Depok larang Tugu Cornelis Chastelein karena dianggap penjajah

Selain menjadi peringatan bagi Chastelein, tugu itu juga mempunyai arti titik nol Kota Depok.

Angga Yudha Pratomo
Oleh Angga Yudha Pratomo - Reporter
Depok larang Tugu Cornelis Chastelein karena dianggap penjajah
Tugu Cornelis Chastelein. ©2014 Merdeka.com

Pembangunan Tugu Cornelis Chastelein di depan Rumah Sakit Harapan, Jalan Pemuda, Depok, dilarang Pemerintah Kota Depok. Yayasan Lembaga Cornelis Chastelein (YLCC) menyebut, pelarangan itu tidak berdasarkan alasan yang jelas.Salah seorang pengurus YLCC, Yano Jonathans mengaku ide pembuatan tugu itu sebenarnya sudah direncanakan sejak 2002 lalu dan sudah terwujud pada awal Juni 2014. Namun sayangnya, tugu itu malah dilarang berdiri oleh Pemkot Depok.Yano menceritakan, di tengah pembangunan tugu, tiba-tiba ada petugas dari Pemkot Depok yang datang dan melarang pembangunan tugu untuk dilanjutkan. Alasannya, mereka menganggap Cornelis Chastelein merupakan penjajah dari Belanda dan bukan pahlawan."Setengah jalan kami dipanggil. Kata pemkot, Chastelein penjajah atau pahlawan? Saya bilang dia (Chastelein) penjajah. Tapi dia penjajah yang humanis," kata Yano kepada merdeka.com di kantor YLCC, Depok, Selasa (8/9).Yano melanjutkan, Chastelein merupakan penjajah yang mempunyai sifat bukan seperti penjajah. Pasalnya, Chastelein telah membebaskan 12 keluarga budak untuk bekerja kepadanya. Lalu, tanah di Depok juga dibelinya dan dijadikan perkebunan."Ini penting kita untuk kenang jasanya," ujarnya.Terkait pelarangan pendirian tugu oleh Pemkot Depok, kata Yano, pihaknya makin terheran-heran. Dia menduga bahwa pihak yang melarang hanya mengetahui soal sejarah yang sepenggal-sepenggal.Padahal, menurut Yano, pembuatan tugu ini selain menjadi peringatan bagi Chastelein juga mempunyai arti lain. "Tugu juga merupakan titik nol Kota Depok," terangnya.Masih terkait pembangunan tugu, Yano menceritakan, sebenarnya tugu itu telah dibuat pertama kali tahun 28 Juni 1914 atau peringatan 200 tahun meninggalnya Chastelein. Namun, tugu itu malah dihancurkan pada 1960."Maka itu, pas tugu ini dibuat tahun ini (2014) sepertinya pas untuk memperingati 300 tahun meninggalnya Chastelein," terangnya.Chastelein merupakan orang Belanda yang datang ke Indonesia pada umur 17 tahun untuk bekerja pada VOC. Setelah bekerja selama 19 tahun, dia mengundurkan diri karena tak sepaham dengan pemimpin VOC yang baru.Setelah pensiun, dia membeli lahan di pinggiran Jakarta yang kemudian dikenal dengan Kota Depok. Di sana, dia mempekerjakan 150 budak yang didatangkan dari berbagai wilayah.Namun, para budak itu tak diperlakukannya layaknya seorang budak. Sebelum meninggal dunia, Chastelein telah menuliskan wasiat agar lahan yang dibelinya itu diberikan kepada para budak tersebut.

Rekomendasi