ini terjadi sampai tiga kali dan masih bisa dikuasai oleh pilot. KNKT menyebut, gangguan ini bukan sesuatu yang bisa membahayakan penerbangan.Kemudian malapetaka muncul pada Pukul 06.15 WIB, gangguan yang lebih parah terjadi. Akan tetapi, pilot tidak melakukan antisipasi serupa seperti yang dilakukan sebelumnya. "The same aircraft, the same Pilot in command (PIC) pada tanggal 25 Desember juga mengalami kerusakan yang sama. Namun diperbaiki di engineer di darat," kata Cahyo.Penanganannya adalah dengan me-reset circuit breaker dari flight augmentation computer (FAC). Cahyo tidak menyebut apakah pilot mencabut CB tersebut, namun indikasinya adalah adanya reset pada komponen itu.Tindakan tersebut mengaktikan tanda peringatan kelima yang memunculkan pesan di ECAM berupa Auto FLT FAC 1 FAULT dan keenam yang memunculkan pesan di ECAM berupa kerusakan pada FAC 1 dan 2. Dua komputer di pesawat ini dinyatakan rusak."Kemudian auto pilot dan auto thrust tidak aktif. Sistem kendali fly by wire pesawat berganti dari normal law ke alternate law di mana beberapa proteksi tidak aktif," tuturnya.Pilot kemudian tidak bisa mengendalikan pesawat lagi. Bahkan pesawat sampai berguling hingga 54 derajat. Kemudian selama 9 detik, ada kekosongan input dari 2 kendali pesawat.KNKT juga menyebut jika pilot dan kopilot tidak kompak dalam mengendalikan pesawat yang sudah rusak tersebut. "Kami melihat ada komunikasi yang nggak efektif, saat satu meminta pull down, yang satu push down. Kendali pesawat tidak saling terkait. Di mana kemudi 1 dan 2 tidak terhubung, jadi pilot saling tidak tahu melakukan apa," jelas Cahyo."Kalau ada input pada kendali secara bersmaaan maka akhirnya penjumlahan. Bila ditarik 5 dan didorong 5 hasilnya jadi 0. Ini yang menyebabkan kekosongan input dan menyulitkan pilot karena tidak tahu sebelah melakukan apa," lanjut dia.Setelah itu tiba-tiba ada input yang membuat pesawat naik ke atas atau pitching up. Pesawat naik ke ketinggian 38 ribu kaki dan sudah berada di luar kemampuan pilot untuk recover dan akhirnya miring hingga 104 derajat.Pesawat akhirnya turun ke bawah hingga pada ketinggian 29 ribu kaki berada pada posisi stabil sampai akhirnya kemudian secara perlahan jatuh ke laut. Menurut Cahyo, badan pesawat saat jatuh dalam posisi sejajar dengan laut."Itu turunnya 12 ribu feet per menit. Jadi waktu dari 29 ribu kaki hingga sampai pesawat jatuh waktunya sekitar 2,5 menit. Sampai akhir, dua-duanya (kapten pilot dan kopilot) masih terus berusaha mengontrol pesawat," terang dia.Akhirnya, pesawat jatuh sekitar Pukul 06.20 WIB di laut Jawa.
Detik-detik AirAsia QZ8501 jatuh, sempat miring hingga 104 derajat
Sempat terjadi miskomunikasi antara Pilot dan kopilot saat pesawat mengalami kerusakan.
Rekomendasi