Pedagang daging sapi di Pasar Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, masih memilih untuk tidak berjualan pada Jumat (23/1), meskipun Kementerian Pertanian (Kementan) telah menginstruksikan mereka untuk kembali beraktivitas. Kondisi ini terjadi di tengah aksi mogok dagang yang melanda wilayah Jabodetabek. Para pedagang merasa tidak ada tanggapan konkret dari pemerintah terkait lonjakan harga daging sapi.
Salah satu pedagang, Adiyat, mengungkapkan bahwa mereka telah menanti bantuan dan pengawasan harga dari pemerintah sejak Kamis (22/1) tanpa hasil yang jelas. Kenaikan harga daging sapi per kilogram yang mencapai Rp150 ribu dari sebelumnya sekitar Rp50 ribu menjadi alasan utama para pedagang enggan berjualan. Mereka memilih libur daripada harus merugi.
Aksi mogok ini merupakan respons dari para bandar sapi potong dan pedagang daging di pasar tradisional se-Jabodetabek yang dimulai sejak Kamis (22/1) hingga Sabtu (24/1). Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (DPD APDI) DKI Jakarta menyatakan bahwa langkah ini diambil untuk menyikapi kenaikan harga daging sapi yang membebani masyarakat menengah ke bawah serta pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Advertisement
Advertisement
Para pedagang daging sapi di Pasar Kebayoran Lama menyatakan kekecewaan mereka terhadap minimnya respons pemerintah. Mereka berharap adanya tindakan nyata, bukan hanya imbauan, untuk mengatasi masalah harga. Pedagang seperti Adiyat merasa janji pengawasan harga belum terealisasi.
Situasi ini membuat banyak pedagang memilih untuk tidak membuka lapak mereka. Mereka beranggapan lebih baik tidak berjualan daripada harus menanggung kerugian akibat harga beli yang tinggi dan potensi kesulitan menjual dengan harga yang wajar. Kondisi ini mencerminkan dilema yang dihadapi para pelaku usaha kecil.
Instruksi Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman untuk kembali berdagang tampaknya belum efektif. Pedagang membutuhkan solusi jangka panjang dan dukungan konkret. Mereka menuntut pemerintah untuk serius menangani permasalahan fluktuasi harga daging sapi yang merugikan.
Advertisement
Advertisement
Sepinya penjualan daging sapi di Pasar Kebayoran Lama tentu berdampak langsung pada konsumen. Pembeli seperti Rika mengaku menyayangkan kondisi ini karena membatasi pilihan mereka. Masyarakat harus mencari cara lain untuk memenuhi kebutuhan protein keluarga.
Rika, misalnya, memilih untuk beralih membeli daging ayam atau ikan sebagai alternatif. Konsumen dituntut untuk lebih kreatif dalam mengelola menu masakan sehari-hari. Situasi ini menunjukkan bahwa kenaikan harga daging sapi mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat.
Ketersediaan alternatif protein hewani seperti ayam dan ikan menjadi penyelamat bagi sebagian konsumen. Namun, tidak semua masyarakat memiliki fleksibilitas tersebut. Kondisi ini juga berpotensi meningkatkan permintaan pada produk substitusi, yang mungkin berdampak pada harganya.
Advertisement
Advertisement
Kenaikan harga daging sapi yang signifikan menjadi pemicu utama aksi mogok pedagang. Harga per kilogram di Pasar Kebayoran Lama mencapai Rp150 ribu, melonjak drastis dari harga normal sekitar Rp50 ribu. Lonjakan ini membebani baik pedagang maupun konsumen.
Kementerian Pertanian (Kementan) telah menyatakan akan menindak oknum penggemukan sapi (feedloter) yang terbukti menjual di atas harga yang ditetapkan pemerintah. Langkah ini diharapkan dapat menstabilkan harga di tingkat hulu. Penindakan ini merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk mengendalikan pasar.
Aksi mogok yang diinisiasi oleh DPD APDI DKI Jakarta ini bertujuan untuk menyuarakan aspirasi pedagang dan masyarakat. Mereka berharap pemerintah dapat menemukan solusi yang adil dan berkelanjutan. Penanganan masalah ini memerlukan koordinasi lintas sektor untuk menjamin ketersediaan dan stabilitas harga daging sapi.
Advertisement
Sumber: AntaraNews