Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikbudristek) baru-baru ini menggelar pelatihan penting bagi para pelatih atau fasilitator nasional. Pelatihan ini berfokus pada peningkatan kapasitas dalam pencegahan dan penanganan kekerasan di lingkungan sekolah di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah untuk menekan angka insiden kekerasan yang terjadi di institusi pendidikan.
Langkah strategis ini diambil sebagai upaya persiapan untuk membentuk fasilitator nasional yang kompeten. Para fasilitator ini diharapkan memiliki perspektif kuat terhadap perlindungan anak dan mampu mewujudkan lingkungan sekolah yang aman serta nyaman. Inisiatif ini menjadi krusial di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus informasi.
Pelatihan ini melibatkan 132 peserta yang berasal dari berbagai Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan, Pusat Guru dan Tenaga Kependidikan, serta Pusat Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi di berbagai wilayah. Modul pelatihan yang diberikan diharapkan dapat menjadi instrumen efektif untuk memperkuat kapasitas perlindungan anak. Selain itu, modul ini juga diharapkan mampu menciptakan lingkungan pendidikan yang inklusif, aman, dan bebas dari kekerasan di seluruh pelosok negeri.
Advertisement
Advertisement
Pentingnya Lingkungan Belajar yang Aman dan Nyaman
Kepala Pusat Penguatan Karakter Kemendikbudristek, Rusprita Putri Utami, menyoroti tantangan era globalisasi yang membuat anak-anak terpapar informasi secara cepat. "Di era globalisasi, anak-anak menerima informasi dengan cepat, dan seringkali sulit untuk menyaring konten mana yang bermanfaat untuk pembentukan karakter dan mana yang berbahaya," ujarnya dalam keterangan tertulis. Pernyataan ini menekankan pentingnya peran pendidikan dalam membimbing anak.
Rusprita juga menegaskan bahwa visi kementerian, yaitu Pendidikan Berkualitas untuk Semua, hanya dapat terwujud jika proses pembelajaran bebas dari segala bentuk kekerasan. Oleh karena itu, penguatan budaya sekolah yang aman, nyaman, dan ramah anak melalui fasilitator yang kompeten menjadi prasyarat utama. Lingkungan belajar yang kondusif adalah fondasi bagi perkembangan optimal siswa.
Pelatihan ini dirancang untuk membekali para peserta dengan pemahaman mendalam tentang strategi pencegahan. Selain itu, mereka juga diajarkan langkah-langkah respons dan penanganan yang tepat ketika insiden kekerasan terjadi. Dengan demikian, diharapkan setiap sekolah memiliki tenaga ahli yang siap siaga.
Advertisement
Advertisement
Peran Multisegmen dan Literasi Digital
Orang tua dan guru memegang peranan krusial dalam mengembangkan literasi digital siswa, terutama dalam mengakses dan menyaring informasi di platform digital dan media sosial. Kemampuan ini menjadi benteng utama dari paparan konten negatif yang berpotensi memicu perilaku kekerasan. Pembekalan literasi digital menjadi bagian tak terpisahkan dari upaya pencegahan kekerasan di sekolah.
Terkait pencegahan kekerasan, Utami menyoroti pentingnya pendekatan berlapis yang melibatkan berbagai pihak. Keluarga berperan sebagai lingkungan utama, sekolah sebagai institusi pendidikan formal, serta masyarakat dan media sebagai ekosistem yang membentuk perilaku anak. Sinergi antara ketiga pilar ini sangat penting untuk menciptakan ekosistem perlindungan yang komprehensif.
Melalui pendekatan ini, diharapkan setiap lapisan masyarakat dapat berkontribusi aktif dalam menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak secara positif. "Melalui pelatihan ini, kami berharap kapasitas peserta akan tumbuh dalam memahami strategi pencegahan dan mengetahui respons serta langkah penanganan yang benar ketika kekerasan terjadi," tambah Rusprita. Ini menunjukkan komitmen untuk membangun sistem yang responsif dan proaktif.
Advertisement
Sumber: AntaraNews