Tentara Viet Cong menggelar serangan puncak untuk menghancurkan basis-basis pertahanan Amerika Serikat dan Vietnam Selatan. Serangan yang digelar sejak awal Maret 1975 ini membuat AS memutuskan untuk menggelar operasi evakuasi terbesar sepanjang sejarah.Operasi ini diberi nama Operation Frequent Wind. Untuk melakukannya, AS mengerahkan seluruh pasukan dan armadanya untuk membawa ribuan pengungsi, baik warga AS, Vietnam Selatan maupun warga asing lainnya yang bermukim di Saigon.Untuk melakukannya, pemerintah AS mempersiapkan empat opsi. Opsi pertama adalah evakuasi dengan menggunakan pesawat komersial dari Tan Son Nhut dan bandara lain di seluruh Vietnam Selatan. Kemudian opsi kedua menggunakan pesawat militer dari bandara yang sama.Opsi berikutnya adalah evakuasi melalui laut dengan menggunakan pelabuhan Saigon. Dan terakhir, evakuasi dengan menggunakan helikopter menuju Kapal Perang AL AS di Laut China Selatan.Persiapan operasi evakuasi besar-besaran ini dimulai sejak 1 April 1975, para pejabat AS di bawah kedutaan menggelar survei dan mempersiapkan bangunan-bangunan untuk pendaratan heli. Beberapa pesawat komersial pun dipersiapkan untuk membawa warga mereka dari Vietnam.Awal hingga pertengahan April, operasi berlangsung lancar. Meski begitu, sempat diwarnai kecelakaan pesawat yang mengangkut seluruh pengungsi dan membunuh 153 orang di dalamnya. Kondisi itu membuat militer AS memutuskan menghentikan pengoperasian pesawat C-5, di saat bersamaan penggunaan pesawat C-141 dan C-130 juga mulai dikurangi.Tak hanya AS, pesawat-pesawat militer AS dari sejumlah negara lain, termasuk Indonesia juga dikerahkan untuk mengevakuasi warga mereka dari Vietnam Selatan. Apalagi, tentara Viet Cong semakin mendekat ke perbatasan Saigon.Jelang akhir April, berbagai hambatan mulai terjadi, di mana pemerintah Filipina mulai menolak menerima pengungsi Vietnam. Hanya 2.500 pengungsi yang diterima, dan sisanya harus dibawa ke negara lain. Tak hanya itu, Otoritas Penerbangan Federal AS menghentikan penerbangan komersial menuju Vietnam Selatan. Alhasil, hanya operasi militar yang bisa dikerahkan untuk mengangkut seluruh pengungsi.Mendekati akhir April, pergerakan pasukan Viet Cong semakin dekat dengan perbatasan kota Saigon. Kondisi itu membuat Kedutaan Besar AS di Vietnam Selatan mendesak agar proses evakuasi dilakukan segera.Namun, masih ada 45 ribu orang yang meminta dievakuasi, 5 ribu di antaranya adalah warga AS. Mereka khawatir, jika tak segera angkat kaki dari negara itu maka akan menjadi sasaran tembak tentara Viet Cong.Tepat 29 April, tembakan artileri maupun roket mulai menghujani pusat Kota Saigon, termasuk Lanud Tan Son Nhut yang dipakai untuk menerbangkan seluruh pesawat evakuasi. Serangan udara juga semakin massif meski pesawat tempur AS terus berusaha melindungi pergerakan para pengungsi.Meski begitu, proses evakuasi berjalan sangat efektif, di mana korban jiwa sangat minimal. Hanya dua Petugas Pengamanan Kedutaan USMC terbunuh dalam sebuah serangan roket, mereka adalah Kopral Charles McMahon Jr dan Kopral Darwin Judge. Kemduian, dua kru udara heli CH-45 diperkirakan tewas usai terjatuh di tengah laut.Evakuasi dari dalam kedutaan mencapai 72 sortis dari 122 sortis yang dilakukan di seluruh Vietnam Selatan. Seluruh proses ini mendapat dukungan penuh dari Angkatan Udara maupun Angkatan Laut. Di mana melibatkan heli milik USAF/USMC, heli TACAIR, heli tempur 24 AH-1J, heli tempur AC-130, Heli EC-130, heli KC-135 tanker, dan 2 HC-130 SAR.Saking padatnya jumlah pengungsi di kapal induk membuat komandan kapal memutuskan membuat sebagian besar heli ke laut. Tindakan ini dilakukan agar para pengungsi memiliki ruang cukup banyak untuk ditempati.Dalam 19 jam, 81 heli telah membawa lebih dari 1.000 warga AS dan sekitar 6 ribu warga Vietnam menuju kapal induk di lepas pantai Vietnam. Akhirnya, tepat pukul 7.52 pagi waktiu setempat, heli terakhir mengudara dari kedutaan besar menuju ke laut. Sedangkan Presiden Vietnam Selatan Nguyen Van Hieu melarikan diri ke Taiwan.Selang beberapa jam kemudian, tank Vietnam Utara menerobos pagar Istana Kepresidenan. Komandan mereka, Kolonel Bui Tin menerima penyerahan diri Jenderal Duong Van Minh. Perang Vietnam pun berakhir.
Operasi terbesar & terakhir AS di Vietnam jelang kejatuhan Saigon
Masifnya serangan tentara Viet Cong membuat AS memutuskan untuk menggelar evakuasi terbesar dalam sejarah. Ini kisahnya.
Advertisement
Rekomendasi