Meski Diuji Cicip, SPPG Meruya Selatan Akui Ada Uji Organoleptik MBG Sebelum Insiden Keracunan
SPPG Meruya Selatan mengakui adanya uji organoleptik MBG sebelum didistribusikan, namun insiden keracunan 20 siswa tetap terjadi. Apa penyebabnya?
Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Meruya Selatan, Jakarta Barat, memberikan klarifikasi terkait insiden dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa puluhan siswa. Pihak SPPG menegaskan bahwa mereka telah melakukan uji organoleptik atau pengecapan pada setiap paket makanan sebelum didistribusikan ke sekolah-sekolah.
Klarifikasi ini disampaikan menyusul kejadian pada Rabu (29/10) lalu, di mana 20 siswa SDN 01 Meruya Selatan mengalami gejala mual dan pusing setelah menyantap menu MBG. Meskipun demikian, Kepala SPPG Meruya Selatan, Satria Jayaputra, menduga adanya sebagian adonan puding yang gosong sebagai pemicu aroma tidak sedap pada beberapa kemasan.
Insiden ini telah memicu SPPG Meruya Selatan untuk mengevaluasi kembali proses pengadaan dan pengolahan makanan. Mereka berkomitmen untuk mengambil langkah-langkah konkret guna memastikan keamanan dan kualitas gizi menu MBG ke depannya, termasuk memutus kerja sama dengan pihak UMKM.
Proses Uji Organoleptik dan Dugaan Penyebab
Satria Jayaputra menjelaskan secara rinci prosedur yang dilakukan SPPG Meruya Selatan sebelum mendistribusikan menu MBG. Setiap pagi, tim SPPG melakukan uji organoleptik terhadap menu yang akan dibagikan, termasuk puding yang menjadi sorotan dalam insiden ini.
"Itu pasti kami coba dulu. Bahkan pagi itu Pak Lurah juga datang dan ikut mencoba pudingnya. Saat kami coba, tidak ada bau aneh atau tanda-tanda rusak,” kata Satria di Jakarta, Senin (03/11). Pernyataan ini menunjukkan adanya pengawasan awal terhadap kualitas makanan.
Meskipun demikian, Satria menduga bahwa masalah muncul dari proses pengolahan puding itu sendiri. "Mungkin ada beberapa dari puding tersebut yang diolahnya itu lebih tepatnya gosong," ujarnya, mengindikasikan adanya ketidaksempurnaan dalam produksi.
Dugaan ini diperkuat oleh laporan seorang siswa yang mencium aroma tidak sedap dari puding. “Ada satu anak yang bilang baunya kayak asap rokok. Tapi setelah saya cium, ternyata memang ada aroma gosong dari puding itu,” imbuhnya, memberikan gambaran langsung tentang masalah yang terdeteksi.
Keterlibatan UMKM dan Langkah Antisipasi
Dalam proses penyediaan menu MBG, SPPG Meruya Selatan tidak sepenuhnya mengolah semua item secara mandiri. Beberapa komponen menu, seperti puding dan mi basah, dipasok oleh usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) yang menjalin kerja sama.
Satria menjelaskan, "Kalau puding memang kami pakai orang kedua, jadi dibuat oleh UMKM. Kalau mi basah juga kami ambil dari UMKM karena takut kewalahan kalau buat sendiri. Telur kami olah langsung.” Hal ini menunjukkan adanya pembagian tugas dalam rantai pasok makanan.
Menyusul insiden dugaan keracunan, SPPG Meruya Selatan segera mengambil tindakan tegas. Pihaknya telah memutuskan kerja sama dengan UMKM yang bertanggung jawab atas pengolahan puding, meskipun penyebab pasti keracunan masih dalam penyelidikan.
Sebagai langkah antisipasi dan peningkatan kualitas, SPPG Meruya Selatan berencana untuk mengolah semua menu secara mandiri. “Ke depan, kami sudah tidak akan pakai UMKM lagi. Lebih baik semuanya kami buat sendiri di dapur supaya tahu bahan-bahannya aman dan prosesnya bersih,” tegas Satria, menunjukkan komitmen terhadap keamanan pangan.
Kronologi Insiden dan Kondisi Siswa
Insiden dugaan keracunan ini terjadi pada hari ketiga SDN Meruya Selatan 01 menerima jatah menu MBG, tepatnya pada Rabu (29/10). Kepala SDN Meruya Selatan 01, Siti Sofyatun, membenarkan kejadian tersebut yang melibatkan 20 siswa di sekolahnya.
Indikasi keracunan terlihat saat puluhan anak menunjukkan gejala mual dan pusing setelah menyantap menu MBG. Menu yang disajikan saat itu terdiri dari mi, telur kecap, puding, dan beberapa item lainnya, sehingga menyulitkan identifikasi pasti penyebabnya.
Siti Sofyatun menduga bahwa item menu yang menyebabkan keracunan adalah mi atau puding, namun masih menunggu hasil resmi laboratorium. "Kendati hasil resmi laboratorium belum keluar, Siti menduga item menu yang menyebabkan keracunan adalah mi atau puding," demikian informasi yang disampaikan.
Beruntung, puluhan siswa yang mengalami gejala tersebut segera mendapat perawatan medis. Mereka dipastikan aman dan sudah kembali beraktivitas normal, bahkan telah kembali bersekolah keesokan harinya, menunjukkan penanganan yang cepat dan efektif.
Sumber: AntaraNews