Bencana longsor hebat melanda Desa Pasirlangu, Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, menyisakan duka mendalam bagi para warga terdampak. Ratusan warga terpaksa mengungsi setelah rumah mereka hancur akibat material longsor yang datang secara tiba-tiba. Kejadian tragis ini menyoroti kebutuhan mendesak bagi para korban yang kini berada di pengungsian.
Longsor besar terjadi dua kali pada Sabtu (24/1), dengan insiden terparah sekitar pukul 02.30 WIB. Lebih dari 100 orang kini berada di lokasi pengungsian, menghadapi keterbatasan pasokan bantuan yang diterima. Situasi darurat ini memerlukan perhatian serius serta uluran tangan dari berbagai pihak untuk penanganan lebih lanjut.
Wawa (40), salah satu warga terdampak dari Kampung Pasir Kuda RW 10, mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi pengungsi. Banyak rumah hilang dan rata dengan tanah, bahkan lebih dari 10 anggota keluarganya masih belum diketahui keberadaannya. Kebutuhan mendesak, terutama untuk bayi, menjadi prioritas utama di tengah kondisi yang serba terbatas ini.
Advertisement
Advertisement
Bencana longsor di Cisarua telah menyebabkan kerusakan parah, terutama di kawasan atas tempat tinggal Wawa. Banyak rumah warga hilang dan rata dengan tanah akibat tertimbun material longsor, termasuk beberapa yang dihuni oleh keluarga jauhnya. Wawa menyebutkan, “Anggota keluarga saya yang hilang ada lebih dari 10 orang. Sampai sekarang belum diketahui keberadaannya,” katanya dengan suara bergetar.
Di bagian bawah lokasi longsor, sejumlah rumah juga terdampak cukup serius, menciptakan suasana mencekam saat longsor kedua berlangsung. “Waktu dengar gemuruh yang kedua, banyak yang menjerit. Saya langsung kabur menyelamatkan diri,” ungkap Wawa. Ia berhasil mengungsi ke desa sekitar pukul 05.00 WIB bersama warga lainnya untuk mencari tempat yang lebih aman.
Tim Gabungan masih terus melakukan upaya pencarian korban hilang yang diperkirakan mencapai 82 jiwa. Proses pencarian ini menjadi tantangan besar mengingat luasnya area terdampak dan banyaknya material longsor. Keluarga korban berharap adanya percepatan dalam penanganan dan pencarian anggota keluarga mereka yang masih belum ditemukan.
Advertisement
Advertisement
Wawa menyebutkan bahwa saat ini kebutuhan yang paling mendesak bagi pengungsi adalah perlengkapan bayi. Kebutuhan ini meliputi pakaian bayi, popok (pampers), hingga kebutuhan dasar lainnya yang sangat krusial dan rentan kekurangan. Kondisi bayi yang rentan membuat pemenuhan kebutuhan ini menjadi prioritas utama di lokasi pengungsian.
Selain perlengkapan bayi, kebutuhan untuk orang dewasa juga tidak kalah penting. Kebutuhan utamanya adalah alat mandi, makanan, dan penghangat badan. Item seperti selimut, matras, serta jaket sangat diperlukan untuk menghadapi cuaca dingin di pengungsian. Distribusi bantuan makanan baru diterima satu kali, ditambah makanan ringan pada siang hari, menunjukkan adanya keterbatasan pasokan.
Para pengungsi berharap adanya perhatian lebih dari berbagai pihak, khususnya untuk pemenuhan kebutuhan dasar ini. Ketersediaan logistik yang memadai akan sangat membantu meringankan beban para korban yang kehilangan tempat tinggal dan harta benda mereka. Dukungan berkelanjutan sangat dibutuhkan hingga kondisi kembali pulih.
Advertisement
Advertisement
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Barat, Bambang Imanudin, menyampaikan bahwa pihaknya akan berupaya memenuhi bantuan yang diperlukan oleh warga saat ini. “Kami akan memenuhi bantuan yang paling dibutuhkan warga saat ini, seperti matras, selimut, dan sembako karena mereka masih berada di lokasi pengungsian,” jelasnya.
Dirinya juga berharap semua logistik dapat tercukupi, termasuk bantuan dari pemerintah provinsi yang sudah mulai masuk. Koordinasi terus dilakukan untuk memastikan bantuan tersalurkan secara efektif kepada para pengungsi. BPBD Jawa Barat memiliki tugas mengoordinasikan penanggulangan bencana di tingkat provinsi dan melindungi masyarakat.
Warga terdampak dan para pengungsi sangat mengharapkan adanya uluran tangan dari masyarakat luas, lembaga sosial, dan pemerintah. Bantuan tidak hanya berupa materi, tetapi juga dukungan moral untuk memulihkan trauma akibat bencana. Solidaritas menjadi kunci dalam menghadapi situasi sulit ini dan membantu para korban bangkit kembali.
Advertisement
Sumber: AntaraNews