Pemkab Berau Prioritaskan Pelestarian Sejarah dalam Pembangunan Gunung Tabur: Kekayaan Budaya untuk Masa Depan

Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan di Kecamatan Gunung Tabur, mengintegrasikan pelestarian sejarah Gunung Tabur dengan pengembangan ekonomi dan infrastruktur demi masa depan.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Pemkab Berau Prioritaskan Pelestarian Sejarah dalam Pembangunan Gunung Tabur: Kekayaan Budaya untuk Masa Depan
Pemerintah Kabupaten Berau berkomitmen pada pembangunan berkelanjutan di Kecamatan Gunung Tabur, mengintegrasikan pelestarian sejarah Gunung Tabur dengan pengembangan ekonomi dan infrastruktur demi masa depan. (AntaraNews)

Pemerintah Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, menegaskan komitmennya untuk memprioritaskan pelestarian sejarah dalam setiap aspek pembangunan Kecamatan Gunung Tabur. Kawasan ini memiliki latar belakang kesultanan yang kaya, menjadikannya pusat perhatian dalam upaya pengembangan daerah. Penekanan ini bertujuan untuk menjaga warisan budaya yang telah terbentuk sejak awal abad ke-19.

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menyatakan bahwa pembangunan Gunung Tabur tahun ini akan lebih maju, meliputi sektor pelestarian sejarah, ekonomi kreatif, UMKM, pelayanan dasar, hingga infrastruktur. Pernyataan ini disampaikan di Tanjung Redeb pada Jumat, menegaskan visi pembangunan holistik. Setiap kecamatan di Berau memiliki keunggulan tersendiri, dan Gunung Tabur menonjol dengan peninggalan sejarahnya.

Komitmen Pemkab Berau tidak hanya sebatas pembangunan fisik, tetapi juga menjaga tradisi dan adat istiadat kesultanan yang masih lestari. Hal ini menjadikan Gunung Tabur sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya yang menarik. Pelestarian ini diharapkan dapat memberikan daya tarik berkelanjutan bagi pengunjung dan generasi mendatang.

Mengenal Jejak Sejarah Kesultanan Gunung Tabur

Kesultanan Gunung Tabur memiliki sejarah panjang yang bermula dari pemecahan Kesultanan Berau. Raja Berau ke-9, Aji Dilayas, memiliki dua permaisuri yang putranya berselisih tahta, sehingga kerajaan dibagi menjadi dua, yaitu Gunung Tabur dan Sambaliung. Kesultanan Gunung Tabur kemudian tumbuh menjadi kerajaan besar yang pernah mengalami masa kejayaan, dengan wilayah kekuasaan mencakup sebagian besar Kalimantan Utara hingga berbatasan dengan Brunei Darussalam.

Pada masa Perang Dunia II, Istana Gunung Tabur sempat hancur akibat dibom oleh sekutu pada tahun 1945. Namun, pemerintah daerah membangun kembali istana tersebut pada tahun 1990. Kemudian, pada tahun 1992, istana ini diresmikan sebagai Museum Batiwakkal.

Museum Batiwakkal kini berfungsi sebagai tempat penyimpanan peninggalan bersejarah seperti meriam, singgasana, dan sejumlah barang kuno lainnya. Keberadaan museum ini menjadikan Gunung Tabur sebagai salah satu kawasan tujuan wisata sejarah yang penting di Kalimantan Timur.

Mengembangkan Potensi Wisata dan Budaya Berbasis Tradisi

Kecamatan Gunung Tabur semakin diminati sebagai tujuan wisata sejarah dan budaya berkat tradisi yang terpelihara dengan baik. Beberapa tradisi yang masih lestari antara lain Baturunan Parau, yaitu tradisi gotong royong menurunkan perahu ke sungai, serta ritual Manyandru. Tradisi-tradisi dalam kesultanan ini tetap hidup dan berkembang karena mendapat dukungan penuh dari Pemkab Berau.

Selain itu, pengembangan ekonomi juga diintegrasikan dengan pelestarian budaya. Pasar Barambang, yang terletak di tepi sungai dekat Museum Gunung Tabur, telah dikembangkan menjadi pusat kuliner dan budaya. Pasar ini diaktifkan sejak awal tahun 2026 sebagai ruang promosi UMKM, menawarkan kuliner khas Berau, jajanan dari berbagai daerah, dan masakan yang cocok untuk makan malam.

Pasar Barambang buka setiap Sabtu dan Minggu malam, menarik pengunjung untuk menikmati suasana tepi sungai sambil mencicipi aneka hidangan lokal. Inisiatif ini tidak hanya mendukung ekonomi kreatif tetapi juga memperkaya pengalaman wisata budaya di Gunung Tabur.

Komitmen Pemkab Berau untuk Pembangunan Infrastruktur dan Ekonomi

Bupati Berau, Sri Juniarsih Mas, menegaskan bahwa pembangunan di Gunung Tabur akan terus berlanjut pada tahun ini. Komitmen ini mencakup berbagai sektor untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan potensi daerah. "Pemkab Berau komitmen melakukan pembangunan Gunung Tabur agar lebih maju tahun ini, dengan pembangunan mencakup sektor pelestarian sejarah, ekonomi kreatif dan UMKM, pelayanan dasar hingga infrastruktur dasar," ujar Bupati Sri Juniarsih Mas di Tanjung Redeb.

Sejumlah kegiatan fisik telah dirancang untuk mendukung pembangunan ini. "Tahun ini pembangunan di Gunung Tabur terus berlanjut, sejumlah kegiatan fisik yang telah dirancang antara lain pembangunan dan rehabilitasi beberapa ruas jalan, drainase, irigasi, normalisasi sungai, penguatan tebing, peningkatan sistem air minum, serta lanjutan pembangunan TPS 3R," kata Sri Juniarsih. Pembangunan infrastruktur ini diharapkan dapat meningkatkan konektivitas dan fasilitas umum bagi warga Gunung Tabur.

Pengembangan Pasar Barambang juga merupakan bagian dari strategi pembangunan ekonomi. Pasar ini tidak hanya menjadi pusat kuliner dan budaya, tetapi juga wadah bagi UMKM lokal untuk mempromosikan produk mereka. Dengan demikian, pembangunan di Gunung Tabur mengusung konsep holistik yang memadukan pelestarian budaya, pengembangan ekonomi, dan peningkatan infrastruktur dasar.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi