Rais Syuriyah PWNU Lampung, KH Shadiqul Amin, menegaskan bahwa Rais Aam menempati posisi tertinggi dalam struktur jam’iyah Nahdlatul Ulama (NU). Menurutnya, Rais Aam memiliki kewenangan moral, keulamaan, serta peran strategis dalam menjaga arah perjuangan organisasi.
Ia menjelaskan, NU dibangun di atas tradisi keilmuan, adab, dan kepemimpinan yang berakar pada nilai-nilai Ahlussunnah wal Jama'ah. Prinsip tersebut menjadi landasan penting dalam menjaga persatuan dan kesinambungan khittah NU di seluruh tingkatan kepengurusan.
"Kepatuhan kepada Rais Aam bukan sekadar kepatuhan administratif atau formalitas struktural, tetapi merupakan fondasi kesinambungan khittah NU. Ketaatan ini merupakan wujud adab jam’iyah yang telah diwariskan oleh para masyayikh NU sejak awal berdirinya organisasi," kata KH Shadiqul Amin dalam keterangan tertulis, Senin (15/12).
Dalam tradisi NU, lanjut dia, hubungan antara Rais Aam dan jajaran syuriyah di daerah dibangun atas dasar ta’zim kepada ulama, penghormatan terhadap sanad keilmuan, serta komitmen menjaga kemaslahatan umat.
"Rais Aam adalah simbol pemersatu warga NU di tengah beragam pandangan dan dinamika yang muncul dalam organisasi," ujarnya.
Karena itu, KH Shadiqul Amin mengingatkan agar setiap perbedaan pendapat disikapi melalui mekanisme musyawarah dan tetap berada dalam koridor kepemimpinan yang sah.
"Sikap ini menjadi kunci agar NU tetap kokoh sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang berkhidmat untuk agama, bangsa, dan negara," katanya.
Ia menambahkan, kepatuhan kepada Rais Aam merupakan bagian dari tanggung jawab moral seluruh pengurus NU di semua tingkatan. Menurutnya, menjaga kepatuhan tersebut berarti menjaga kesinambungan perjuangan NU sebagaimana diwariskan para pendiri.
"Kepatuhan ini tidak menutup ruang kritik dan dialog, namun harus dilandasi niat menjaga persatuan, bukan mempertajam perbedaan," ungkapnya.
KH Shadiqul Amin menilai dinamika organisasi merupakan hal yang wajar, namun persatuan dan marwah jam’iyah harus tetap ditempatkan di atas kepentingan kelompok maupun pribadi. Ia juga mengajak warga NU, khususnya di Lampung, untuk terus memperkuat nilai-nilai dasar NU, yakni tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleran), dan i’tidal (tegak lurus).
"Nilai-nilai ini hanya dapat dijaga dengan sikap patuh pada kepemimpinan tertinggi organisasi serta kesediaan menahan diri dari sikap yang berpotensi memecah belah ukhuwah nahdliyah," katanya.
Ia meyakini, dengan berpegang pada prinsip tersebut, NU akan tetap menjadi rumah besar yang teduh bagi seluruh warganya serta terus berperan dalam merawat persatuan umat dan keutuhan bangsa.
Advertisement
Sejak Awal NU Dirancang Sebagai Jam’iyah Ulama
Sementara itu, Pengasuh Pondok Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon, KH Imam Jazuli, sebelumnya menyampaikan bahwa sejak awal NU dirancang sebagai jam’iyah ulama yang menjunjung tinggi kepemimpinan keilmuan, bukan sekadar struktur administratif.
"NU bukan organisasi manajerial seperti korporasi. NU adalah jam’iyah ulama yang kepemimpinannya dipimpin oleh Syuriyah dan Rais Aam. Di situlah letak marwah dan otoritas tertinggi organisasi," ujarnya.
Advertisement
Dinamika Internal PBNU
Menurut KH Imam Jazuli, penyelesaian dinamika internal PBNU perlu dilakukan dengan kembali berpegang pada kepemimpinan Syuriyah dan Rais Aam. Ia menyebut mayoritas warga Nahdliyin memahami bahwa keputusan Syuriyah merupakan keputusan tertinggi dalam hierarki organisasi.
"Menegakkan supremasi Syuriyah berarti menegakkan khittah NU. Karena itu, semua pihak harus menghormati dan taat atas keputusan Rais Aam. Mengabaikan keputusan Syuriyah sama artinya dengan mengabaikan ushul organisasi itu sendiri," pungkasnya.