Ketua Gerakan Pakai Masker, Sigit Pramono mengatakan, perlu adanya kesepakatan dan kekompakan seluruh pemimpin dunia dalam upaya mengatasi pandemi secara global.
Menurutnya, 'lock down' dengan beragam istilah penghalusannya, terbukti paling efektif memutuskan rantai penularan. Hanya saja harus diterapkan secara disiplin dan ketat.
"Dan selalu ada 'godaan' atau tekanan secara politik untuk menjaga keseimbangan dengan kepentingan ekonomi, khususnya masyarakat golongan bawah, kelompok yang tidak punya penghasilan tetap bulanan, dan sektor informal," katanya dalam keterangan tertulisnya, Minggu (25/7).
Bagaimanapun juga penerapan lock down yang masih menimbulkan celah bocor akan menjadi titik penularan baru, dan virus akhirnya akan menyebar lagi. Hal ini berlaku secara global. Akibat pengendalian pandemi tidak terkoordinasi dengan baik, virus hanya berhenti menyebar di satu negara, sedangkan di negara lain malah marak.
"Coba saja perhatikan apa yang terjadi akhir-akhir ini. Beberapa bulan terakhir India, Indonesia dan beberapa negara Asia lainnya kasus positif meledak. Eropa justru mereda. Bahkan mereka berani menyelenggarakan Piala Eropa. Sekarang Asia mulai mereda, tetapi Eropa dan Amerika konon mulai naik lagi," tegas dia.
"Begitu terus menerus bergantian. Secara negara per negara juga yang terjadi mirip seperti itu. Karena 'lock down' atau berbagai istilah yang dihaluskan, jika diterapkan setengah hati dan tidak konsisten pada akhirnya hasilnya tidak optimal dan bersifat sementara. Terkendali tetapi hanya sementara," imbuh Sigit.
Naik atau turunnya kasus Covid-19, lanjut dia, memang amat dipengaruhi oleh kedisiplinan menjalankan pembatasan mobilitas. Pengalaman di dalam negeri dapat dijadikan contoh.
"Jika ada daerah yang ketat, kasus turun. Tetapi jika ada daerah yang tidak ketat kasus naik. Demikian terus menerus hanya saling bergantian. Contoh yang paling nyata di Bali sempat turun, tetapi karena daerah yang lain tidak ketat, kasus di Bali sekarang mulai naik lagi. Jadi seperti lingkaran setan," urai Sigit.
Oleh karena itu, perlu konsensus dan kesepakatan semua pemimpin baik pusat maupun daerah terutama gubernur, bupati dan walikota. Bahkan perlu konsensus global untuk melakukan pengendalian pandemi ini.