Mitos Warak Ngendok dan cerita asal muasal Kota Semarang

Kamis, 8 Mei 2014 12:03 Reporter : Fariz Fardianto
Mitos Warak Ngendok dan cerita asal muasal Kota Semarang warak ngendog. ©semarangcityheritage.files.wordpress.com

Merdeka.com - Bagi mayoritas warga Kota Semarang, sosok Warak Ngendok hanya dikenal sebagai mainan berukuran raksasa yang kerap diarak keliling jalan raya setiap bulan Sa'ban dalam penanggalan Jawa atau jelang perayaan Dugderan di Pasar Johar yang ada di jantung Kota Lumpia itu.

Namun, tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya Warak Ngendok dahulu kala dikenal sebagai hewan mitologi yang sakti oleh warga Semarang. Bentuknya merupakan perpaduan antara kambing pada bagian kaki, naga pada bagian kepala dan buraq di bagian badannya.

Warak Ngendok sendiri berasal dari dua kata, yakni Warak yang berasal dari bahasa arab 'Wara'I' yang berarti suci. Sedangkan Ngendog sama artinya dengan bertelur. Dua kata itu bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadan kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari Lebaran.

Konon menurut cerita warga, Warak Ngendok sudah hadir sejak awal mula pendirian Kota Semarang. Pastinya kapan sampai sekarang belum ada yang tahu. Bahkan, saat Ki Ageng Pandan Arang mendirikan Kota Semarang dan menjadi Bupati pertama kali, pun hewan mitologi ini pun sudah hadir di tengah masyarakat.

Ki Ageng Pandan Arang sendiri lebih dikenal sebagai Raden Pandanaran. Dialah putra dari pangeran Suryo Panembahan Sabrang Lor yang menjadi Sultan kedua Kesultanan Demak. Raden Pandanaran, menolak tahta Demak karena lebih suka mendalami spiritual.

Namun versi warga Arab yang menetap di Semarang menyebut, Raden Pandanaran adalah saudagar asal Arab, Persia, atau Turki, yang meminta izin kepada Sultan Demak untuk berdagang dan menyebarkan Islam di Pragota yang sekarang disebut sebagai wilayah pemakaman Bergota.

Dalam mensyiarkan agama Islam, dia memadukan unsur kebudayaan lokal seperti Warak Ngendok. Raden Pandanaran memperkenalkan Warak Ngendok ini pertama kali kepada warga Semarang kuno kala itu. Dan sejak saat itu, Warak Ngendok terus dijadikan salah satu maskot Kota Semarang.

Bahkan pada saat Pilwakot tahun 2010 lalu, KPU Semarang menjadikan boneka Warak Ngendok sebagai maskot Pilwalkot Semarang. Dengan kata lain, Warak Ngendok tidak bisa dilepaskan dari cikal bakal pembentukan Kota Semarang pada masa lampau. Saat ini, Warak Ngendok dikenal warga lokal sebagai ikon kota bersama Tugu Muda dan Gedung Perkeretaapian kuno Lawang Sewu.

Menurut penuturan warga asli Semarang, sosok Warak Ngendok digambarkan sebagai seekor naga kecil yang membawa telur. Sri Bekti seorang warga Kampung Kuningan Semarang Utara berkata, Warak Ngendok yang dia tahu bentuknya menyerupai naga kecil yang memiliki empat kaki yang kokoh.

"Warak Ngendok itu selalu ada kalau pas mulai Dugderan. Dia selalu diarak keliling kota dan jadi pusat perhatian bagi warga yang mengunjungi Dugderan," kata perempuan berusia 52 tahun ini, kepada merdeka.com, Kamis (8/5).

Sementara warga Perum Graha Citra Gading, Kelurahan Ngijo Kecamatan Gunungpati, Eko Wahyu Budi lebih mengenal Warak Ngendok sebagai mainan raksasa yang dibuat dari kayu berukuran besar dan dihiasi pernak pernik kertas warna-warni. "Menurut cerita kakek saya, itu dulunya sudah ada pas Pangeran Pandanaran datang ke Semarang," urainya. [hhw]

Topik berita Terkait:
  1. tag
  2. Budaya Indonesia
  3. Mitos
Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini