Pemerintah Kota (Pemkot) Mojokerto, Jawa Timur, baru-baru ini menggelar aksi kerja bakti di Kelurahan Mentikan. Kegiatan ini bertujuan untuk memitigasi potensi bencana di daerah aliran sungai Brangkal yang melintasi wilayah tersebut. Inisiatif ini merupakan bagian dari sinergi program "Indonesia ASRI" dan "Rukun Tetangga (RT) Berseri" guna menjaga kebersihan lingkungan.
Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, atau akrab disapa Ning Ita, secara langsung meninjau lokasi kerja bakti tersebut. Dalam peninjauannya, ia mengidentifikasi adanya lima titik kritis abrasi di sepanjang tanggul Sungai Brangkal. Kondisi abrasi ini dikategorikan sedang hingga parah, menimbulkan kekhawatiran serius bagi keselamatan warga.
Potensi bencana ini sangat mengancam ribuan warga yang bermukim di kawasan padat penduduk sepanjang sempadan sungai. Mengingat cuaca ekstrem dan intensitas curah hujan tinggi di wilayah hulu, risiko tanggul rembes atau jebol menjadi sangat besar. Oleh karena itu, Pemkot Mojokerto mengambil langkah proaktif untuk mencegah dampak yang lebih luas.
Advertisement
Advertisement
Wali Kota Ika Puspitasari menyoroti lima titik abrasi yang terpantau dalam kondisi sangat mengkhawatirkan. Titik-titik tersebut menunjukkan kerusakan tanggul yang signifikan akibat gerusan air sungai. Abrasi ini berpotensi besar menyebabkan keretakan atau bahkan jebolnya tanggul, terutama saat debit air meningkat drastis.
Ancaman ini menjadi semakin nyata mengingat pola cuaca ekstrem yang kerap melanda wilayah hulu sungai. Curah hujan yang tinggi dapat meningkatkan volume dan kecepatan aliran air, memperparah kondisi abrasi yang sudah ada. Jika tanggul jebol, dampaknya akan sangat luar biasa bagi permukiman penduduk yang berada di balik tanggul tersebut.
Ribuan jiwa yang tinggal di sepanjang sempadan sungai Brangkal berada dalam risiko tinggi menghadapi bencana hidrometeorologi. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dan tindakan cepat dari berbagai pihak terkait. Pemkot Mojokerto terus berupaya mencari solusi terbaik untuk melindungi warganya dari ancaman ini.
Advertisement
Advertisement
Terkait revitalisasi tanggul sungai, Ning Ita menjelaskan bahwa tujuh sungai besar yang melintasi Kota Mojokerto merupakan aset di bawah naungan pemerintah pusat. Hal ini berarti Pemkot Mojokerto tidak memiliki otoritas penuh untuk melakukan revitalisasi secara mandiri. Kewenangan perbaikan dan pemeliharaan berada pada pihak pengelola aset, yakni Perum Jasa Tirta I yang merupakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang bergerak di bidang pengelolaan sumber daya air.
Sebagai langkah strategis, Pemkot Mojokerto akan segera bersurat kembali kepada pihak Jasa Tirta, selaku pengguna aset sungai. Surat ini bertujuan untuk mendesak percepatan proses revitalisasi tanggul yang rusak. Koordinasi intensif dengan pemerintah pusat menjadi kunci untuk mengatasi masalah abrasi ini secara efektif.
Selain upaya koordinasi dengan pusat, Pemkot Mojokerto juga menggalakkan kegiatan kerja bakti rutin setiap hari Jumat. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi pemantik kesadaran masyarakat untuk terus menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan. Partisipasi aktif warga sangat penting dalam upaya mitigasi bencana di Kota Mojokerto.
Advertisement
Ning Ita berharap, dengan adanya kegiatan kerja bakti ini, masyarakat menjadi tergerak untuk menjaga lingkungan masing-masing. Kesadaran kolektif dalam menjaga kebersihan sungai dan lingkungan sekitar dapat mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat adalah kunci utama dalam menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman.
Sumber: AntaraNews