Kemenkes Ungkap Hasil Investigasi Kematian Dokter Magang di Kalibata City

Kemenkes mengungkap hasil investigasi terkait meninggalnya seorang dokter internship Rumah Sakit Sentra Medika Depok di Apartemen Kalibata City.

Rifqy Alief Abiyya
Oleh Rifqy Alief Abiyya - Reporter
Kemenkes Ungkap Hasil Investigasi Kematian Dokter Magang di Kalibata City
Jumpa pers Kementerian Kesehatan mengungkap hasil investigasi meninggalnya seorang dokter internship Rumah Sakit Sentra Medika Depok berinisial SZM. (Liputan6.com/ Rifqy)

Kementerian Kesehatan telah mengumumkan hasil dari penyelidikan terkait meninggalnya seorang dokter internship di Rumah Sakit Sentra Medika Depok, yang dikenal dengan inisial SZM, di Apartemen Kalibata City pada tanggal 26 Juli 2026.

Hendra Teja, Inspektur Investigasi dari Inspektorat Jenderal Kementerian Kesehatan, menjelaskan bahwa ada lima aspek yang diteliti selama proses investigasi. Aspek-aspek tersebut meliputi jam kerja, beban kerja, izin sakit atau cuti, lingkungan kerja, serta kondisi kesehatan yang dialami oleh dokter tersebut.

Dalam konferensi pers yang diadakan di Gedung Kemenkes, Jakarta Selatan, pada Rabu (29/7/2026), Hendra menyatakan, "Pertama kita melihat bahwa jam kerja yang dilakukan oleh saudari SZM ini tidak terdapat kelebihan jam kerja." Hal ini menunjukkan bahwa jam kerja yang dilakukan oleh dokter SZM sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Ia menekankan bahwa bagi para dokter internship, jam kerja dibatasi maksimal 40 jam per minggu. Pembatasan ini merupakan langkah perlindungan dari Kemenkes untuk mencegah terjadinya eksploitasi terhadap para dokter yang sedang menjalani internship.

Mengenai beban kerja, Hendra menyampaikan bahwa hasil investigasi menunjukkan tidak ada beban kerja yang berlebihan dalam program internship tersebut. Selain itu, terkait dengan hak cuti, dokter SZM diberikan izin untuk tidak bekerja saat sakit, tanpa adanya kewajiban untuk menggantinya.

Hendra menjelaskan, "Kita mendapatkan informasi ketika beliau sakit diberikan izin untuk tidak masuk. Dan seperti itu, dan tidak terdapat kewajiban untuk mengganti." Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan Rumah Sakit Sentra Medika memberikan perhatian terhadap kesehatan dokter internship.

Selanjutnya, dalam aspek lingkungan kerja, Hendra menyatakan bahwa hasil investigasi menunjukkan bahwa lingkungan kerja dokter SZM di RS Sentra Medika Depok tergolong mendukung. Ia juga menyebutkan bahwa selama menjalani internship, dokter SZM sering mendapatkan konsumsi makanan yang memadai.

"Kita melihat lingkungan kerja beliau itu suportif ketika beliau misalnya sakit, kemudian merasa tidak bisa masuk, kemudian berkomunikasi kepada teman-temannya dan juga pada dokter pendampingnya, itu kita melihat teman-temannya dan dokter pendampingnya itu mendukung," jelasnya. Hal ini menunjukkan bahwa rekan-rekan kerja dan atasan memberikan dukungan yang baik.

Di sisi lain, untuk aspek kelima, yaitu kondisi kesehatan, Kemenkes menemukan adanya masalah kesehatan jiwa yang dialami oleh dokter SZM, yang berbeda dengan aspek lainnya. Hendra mengungkapkan bahwa kondisi ini memerlukan perhatian lebih dari pihak Kemenkes.

Ia menambahkan, "Jadi intinya di sini dari segi jam kerja, beban kerja, izin sakit, cuti, dan lingkungan kerja, kita tidak melihat adanya penyimpangan atau anomali sampai saat ini, ya." Namun, ia menekankan bahwa kondisi kesehatan dokter SZM perlu menjadi perhatian bersama.

Jatuh dari Lantai 18 Apartemen

Baru-baru ini, seorang dokter internship bernama dr. SZM ditemukan meninggal dunia setelah diduga melompat dari lantai 18 Apartemen Kalibata yang terletak di Pancoran, Jakarta Selatan, pada hari Minggu, 26 Juli 2026. Pihak kepolisian segera melakukan penyelidikan untuk mengungkap motif di balik tindakan tragis yang dilakukan oleh korban tersebut.

Kapolsek Pancoran, Kompol Mansur, menyampaikan bahwa berdasarkan hasil penyelidikan awal, diketahui bahwa korban tinggal bersama ibunya di unit apartemen tersebut. Sebelum peristiwa nahas terjadi, sang ibu sempat mengajak korban untuk pergi ke mal, namun ajakan itu ditolak. "Korban tinggal berdua sama ibunya. Saat itu ibunya mengajak pergi ke mal, tetapi korban tidak mau dan tetap di unit," ungkap Mansur saat dihubungi pada hari Senin, 27 Juli 2026.

Setelah ibunya pergi, korban mengunci pintu apartemen dari dalam. Tak lama setelah itu, korban diduga melompat dari jendela apartemen yang berada di lantai 18. "Setelah ibunya pergi, pintu dikunci dari dalam oleh korban. Di situlah korban diduga melompat dari jendela untuk mengakhiri hidupnya," jelasnya. Menurut informasi yang diperoleh, korban sempat tersangkut di balkon sebelum akhirnya jatuh ke bawah.

Pihak kepolisian yang menerima laporan mengenai kejadian tersebut langsung melakukan olah tempat kejadian perkara. Jenazah dr. SZM kemudian dievakuasi ke RS Polri Kramat Jati untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Kasus ini menarik perhatian publik dan menimbulkan berbagai spekulasi mengenai penyebab di balik tindakan yang dilakukan oleh korban.

Rekomendasi