Pengabdian dr Mangku Sitepoe, 24 Tahun Mengobati Pasien Tanpa Pungutan Biaya

Rabu, 4 September 2019 08:25 Reporter : Yunita Amalia
Pengabdian dr Mangku Sitepoe, 24 Tahun Mengobati Pasien Tanpa Pungutan Biaya dr Mangku Sitepoe. ©2019 Merdeka.com

Merdeka.com - Mengenakan baju putih, laki-laki paruh baya itu berdiri di depan pintu. Senyumnya semringah saat saya tiba jam setengah satu siang. Waktu yang cukup lama ketika mengetahui pria bernama dr Mangku Sitepoe sudah tiba di Klinik Pratama Bhakti Sosial Kesehatan Santo Tarsisius, Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Barat, sejak pukul 12.00 WIB.

"Ke mana saja?" kalimat itu langsung terlontar Mangku kepada merdeka.com, Selasa (4/9).

Seperti tak sabar ingin segera berbagi cerita bagaimana ia berpraktik sebagai dokter selama 24 tahun tanpa imbalan dari pasien. Dengan jalan sembari memegang tongkat, Mangku mengajak saya ke ruangan tempat biasa para dokter berkumpul.

Ruang dokter cukup luas dengan meja besar di tengah, tiga unit komputer, dan satu lemari. Sembari meletakkan tongkatnya di meja, Mangku mulai bercerita.

Tahun 1995, ia bersama empat rekannya, Iwan Darmansyah seorang farmakolog lulusan Universitas Indonesia, Pastor Bertens Guru Besar fakultas kedokteran Atmajaya Jakarta, Gunawan pengusaha dari Semarang, Wijanarko bekas Staf Pribadi Presiden Soekarno, melakukan kegiatan sosial berupa pengobatan gratis. Kebetulan, mereka satu anggota jemaat gereja Santo Yohanes Penginjil. Sebagaimana satu organisasi melakukan kegiatan, pasti ada evaluasi. Begitu pula Mangku dan kawan-kawan.

Dalam rapat evaluasi, satu rekan Mangku bernama Iwan Darmansyah menilai kegiatan sosial akan terasa jika dilakukan secara berkesinambungan. Sementara kegiatan pengobatan gratis yang dilakukan mereka dirasa tidak seperti yang ia harapkan.

"Kalau berobat gratis sekedar kasih obat. Bagaimana seterusnya, orang yang sakit saat kita tidak lakukan kegiatan (tidak bisa berobat)?" kata Mangku.

Yayasan gereja tempat Mangku dan empat kawannya kemudian memfasilitasi bangunan untuk dijadikan klinik di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. September, 1995, klinik pertama pun beroperasi. Mangku mengatakan tidak ada tarif kepada pasien saat klinik pertama beroperasi. Segala keperluan klinik mulai dari obat-obatan, kursi, meja, dibeli dengan uang pribadi mereka dan para donatur.

Untungnya, rekan Mangku bernama Gunawan punya kantong tebal sekaligus pengusaha obat-obatan dan bersedia menjadi partisipan.

dr mangku sitepoe

"Saya pernah belajar di Denmark. Di sana, kalau obat 6 bulan jelang expired date itu diberikan ke mereka yang tidak mampu. Saya ceritakan ini ke dia, dan dia mau partisipasi. Karena sesungguhnya setiap individu yang sehat pasti punya hasrat alturism," kata dia.

Saat itu, Mangku mengingat, sedikitnya ratusan pasien datang ke klinik. Jumlah itu membuat Mangku dan beberapa rekannya kewalahan. Namun, mereka tak mau lelah karena kembali ingat tujuan mendirikan klinik.

Hingga tahun 2003, pihak yayasan mengeluarkan peraturan tarif Rp 2.500 karena adanya informasi bahwa sejumlah pasien nakal menjual kembali obat-obatan dari hasil berobat mereka di klinik.

"Uang Rp 2.500 itu sama sekali bukan untuk kami," tandasnya.

Tahun berjalan, jumlah pasien pasang surut. Jika per tahun Mangku menangani ratusan pasien setiap kali praktik, belakangan jumlah pasien terus menurun. Tepatnya saat BPJS dilakukan secara nasional.

"Rata-rata tinggal 75 pasien per praktik," kata Mangku sembari menerka.

Perubahan jumlah pasien juga berlaku dengan perubahan tarif. Selama 2003 hingga 2015, yayasan mengambil kebijakan menaikkan tarif bagi pasien yakni Rp 10.000. Kalaupun pasien tak sanggup membayar, tak apa. Toh, berapa pun tarifnya mereka tidak digaji dari uang tersebut.

Mangku mengatakan, ia dan kawan-kawan memang sengaja tidak mengambil keuntungan apa pun dari praktik mereka demi rasa sosial, alturism. Lagi pula, finansial mereka tidak akan kekurangan karena tetap punya penghasilan di luar praktik klinik yang saat ini sudah berkembang menjadi St Yohanes Penginjil dan Tarsisius. Selain itu, ia dan rekan-rekannya tidak setiap hari praktik di klinik.

Ia pun bertekad tidak akan 'pensiun' berpraktik membantu mengobati masyarakat tidak mampu meski hanya tersisa ia dan satu rekannya, Pastor Bertens yang masih hidup. [lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini