Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Menelusuri Lorong Gelap Hayat dan Karya Komponis Soetedja

Menelusuri Lorong Gelap Hayat dan Karya Komponis Soetedja Menelusuri Lorong Gelap Hayat dan Karya Komponis Soetedja. ©2018 Merdeka.com

Merdeka.com - Di stasiun kereta api Purwokerto, lagu Di Tepinya Sungai Serayu karya Soetedja (1909-1960) punya eksistensi sendiri menjadi kekhasan penanda kereta tiba. Di jagat seni musik di Kabupaten Banyumas, tak ada yang menandingi nama besar Soetedja. Namanya diabadikan menjadi Taman Budaya di Kabupaten Banyumas.

Tapi di balik apresiasi-apresiasi tersebut, jejak riwayat dan karya Soetedja seakan berada dalam lorong gelap. Ia adalah tokoh musik dengan takdir usia pendek yang kini nyaris terlupakan.

Raden Soetedja Poerwadibrata adalah seorang komponis yang mendedikasikan hidupnya untuk bermusik. Ia sempat mengenyam pendidikan musik di konservatori musik Roma, Italia. Buah kretifitasnya ia mencipta ratusan lagu di antaranya "Tidurlah Intan", "Selamat Berjuang", "Keroncong Senja".

Jejak langkahnya di seni musik tercatat bersama Orkes Melati yang kerap tampil di RRI Jakarta. Ia juga bermain bersama Wisma Nusantara yang kerap bermain di Istana Negara pada era Presiden Soekarno. Sedang di Banyumas, Soetedja pernah menjabat sebagai Direktur Musik RRI Purwokerto pada tahun 1946.

Cinema Lovers Community (CLC) Purbalingga bekerja sama dengan Jaringan Kerja Film Banyumas (JKFB) menelusuri kembali hayat dan karya Soetedja dalam film dokumenter berjudul "Mencari Soetedja". Sutradara film ini, Bowo Leksono, menilai Soetedja adalah tokoh pembaharu musik kontemporer Indonesia yang tak banyak tercatat.

Bowo lantas mengunjungi berbagai tempat mulai dari bekas kediaman Soetedja di Purwokerto dan Banjarnegara. Menelusuri kenangan-kenangan tentang Soetedja dengan mengunjungi kediaman anak-anaknya di Jakarta. Mengkliping arsip-arsip penuh debu dan menelusuri piringan hitam yang bertautan dengan jejak karya sang komponis. Bowo berpendapat tak banyak yang ia dapat.

"Pencarian Soetedja nyatanya tak pernah selesai. Begitu minim dokumentasinya", kata Bowo usai pemutaran perdana film Mencari Soetedja di Bioskop Rajawali, Purwokerto, Kamis (15/11).

Keterangan-keterangan yang bisa digapai oleh Bowo Leksono, ia menganyam cerita tentang Soetedja dengan mengabadikan kenangan putra-putri Soetedja, salah satunya Budhy Rahardjo dan Lily Soemandari. Bowo juga menyusuri masa kanak Soetedja yang bermimpi menjadi musisi dengan menggali keterangan dari Sugeng Wijono, keponakan Soetedja. Sedang penelusuran dokumentasi karya kerap mengalami jalan buntu.

"Data-data piringan hitam dan partitur-partitur yang tersimpan di RRI Jakarta dikabarkan terbakar. Kami juga mengunjungi Irama Nusantara ke Bandung yang kerap melakukan pengarsipan piringan hitam ke digital. Tapi hanya beberapa yang kita dapat, salah satunya album "Mengenangkan Soetedja", kompilasi lagu yang diciptakan Soetedja dan dihimpun kembali oleh Jack Lesmana", kata Bowo yang mengaku perlu waktu 8 tahun menunggu penggarapan film ini sampai kemudian Direktorat Sejarah, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dam Kebudayaan membuka fasilitasi produksi film dokumenter pendek.

Putri ke-4 Soetedja, Lily Soemandari berbagai cerita dalam diskusi peluncuran film "Mencari Soetedja" bahwa ayahnya telah menciptakan lebih dari 180 lagu. Di akhir hidupnya, ayahnya berniat mengumpulkan karya-karya lagu yang pernah ia ciptakan untuk ditandai namanya. Sayang, niat tersebut tak sempat tergapai sebab Soetedja keburu meninggal di usia 50 tahun.

"Saya menangis sebelum menonton film tentang ayah saya ini. Saya sendiri masih usia 12 tahun saat ayah meninggal. Tidak banyak kenangan, hanya yang saya ingat, ayah punya hubungan dekat dengan sejumlah musisi saat itu seperti Bing Slamet", katanya.

Kenang-kenangan Soetedja yang masih tersimpan oleh keluarga yakni sejumlah partitur lagu dan biola hadiah saat ia berusia 10 tahun. Biola tersebut yakni Stradivarius Paganini buatan tahun 1834. Dawai biola tersebut sudah tak lagi lengkap.

"Biola itu saksi terciptanya lagu Di Tepinya Sungai Serayu yang legendaris. Lagu itu lahir ketika Soetedja diajak oleh ayah angkatnya mengunjungi tanah keluarga di wilayah Serayu", kata Sugeng Wijono, keponakan Soetedja.

Film "Mencari Soetedja" dimaknai periset film ini, Nugroho Pandhu Sukmono masih terbentur minimnya literatur. Pencarian hayat dan karya Soetedja belum bisa dikatakan selesai. Ia berharap dari film dokumenter berdurasi 24 menit dapat memantik penelitian untuk memperoleh gambaran lebih detail tentang bagaimana jejak langkah Soetedja dalam kancah seni musik di Indonesia.

"Meninggal di usia relatif muda dan lemahnya dokumentasi karya, membuat lagu-lagu Soetedja kurang dikenal pada masa sekarang", ujar Nugroho.

(mdk/cob)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP