Misteri makam yang diyakini ibunda Gajah Mada bergaya Islam

Kamis, 23 April 2015 06:01 Reporter : Ya'cob Billiocta
Misteri makam yang diyakini ibunda Gajah Mada bergaya Islam Makam Dewi Andong Sari di Lamongan. ©2015 Merdeka.com

Merdeka.com - Dalam cerita rakyat di Lamongan disebutkan, Gajah Mada merupakan buah hati Raden Wijaya dengan selirnya bernama Dewi Andong Sari. Meski cerita ini memerlukan penelitian mendalam untuk menguji kebenarannya, makam yang berada di puncak bukit Gunung Ratu, Kecamatan Ngimbang, Lamongan ini diyakini masyarakat sekitar sebagai pusara ibunda Gajah Mada.

Makam tersebut berada di bangunan utama berbentuk rumah yang berada di sebelah kiri jalan kompleks puncak gunung. Pintu masuknya bergaya Jawa dengan dua daun pintu. Begitu masuk ke dalam, aroma dupa dan wangi kembang langsung menusuk hidung.

Pusara berada di tengah bangunan, dikelilingi lima pohon yang badannya menjulang tinggi menembus genteng rumah. tembok rumah dan pohon diselimuti oleh bendera merah putih. Seperti simbol bahwa yang terbaring adalah orang penting dari sosok yang telah mempersatukan Nusantara.

Tidak ada bukti kuat yang menunjukkan bahwa makam tersebut benar Dewi Andong Sari selir raja Raden Wijaya. Sebuah pusara dengan segudang tanda tanya.

Hanya ada tulisan di sebuah marmer yang menghadap ke selatan 'Pesarean Ejang Ratu Dewi Andong Sari Ibunda Mahapatih Gajah Mada'. Di depannya, terdapat puntung dupa sisa-sisa rapalan para pengunjung yang datang dengan ragam permintaan.

Hampir semua bangunan makam diselimuti oleh kain batik dan mori putih. Tengah pusara sengaja dibiarkan berlubang. Menurut penuturan Jumain, lubang panjang ini untuk memudahkan keperluan pengunjung selama di makam.

Misteri yang belum terpecahkan hingga saat ini adalah gaya nisan yang menyerupai kubah masjid, dan posisi makam yang menghadap ke utara seperti makam umat Islam pada umumnya. Terkait posisi makam ini, juga dibenarkan oleh Jumain. Tetapi apakah ini menunjukkan bahwa si jenazah umat muslim juga perlu pembuktian lagi.

"Iya ini memang (kepala jenazah) menghadap ke utara. Sebelum dipugar, makam ini hanya ditandai dengan tumpukan batu," ujar Jumain kepada wartawan merdeka.com Ya'cob Billiocta beberapa waktu tanpa menjelaskan lebih rinci.

Terdapat tiga payung khas Bali di bagian utara pusara, dua berwarna kuning emas dan satu berwarna putih ukurannya lebih besar dan berada di tengah. Jumain menuturkan asal muasal payung ini, menurutnya ke tiga payung ini dibawa oleh salah satu pengunjung yang mengaku bermimpi dan diminta membawa payung Bali ke kuburan. [hhw] SELANJUTNYA

Topik berita Terkait:
  1. Gajah Mada
  2. Sejarah Indonesia
  3. Lamongan
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini