Terpidana Kasus suap wisma atlet Palembang Muhammad Nazaruddin kembali mengungkapkan aliran dana Hambalang yang sedang dalam tahap penyelidikan oleh KPK. Nazaruddin membeberkan aliran dana dari proyek Hambalang dibagi-bagikan untuk kongres pemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Demokrat."Kalau soal dana di Hambalang kan memang KPK sudah menyelidik tentang biaya kongres. Memang biaya kongres itu tim suksesnya Anas bagi-bagi uang, memang kan uangnya untuk uang terima kasih, untuk uang transportasi," ujar Nazaruddin usai diperiksa sebagai saksi istrinya Neneng Sri Wahyuni dalam kasus dugaan korupsi PLTS di Kemenaketrans, Rabu (3/10).Nazaruddin mengatakan tim sukse Anas saat itu membagi-bagikan uang terimakasih dan uang transport kepada para anggota kongres Demokrat di masing-masing daerah. Untuk uang transport, dikatakan Nazar nilainya mencapai USD 15 ribu sampai USD 20 ribu. Hal ini, lanjut Nazaruddin, yang harus didalami KPK darimana uang itu berasal. Nazaruddin pun berspekulasi jika memang uang tersebut dari Umar Arsal yang saat ini menjadi Ketua DPP Demokrat, maka KPK harus mencocokKan dari mana uang tersebut, apakah sama dengan harta kekayaan yang Umar Arsal miliki."Sekarang kan yang ditanya KPK uang itu dari mana, kecuali memang Pak Umar Arsal punya uang USD 500 ribu, satu juta dolar, nanti kan tinggal dicocokkan sama KPK dari mana, apakah sesuai dengan kekayaannya. Kalau nggak sesuai kan dari mana duitnya," papar Nazaruddin.Nazaruddin menambahkan uang untuk kongres saat itu diambil dari stafnya Yulianis di Permai Grup. Yulianis mempersiapkan uang tersebut yang nantinya akan dipanggil sekretaris Nazaruddin, Evita Ompita atau staf ahlinya Nuril Anwar. Dari keduanya, uang tersebut diserahkan ke koordinator-koordinator di wilayah salah satunya Koordinator Sulawesi, yakni Umar Arsal."Kalau keuangan yg kongres itu yang megang uangnya Yulianis. Ditaroh di kamarnya Yulianis, itu yang ngambil kalau nggak Eva, Nuril, Rahmat, Reza, uang ini diambil diserahkan ke koordinator. Salah satu koordinatornya yakni koordinator Sulawesi itu Umar, nanti diserahkan ke Umar, eva itu hanya melihat saja, tapi Umar ngasihkan ke DPC-DPC, teknisnya," jelas Nazaruddin.Sebelumnya, KPK tengah mengadakan penyelidikan baru Hambalang dengan meminta keterangan beberapa saksi. Hari ini KPK meminta keterangan dari istri Nazaruddin Neneng Sri Wahyuni. Hingga saat ini Neneng belum juga selesai menjalani pemeriksaan di KPK.Pihak-pihak lainnya yang diperiksa yakni Ketua DPP Demokrat Umar Arsal, mantan sekretaris Nazaruddin Evita Ompita dan juga mantan staf ahlinya Nuril Anwar. Saat kemarin Umar diperiksa, dirinya mengaku memang bertanggung jawab atas pemenangan Anas di Sulawesi. Bahkan, dia menjadi ketua pemenangan Anas Urbaningrum untuk wilayah Sulawesi. Dirinya mengetahui bagaimana dana transport yang diberikan kepada peserta kongres."Misalnya, semua pemasukan yang didapatkan oleh tim sukses Anas hanya melalui satu pintu, yakni Muhammad Nazaruddin. Penyaluran dana transportasi itu karena saya kenal dengan Ketua DPD, DPC se-Sulawesi dan yang menyerahkan dana transport adalah staf Nazaruddin," ujar Umar Arsal kemarin, Selasa (3/10).Menanggapi hal ini, Nazaruddin kembali menjawab; "Umar Arsal bilang ada bagi-bagi uang tapi untuk transport. Tapi kan untuk ngasih transportasinya USD 15 ribu. Sekarang kan KPK tinggal nyari uang USD 15 ribu itu dari mana, satu DPC. Kalau kali 320 DPC berapa uangnya?" Tandas Nazaruddin.
Penyelidikan baru Hambalang, Nazar ungkap aliran dana kongres PD
Nazaruddin membeberkan aliran dana dari proyek Hambalang dibagi-bagikan untuk kongres pemenangan Anas Urbaningrum.
Rekomendasi