Menag Ajak Teladani Perjuangan KH Wahab Hasbullah untuk Penguatan Pesantren dan Moderasi Beragama
Menteri Agama mengajak seluruh elemen masyarakat meneladani Perjuangan KH Wahab Hasbullah dalam memperkuat pesantren, moderasi beragama, dan kebangsaan, menghadapi tantangan sosial keagamaan.
Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa untuk menghidupkan kembali semangat Perjuangan KH Wahab Hasbullah. Ajakan ini bertujuan memperkuat moderasi beragama serta transformasi pesantren di Indonesia. Ini menjadi fondasi penting bagi penguatan kebangsaan di tengah berbagai tantangan sosial keagamaan.
Penegasan tersebut disampaikan dalam kegiatan bedah buku "KH Abdul Wahab Hasbullah: Pendiri NU Penggerak NKRI". Acara ini berlangsung di UIN Jurai Siwo Lampung pada hari Sabtu, 16 Mei. Kegiatan ini mengupas tuntas seni kepemimpinan inklusif KH Wahab Hasbullah.
Menag menekankan pentingnya meneladani pemikiran dan perjuangan KH Wahab Hasbullah. Hal ini untuk membangun pendidikan Islam yang moderat, adaptif, dan relevan. Pesantren dianggap sebagai institusi pendidikan asli Indonesia yang teruji zaman.
Menguatkan Pesantren sebagai Pilar Bangsa
Menteri Agama Nasaruddin Umar menegaskan bahwa pesantren merupakan institusi pendidikan yang telah teruji oleh zaman. Pesantren memiliki peran strategis dalam menjaga moralitas bangsa. Selain itu, pesantren juga mencetak kader pemimpin dengan jiwa nasionalisme dan keislaman yang kuat.
Pemerintah saat ini berupaya memperkuat kelembagaan pesantren melalui transformasi Direktorat Jenderal Pesantren di lingkungan Kementerian Agama. Langkah ini diambil agar pesantren tidak hanya menjadi benteng moral. Namun, juga berkembang sebagai pusat inovasi dan pemberdayaan ekonomi umat.
Transformasi ini bertujuan menjadikan pesantren institusi pendidikan yang mampu bersaing secara global. Menag menekankan pentingnya adaptasi pesantren terhadap perkembangan zaman. Hal ini sejalan dengan pemikiran moderat KH Wahab Hasbullah.
Relevansi Pemikiran KH Wahab Hasbullah di Era Digital
Menag Nasaruddin Umar menggarisbawahi bahwa jika dahulu KH Wahab Hasbullah menggunakan organisasi dan diplomasi, kini ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi alat utama. Alat ini digunakan untuk menjaga kedaulatan bangsa dan martabat kemanusiaan. Perjuangan KH Wahab Hasbullah relevan dengan tantangan modern.
Direktur Pesantren Kementerian Agama Basnang Said menambahkan, sejarah perjuangan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kontribusi pesantren dan tokoh besar seperti KH Wahab Hasbullah. Warisan pemikirannya sangat relevan dalam menghadapi intoleransi dan fragmentasi sosial.
Perwakilan keluarga besar KH Wahab Hasbullah, Ita Rahmawati, menyebut beliau sebagai "arsitek dialektika moderasi". Beliau mampu memadukan nilai keagamaan dan kebangsaan dalam satu napas perjuangan. Moderasi, menurut Kiai Wahab, adalah kemampuan menempatkan kebenaran di tengah berbagai ekstremitas.
Jejak Kepemimpinan Inklusif dan Visioner
Buku yang dibedah mengulas kepemimpinan KH Wahab melalui pendekatan The Mastermind of Movement. Pendekatan ini menggambarkan kemampuannya membangun gerakan sosial-keagamaan secara inklusif. Kepemimpinan beliau juga strategis dan visioner.
KH Wahab Hasbullah dikenal sebagai salah satu tokoh penting di balik berdirinya Nahdlatul Ulama pada tahun 1926. Beliau mendirikannya bersama Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari. Perannya juga besar dalam perjuangan Komite Hijaz.
Selain itu, beliau menggagas gerakan intelektual dan kebangsaan seperti Taswirul Afkar dan Nahdlatul Wathan. Rektor UIN Jurai Siwo Lampung, Ida Umami, menyatakan bahwa bedah buku ini menghadirkan kembali spirit perjuangan ulama pesantren. Spirit ini penting untuk membangun Indonesia yang lebih baik.
Sumber: AntaraNews