Biasanya orang dimakamkan dengan dibalut dengan kain kafan atau dengan jas. Namun itu tidak berlaku bagi Ganif Aryanto (50) warga Duwet, Sleman seorang biker motor trail. Sebelum meninggal pada Sabtu (20/6) sore, dia berpesan pada istri dan teman-temannya agar saat dia meninggal, dia dimakamkan dengan pakaian kebesarannya sebagai seorang biker motor trail.Dia dalam peti, jenazah Popo, begitu sapaan akrabnya, tampak lengkap menggunakan pakaian motor trail berwarna merah corak hitam. Tangannya menggunakan sarung tangan hitam memeluk kitab Injil dadanya. Sementara kakinya menggunakan sepatu boot hitam yang biasa digunakannya saat ngetrail.
Sang Istri, Helly Barniati mengatakan sebenarnya tidak ada permintaan khusus dari suaminya sebelum meninggal. Hanya saja dia yakin suaminya akan lebih bahagia jika mengetahui jenazahnya disemayamkan dengan pakaian kesayangannya."Nggak ada wasiat khusus sebenarnya, cuma saya dan teman-temannya kemarin ngobrol, kayaknya suami saya akan lebih bahagia kalau dia dimakamkan menggunakan pakaian trail," katanya pada merdeka.com di RS Bethesda, Minggu (21).Menurut istrinya, beberapa bulan sebelum meninggal ada teman Popo yang ingin meminta pakaian milik Popo, tapi Popo tidak mau memberikan. Dia merasa sayang dengan barang-barangnya sehingga tidak ingin memberikan kepada orang lain.
"Suami saya nggak mau, pada sudah ada beberapa yang diminta temannya. Dia itu sayang banget dengan barangnya. Saat suami saya meninggal saya ingat itu, dan akhirnya saya putuskan, biar barang kesayangannya tetap bersama dia," terangnya.Popo sendiri sudah senang melaju dengan motor trail sejak 2010 lalu. Sejak kecil dia sudah menggeluti olahraga down hill dengan menggunakan sepeda."Dulu itu sepeda, itu dari kecil. Dia baru ikut ngetrail itu tahun 2010. Dia nyaman sekali dengan kegiatan ini, sampai lupa waktu dan umur," ujarnya.Popo sendiri meninggal karena penyakit kanker yang dideritanya. Dia mulai sakit sejak tiga bulan lalu. Meski dia sakit, namun dia menyempatkan ngetrack bareng dengan teman-temannya."Dua bulan lalu dia masih ngetrack. Padahal sudah sakit sejak tiga bulan ini," tambahnya.
Advertisement
Di rumah duka RS Bethesda, ratusan bikers yang merupakan teman-teman Popo datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Bagi mereka, Popo adalah sosok orang tua, sahabat sekaligus guru yang mau bergaul dengan teman-temannya yang masih muda."Mas Popo itu meski sudah tua, tapi mau bergaul dengan kami yang masih muda. Saling bertukar pengalaman dan ilmu," kata Angga, salah seorang biker yang dekat dengan Popo.Seusai ibadah digelar, jenazah Popo diberangkatkan ke pemakaman Blunyah Gede, Mlati, Sleman. Jenazah berangkat dengan diiringi konvoi para biker.