Muncul Virus Baru Mirip Covid-19, Kemenkes Tunggu Laporan WHO

Kamis, 1 Desember 2022 09:31 Reporter : Supriatin
Muncul Virus Baru Mirip Covid-19, Kemenkes Tunggu Laporan WHO ilustrasi kelelawar. ©AFP

Merdeka.com - Virus baru mirip Covid-19 atau SARS CoV-2 terdeteksi di China selatan. Virus ini dikabarkan lebih berbahaya karena dapat menginfeksi manusia hingga hewan ternak.

Kementerian Kesehatan menanggapi temuan virus baru tersebut. Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan RI, Siti Nadia Tarmizi mengatakan, sedang menunggu laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

"Kita tunggu informasi lebih lanjut dari WHO," kata Nadia lewat pesan elektronik, Kamis (1/12).

2 dari 3 halaman

Temuan Awal

Virus baru mirip Covid-19 ini disebut-sebut berasal dari kelelawar. Virus ini berhasil ditemukan tim ilmuwan China dan Australia.

Awalnya, tim ilmuwan mengambil sampel dari 149 kelelawar yang berada di Provinsi Yunan. Berdasarkan penelitian, tim ilmuwan menemukan beberapa sampel yang terkait erat dengan Sars-Cov-2 dan Sars.

"Ini berarti virus mirip Sars-Cov-2 masih beredar di kelelawar China dan terus menimbulkan risiko kemunculan (wabah)," jelas Profesor Eddie Holmes, ahli biologi evolusi dan ahli virologi di University of Sydney, dikutip dari The Telegraph, Rabu (30/11).

Bahayanya lagi, penelitian menemukan, kelelawar dapat terinfeksi virus itu secara berulang-ulang dalam waktu bersamaan. Kondisi ini menunjukkan kemampuan virus menukar kode genetik untuk membentuk patogen baru yang lebih berbahaya.

"Pesan utama adalah setiap kelelawar dapat menampung banyak spesies virus yang berbeda, kadang-kadang menjadi inang bagi mereka pada saat yang sama," ujar Profesor Jonathan Ball, ahli virologi di University of Nottingham.

Ball kembali menjelaskan virus itu menunjukkan kemampuan untuk menukar kode genetika yang penting bagi ketahanan virus sehingga dapat menimbulkan varian baru.

3 dari 3 halaman

Ancaman Lompatan Virus ke Manusia

Profesor Stuart Neil dari King’s College London menjelaskan penelitian ini dapat memberikan pemahaman baru terkait evolusi dan ekologi virus Corona. Baginya, penelitian ini menunjukkan ancaman penularan virus dari hewan ke manusia masih ada.

Analisis sebelumnya mengungkap setidaknya setiap tahun sekitar 400.000 orang di China dan Asia Tenggara terpapar virus yang disebarkan kelelawar. Dari lima virus berlabel 'virus yang menjadi perhatian', satu virus bernama BtSY2 yang memiliki karakteristik Sars adalah virus yang membunuh 774 orang dan menginfeksi 8.000 orang dalam wabah pada tahun 2003. Sedangkan Sars-Cov-2 menyebabkan pandemi Covid-19 di dunia.

Virus BtSY2 memiliki domain pengikat reseptor yang sangat mirip dengan Sars-Cov-2. Karena sangat mirip, maka virus itu dapat menginfeksi manusia.

"Ini sedekat virus BANAL kelelawar dari Laos, dan virus hewan terdekat yang pernah kami lihat dari China," jelas Profesor Holmes merujuk pada temuan virus itu pada kelelawar di Laos tahun lalu.

Virus Corona baru yang berbahaya itu ditemukan setelah dilakukannya Kongres One Health di Singapura awal bulan November. Dalam kongres itu, para ahli menjelaskan beberapa virus Corona memiliki asal yang sama dengan Sars-Cov-2.

"Kita perlu mengurutkan seluruh genom virus dari virus kelelawar yang bersirkulasi ini, bukan hanya potongan kecil karena mereka bermutasi dan bergabung kembali secara konstan," jelas Profesor Joel Wertheim, ahli biologi evolusi di University of California San Diego.

"Jika kita tidak mengurutkan potongan kecil genom virus kelelawar ini, kita mungkin kehilangan bagian penting yang mengungkapkan asal Sars-CoV-2," tutupnya.

Baca juga:
Kasus Covid-19 di Depok Naik Lagi, Penyebabnya karena Banyak Kegiatan Komunitas
Pelari Joging Tanpa Masker Tulari 39 Orang dengan Omicron di Sebuah Taman
Ilmuwan Temukan Virus Baru Mirip Covid Pada Kelelawar, Bisa Menular ke Manusia
Pakar Menilai Indonesia Terlalu Terburu-Buru Mengakhiri Status Pandemi
Stasiun TV China Sensor Gambar Penonton Piala Dunia Tanpa Masker

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini