Bupati Muara Enim, Edison terjaring operasi tangkap tangan dilakukan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) di Muara Enim, Sumatra Selatan, Senin (8/6). Edison ditangkap penyidik KPK terkait penyelidikan kasus dugaan penerimaan sejumlah uang dalam proses pengadaan barang dan jasa di lingkungan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muara Enim.
Selain Edison, penyidik KPK menangkap sembilan orang dari unsur Pemerintah Kabupaten Muara Enim dan pihak swasta.
KPK total menangkap sepuluh orang. Setelah memeriksa dan menggelar perkara, KPK memutuskan meningkatkan penanganan kasus tersebut ke tahap penyidikan serta menetapkan sejumlah pihak sebagai tersangka.
Namun KPK belum mengungkap identitas seluruh tersangka. Kendati begitu, KPK mengindikasikan bahwa Edison termasuk pihak terseret dalam perkara tersebut.
“Dalam perkara ini, dugaan penerimaan yang dilakukan oleh Bupati terkait dengan pengadaan-pengadaan di lingkup Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Muara Enim,” kata Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, Selasa (9/6).
Setelah ditangkap di Sumatra Selatan, Edison bersama pihak-pihak lain diterbangkan ke Jakarta untuk menjalani proses hukum lebih lanjut. Selain menangkap sejumlah orang, penyidik KPK juga menyita uang tunai senilai ratusan juta rupiah diduga berkaitan dengan perkara sedang diusut lembaga antirasuah.
Advertisement
Kekayaan Edison
Berdasarkan dokumen Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN), Edison melaporkan memiliki harta kekayaan dengan total Rp16.030.192.000. Kekayaan itu dilaporkan Edison pada 27 Maret atau periode tahun 2025.
Dalam LHKPN dilaporkan Edison, aset terbesar dimiliki politisi Partai NasDem itu berasal dari kepemilikan tanah dan bangunan dengan nilai mencapai Rp14.180.192.000.
Properti tersebut terdiri dari tanah dan bangunan berada di delapan lokasi seperti di Palembang, Prabumulih dan Banyuasin. Seluruh aset yang dilaporkan tersebut berasal dari hasil usaha pribadi.
Selain properti, Edison melaporkan memiliki aset berupa alat transportasi dan mesin dengan total Rp505.000.000
Sementara koleksi kendaraan dilaporkan Edison meliputi mobil Toyota Alphard Tahun 2010, senilai Rp125.000.000. Kemudian Toyota Fortuner Tahun 2019 senilai Rp380.000.000. Kendaraan tersebut dilaporkan diperoleh dari hasil sendiri.
Di samping aset properti dan kendaraan, Edison juga melaporkan memiliki harta bergerak lainnya senilai Rp705.000.000. Edison melaporkan tak memiliki surat berharga. edangkan kas dan setara kas dilaporkan Edison senilai Rp140.000.000.
Dalam laporan tersebut, Edison memili harta lainnya Rp500.000.000. Menariknya dalam laporan aset tersebut, Edison tidak terdapat catatan mengenai utang, sehingga seluruh aset dilaporkan menjadi nilai kekayaan bersih.
Jika dijumlahkan, total keseluruhan aset yang dimiliki Edison mencapai Rp16.030.192.000. Karena tidak terdapat catatan utang dalam laporan tersebut, nilai total harta kekayaannya tetap berada pada angka yang sama.