Novel Baswedan, lahir di Semarang pada 22 Juni 1977, adalah mantan polisi dan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Ia dikenal karena keberaniannya dalam mengungkap kasus-kasus korupsi besar di Indonesia. Sebelum ketenarannya, Novel menjalani karier yang gemilang di kepolisian dan KPK, yang membentuknya menjadi sosok yang dihormati.
Novel Baswedan menyelesaikan pendidikan menengahnya di SMA Negeri 2 Semarang pada tahun 1995. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Akademi Kepolisian (Akpol) dan berhasil lulus pada tahun 1998. Pendidikan yang baik ini menjadi fondasi bagi kariernya di dunia kepolisian.
Setelah lulus, Novel memulai kariernya di kepolisian pada tahun 1999 dan bertugas di Polres Bengkulu hingga 2004. Ia menjabat sebagai Kasat Reskrim pada tahun 2004-2005. Selama bertugas, ia terlibat dalam berbagai kasus, termasuk kasus penembakan tersangka pencurian sarang walet, di mana ia dinyatakan tidak bersalah dalam sidang etik Polri.
Advertisement
Latar Belakang Pendidikan dan Karier
Setelah masa tugasnya di Polres Bengkulu, Novel ditugaskan di Bareskrim Mabes Polri dari tahun 2005 hingga 2007. Pada Januari 2007, ia bergabung dengan KPK sebagai penyidik dari kepolisian. Ia diangkat menjadi penyidik tetap KPK pada tahun 2014 setelah Mabes Polri menarik seluruh penyidik kepolisian dari KPK.
Selama di KPK, Novel dikenal sebagai penyidik yang berani dan tidak pandang bulu dalam mengungkap kasus-kasus korupsi besar. Beberapa kasus besar yang ditanganinya antara lain:
- Kasus korupsi simulator SIM Polri, yang menyeret sejumlah petinggi Polri.
- Kasus korupsi Wisma Atlet, yang melibatkan Angelina Sondakh.
- Kasus suap cek pelawat dalam pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, yang menjerat Nunun Nurbaeti.
- Kasus jual beli perkara Pemilukada yang melibatkan Akil Mochtar.
Novel juga berperan penting dalam membawa pulang Muhammad Nazaruddin dari pelariannya di Kolombia. Namun, pada Juni 2021, Novel termasuk dalam daftar 75 pegawai KPK yang tidak lulus Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) dan kembali ke Polri sebagai ASN.
Advertisement
Wakil Kepala Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara
Kapolri Jenderal Listyo Sigit membentuk Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara dan menunjuk mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan sebagai wakil kepala.
Anggota Satgassus Yudi Purnomo Harahap menyampaikan, fokus kerja Satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara adalah mendampingi kementerian agar dapat meningkatkan penerimaan negara dalam berbagai sektor, untuk mendukung pembangunan yang dilakukan pemerintah.
“Adapun satgassus Optimalisasi Penerimaan Negara dipimpin langsung oleh Herry Muryanto selaku kepala dan Novel Baswedan selaku Wakil Kepala. Dengan beranggotakan mantan Pegawai KPK yang sudah berpengalaman dalam hal menangani kasus korupsi dan ahli dalam tata kelola pemerintahan yang baik. Sebelumnya mereka tergabung dalam Satgassus Pencegahan Korupsi,” tutur Yudi dalam keterangannya, dikutip Sabtu (14/6).
Menurutnya, selama enam bulan ini Satgassus telah berkordinasi dengan berbagai kementerian, seperti Kementerian Keuangan, Kementerian Perhubungan, Kementerian ESDM, termasuk yang terbaru adalah Kementerian Kelautan dan Perikanan.
“Di mana tim tersebut turun langsung melihat situasi lapangan di Pelabuhan kawasan Jawa Timur pada tanggal 7-9 Mei 2025 dan Pelabuhan Benoa Bali 11-13 Juni 2025,” jelas dia.
Ketua Tim Satgassus Sektor Perikanan, Hotman Tambunan menambahkan, di sektor perikanan sendiri masih ada potensi untuk meningkatkan pendapatan negara. Sebab itu, Satgassus bersinergi dan mendampingi para pemangku kepentingan lintas instansi, lembaga, serta kementerian pusat dan daerah, yaitu
Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Perhubungan, dan Pemerintah Daerah Provinsi.
“Satgassus berusaha untuk memetakan masalah dan menawarkan, serta mengawal solusi agar PNBP di sektor perikanan meningkat,” kata Hotman.