WASHINGTON – Perdana Menteri Kanada Mark Carney mengeluarkan peringatan tegas mengenai lanskap geopolitik global yang tengah berubah. Dalam pidatonya di Forum Ekonomi Dunia (WEF) pada Selasa (21/1), Carney menyatakan bahwa dunia kini memasuki era Rivalitas Kekuatan Besar, di mana asumsi lama tentang keamanan melalui kepatuhan tidak lagi berlaku.
Carney menyoroti bahwa tatanan berbasis aturan internasional semakin memudar, memungkinkan negara-negara kuat untuk bertindak sesuai kehendak mereka, sementara negara-negara yang lebih lemah harus menanggung konsekuensinya. Peringatan ini disampaikan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan persaingan antarnegara besar yang semakin terbuka.
Menurut Carney, strategi untuk “ikut arus” atau berkompromi demi menghindari konflik tidak akan berhasil dalam menghadapi realitas baru ini. Ia menekankan bahwa pendekatan kepatuhan pasif demi ketenangan jangka pendek justru tidak relevan lagi di tengah dinamika kekuatan global yang terus bergeser.
Advertisement
Advertisement
Perdana Menteri Mark Carney secara eksplisit menyatakan bahwa dunia kini berada dalam era Rivalitas Kekuatan Besar, sebuah kondisi yang sering kali diingatkan hampir setiap hari. Dalam konteks ini, tatanan berbasis aturan internasional yang selama ini dipegang teguh mulai kehilangan relevansinya.
Carney mengamati bahwa negara-negara kuat kini cenderung melakukan apa yang mereka mampu, tanpa terikat oleh norma atau aturan yang berlaku. Situasi ini menyebabkan negara-negara yang lebih lemah seringkali menjadi korban dari dinamika kekuasaan tersebut.
Menanggapi logika ini, banyak negara mungkin merasa terdorong untuk mengadopsi sikap “ikut arus”, menyesuaikan diri, atau mengakomodasi demi menghindari masalah. Namun, Carney dengan tegas memperingatkan bahwa strategi kepatuhan semata tidak akan lagi menjamin keamanan atau menghindari konflik.
Advertisement
Ia menilai bahwa strategi berkompromi demi ketenangan jangka pendek justru tidak lagi relevan. Terlebih lagi, di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik dan persaingan antarnegara besar yang semakin terbuka dan tanpa tedeng aling-aling, pendekatan pasif semacam itu hanya akan memperburuk keadaan.
Advertisement
Meskipun Kanada selama ini berpartisipasi dalam apa yang disebut tatanan internasional berbasis aturan, Perdana Menteri Carney mengakui bahwa tatanan tersebut sebagian besar merupakan “kisah semu”. Ia menyoroti adanya jurang antara retorika dan kenyataan dalam penerapan hukum internasional.
Carney menjelaskan bahwa negara-negara terkuat cenderung membebaskan diri dari aturan ketika hal itu menguntungkan mereka. Selain itu, aturan perdagangan seringkali ditegakkan secara asimetris, dan hukum internasional diterapkan dengan tingkat ketegasan yang berbeda-beda, tergantung pada siapa yang dituduh atau siapa korbannya.
Ia juga mengakui bahwa banyak negara, termasuk Kanada, selama ini menjalani “ritual” sistem tersebut dan cenderung menghindari mengungkap ketidaksesuaian antara narasi dan praktik. Ada semacam “kesepakatan diam-diam” untuk tidak menyoroti kelemahan sistem ini.
Advertisement
Namun, menurut Carney, kesepakatan diam-diam semacam itu kini tidak lagi bisa dipertahankan. Ia menegaskan bahwa pendekatan tersebut sudah tidak lagi efektif dan perlu diubah untuk menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.
Sumber: AntaraNews