Orang Tua Ungkap Dampak Positif Sekolah Rakyat: Anak Lebih Rajin Salat, Mandiri dan Lepas dari Kecanduan HP

Transformasi positif ini dirasakan oleh para orang tua ketika anak-anak mereka kembali ke rumah setelah beberapa bulan belajar di Sekolah Rakyat.

Muhammad Farih Fanani
Oleh Muhammad Farih Fanani - Reporter
Orang Tua Ungkap Dampak Positif Sekolah Rakyat: Anak Lebih Rajin Salat, Mandiri dan Lepas dari Kecanduan HP
Siswa sekolah rakyat (istimewa) (© 2026 Liputan6.com)

Banyak orang tua melaporkan kemajuan signifikan yang dialami anak-anak mereka setelah bergabung dengan Sekolah Rakyat. Selain menjadi lebih rajin dalam melaksanakan salat, siswa-siswa di Sekolah Rakyat juga menunjukkan peningkatan kemandirian dan berhasil mengurangi ketergantungan pada telepon seluler atau gadget.

"Banyak pesan mengharukan yang kami terima dari orang tua. Satu di antaranya, terima kasih anak kami lebih sering salatnya, bahkan mengajak kakak-kakaknya salat," ungkap Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) saat meresmikan 166 Sekolah Rakyat Terpadu yang tersebar di 34 provinsi, di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, pada hari Senin (12/1).

Transformasi positif ini dirasakan oleh para orang tua ketika anak-anak mereka kembali ke rumah setelah beberapa bulan belajar di Sekolah Rakyat. Gus Ipul menambahkan bahwa banyak orang tua yang berbagi cerita tentang anak-anak mereka yang kini mampu bangun pagi dan membantu membersihkan rumah tanpa perlu diminta. Mereka juga tidak lagi bergantung pada gawai atau HP (handphone)

"Terima kasih sekarang anak kami tidak lagi kecanduan handphone. Terima kasih sekarang anak kami tidak lagi menyendiri dan mau bermain dengan teman sekitar di rumah dan lebih percaya diri," kata Gus Ipul mengutip curhatan dari para orang tua.

Siswa Sekolah Rakyat dari Keluarga Kurang Mampu

Dia melanjutkan bahwa siswa di Sekolah Rakyat merupakan anak-anak dari keluarga yang kurang mampu. Banyak dari mereka berasal dari latar belakang yang sangat rentan. Sekitar 60 persen orang tua siswa bekerja sebagai buruh, termasuk buruh harian lepas, kuli bangunan, buruh tani, buruh nelayan, tukang ojek, pencari rumput, hingga pemulung.

"Mereka umumnya berpenghasilan tidak tetap dan 67 persen berpenghasilan di bawah Rp 1 juta per bulan," ungkap Gus Ipul.

Selain itu, sebanyak 65 persen siswa memiliki tanggungan keluarga lebih dari empat orang. Bahkan, dia menambahkan bahwa 454 siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga yang tidak atau belum pernah mendapatkan pendidikan formal. Tercatat, 298 siswa di Sekolah Rakyat sebelumnya mengalami putus sekolah atau tidak lulus. Beberapa dari mereka bahkan sudah terpaksa bekerja pada usia yang sangat muda.

"Kami juga menemukan kenyataan yang lebih sunyi, banyak anak berasal dari keluarga dengan orang tua tunggal dan bahkan mengalami kekerasan dalam rumah tangga," kata Gus Ipul.

Rekomendasi