Misteri Megalit Dongi-Dongi Terungkap, Arkeolog Perkirakan Berusia 1.000 Tahun

Penemuan Megalit Dongi-Dongi di Sulawesi Tengah menarik perhatian arkeolog. Diperkirakan berusia 1.000 tahun, batu besar ini menyimpan jejak peradaban kuno yang misterius dan menjadi bagian penting dari sejarah megalitikum di wilayah tersebut.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Misteri Megalit Dongi-Dongi Terungkap, Arkeolog Perkirakan Berusia 1.000 Tahun
Penemuan Megalit Dongi-Dongi di Sulawesi Tengah menarik perhatian arkeolog. Diperkirakan berusia 1.000 tahun, batu besar ini menyimpan jejak peradaban kuno yang misterius dan menjadi bagian penting dari sejarah megalitikum di wilayah tersebut. (AntaraNews)

Penemuan sebuah megalit di Desa Dongi-Dongi, Sulawesi Tengah, baru-baru ini menjadi sorotan para ahli sejarah dan arkeologi. Objek prasejarah ini diperkirakan memiliki usia yang cukup tua, memberikan petunjuk baru tentang peradaban masa lampau di wilayah tersebut. Ahli Arkeolog Sulawesi Tengah, Iksam Djorimi, telah memberikan estimasi awal mengenai usia penemuan penting ini.

Menurut Iksam Djorimi, megalit yang ditemukan di Dongi-Dongi ini diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun. Estimasi usia ini didasarkan pada pola penyebaran situs megalitikum yang telah dipetakan di Sulawesi Tengah, khususnya dari Lembah Behoa dan Bada hingga ke Lembah Palu. Penemuan ini memperkaya khazanah arkeologi Indonesia, khususnya di bagian timur.

Megalit Dongi-Dongi ini memiliki karakteristik unik dengan pahatan menyerupai wajah manusia, mengingatkan pada Kalamba yang banyak ditemukan di Lembah Napu. Keberadaan megalit ini menunjukkan aktivitas budaya dan kepercayaan masyarakat prasejarah yang kompleks. Penelitian lebih lanjut diharapkan dapat mengungkap lebih banyak detail tentang fungsi dan makna dari megalit tersebut.

Sebuah penemuan arkeologis penting telah terjadi di Desa Dongi-Dongi, Sulawesi Tengah, dengan ditemukannya sebuah megalit berukuran besar. Ahli Arkeolog Sulawesi Tengah, Iksam Djorimi, mengungkapkan bahwa megalit ini diperkirakan berusia sekitar 1.000 tahun. Estimasi ini memberikan gambaran awal tentang periode keberadaan peradaban yang menciptakan artefak tersebut di wilayah ini.

Iksam Djorimi menjelaskan bahwa perkiraan usia 1.000 tahun untuk megalit Dongi-Dongi ini merupakan bagian dari pemahaman yang lebih luas tentang penyebaran situs megalitikum di Sulawesi Tengah. Pola penyebaran menunjukkan bahwa semakin ke arah utara dari Lembah Behoa, usia megalit cenderung semakin muda. Hal ini menempatkan megalit Dongi-Dongi sebagai bagian dari fase yang lebih baru dalam kronologi megalitikum regional.

Penemuan Megalit Dongi-Dongi ini menambah daftar panjang situs-situs prasejarah di Sulawesi Tengah yang kaya akan peninggalan megalitikum. Keberadaannya tidak hanya menjadi bukti fisik peradaban kuno, tetapi juga membuka peluang untuk penelitian lebih mendalam mengenai hubungan antar situs dan evolusi budaya masyarakat prasejarah di pulau Sulawesi.

Penyebaran situs megalitikum di Sulawesi Tengah membentang luas, dimulai dari Lembah Behoa dan Bada di Kabupaten Poso, kemudian meluas ke arah utara hingga mencapai Lembah Palu. Situs-situs megalitikum yang terletak di Lembah Behoa dan Bada, Poso, diperkirakan memiliki usia yang lebih tua, mencapai sekitar 2.000 tahun. Pola ini menunjukkan migrasi atau perkembangan budaya megalitikum dari selatan ke utara.

Seiring pergerakan ke arah utara, seperti yang dijelaskan oleh mantan Wakil Kepala Museum Sulawesi Tengah, Iksam Djorimi, usia megalit cenderung menjadi lebih muda. Ini mengindikasikan bahwa tradisi pembuatan megalit terus berlanjut dan berkembang seiring waktu. Perbedaan usia ini memberikan petunjuk penting tentang dinamika peradaban prasejarah di Sulawesi Tengah.

Di Lembah Palu, jenis megalit yang ditemukan memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan dengan yang ada di Lembah Behoa. Di Lembah Palu, tidak ditemukan Kalamba atau patung seperti yang lazim di Lembah Behoa. Sebaliknya, yang banyak ditemukan adalah lesung batu, seperti yang dapat dilihat di Desa Watunonju, Kabupaten Sigi. Perbedaan ini menunjukkan adaptasi dan variasi dalam praktik megalitikum di berbagai wilayah.

Megalit, atau batu besar, adalah struktur atau monumen prasejarah yang didirikan menggunakan batu berukuran besar, baik tunggal (monolit) maupun susunan. Tradisi megalitikum ini berkembang dari zaman Neolitikum hingga Zaman Perunggu. Megalit Dongi-Dongi merupakan contoh nyata dari peninggalan budaya ini, menampilkan karakteristik yang khas.

Megalit yang ditemukan di Dongi-Dongi berukuran besar dan memiliki pahatan yang menyerupai wajah manusia. Ciri ini sangat mirip dengan batu Kalamba yang banyak ditemukan di Lembah Napu, menunjukkan adanya kesamaan gaya atau pengaruh budaya. Keberadaan pahatan wajah manusia ini seringkali dikaitkan dengan representasi leluhur atau figur spiritual.

Secara umum, megalit memiliki berbagai fungsi penting dalam masyarakat prasejarah. Fungsinya meliputi penanda kubur, tempat untuk ritual keagamaan, atau sebagai sarana pemujaan leluhur. Contoh lain dari megalit meliputi menhir, dolmen, dan sarkofagus. Megalit Dongi-Dongi kemungkinan besar memiliki fungsi serupa, berperan dalam praktik spiritual atau sosial komunitas kuno di wilayah tersebut.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi