Mengintip makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa

Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol wafat 6 November 1854 di Lota Minahasa.

Tommy A Lasut
Oleh Tommy A Lasut - Reporter
Mengintip makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa
Makam Tuanku Imam Bonjol di Minahasa. ©2014 Merdeka.com/Tommy

Jika berada di Kota Manado, tak ada salahnya jika kita mengunjungi ataupun berziarah ke makam salah satu pahlawan nasional Tuanku Imam Bondjol yang berada di pinggiran kota, tepatnya di Desa Lotta Kecamatan Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara. Dari Manado, perjalanan hanya akan memakan waktu sekitar setengah jam dengan jarak tempuh 9 Km dari pusat Kota.Memasuki lokasi, halaman yang luas dengan pemandangan taman yang asri menyambut kehadiran setiap pengunjung. Tak lama menaiki anak tangga, pengunjung akan tiba di bangunan utama makam berwarna putih dengan arsitektur khas Minang lengkap dengan atap bagonjong. Dalam bangunan tersebut makam Ulama yang sangat ditakuti penjajah Belanda ini berada.Dikelilingi rantai pembatas, makam sang pemimpin kaum Paderi terbuat dari keramik putih memberi kesan kesucian jiwa sang pahlawan. Batu nisan yang terdapat di bagian kepala makam tertulis Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional. Lahir tahun 1774 di Tanjung Bungo/Bonjol Sumatera Barat, wafat tanggal 6 November 1854 di Lota Minahasa, dalam pengasingan pemerintah kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan tanah air, bangsa dan negara.Sementara, di bagian dinding bangunan terdapat lukisan Tuanku Imam Bonjol sedang mengangkat pedang di atas kuda putih. Terdapat beberapa makam tua pengikut pahlawan asal Minangkabau ini di sisi kiri bangunan utama."Itu makam pengikutnya yang terbuat dari batu yang disusun," ujar Fatma Popa, salah satu penjaga makam kepada merdeka.com, Jumat (23/5).Di bagian belakang bangunan, kira-kira 100 meter menuruni anak tangga, terdapat sebuah batu dengan permukaan landai yang merupakan tempat salat sang ulama. Tak jauh dari batu tersebut ada sebuah sumur kecil tempat mengambil air wudhu. Lokasi ini berada tepat di pinggir sungai Malalayang. Menariknya di atas batu terdapat bekas jejak kaki berukuran besar yang diyakini merupakan jejak kaki salah satu penyiar agama Islam di tanah air ini.Sayangnya, kondisi bangunan pelindung terlihat memprihatinkan dan butuh perhatian pemerintah.

Rekomendasi