Suasana haru menyelimuti keluarga yang menjemput rombongan jemaah haji kloter 12-JKS asal Kota Depok. Jemaah akhirnya tiba di Kota Depok dengan selamat setelah sebelumnya pesawat Saudia Airlines SV-5276 yang membawa jemaah sempat mendapat ancaman bom. Pesawat pun terpaksa mendarat darurat di Bandara Internasional Kualanamu, Sumatera Utara. Jemaah terpaksa menginap semalam di sana.
Rombongan melanjutkan perjalanan setelah dilakukan pemeriksaan dan dipastikan aman. Rombongan tiba di lapangan Depok Open Space (DOS). Keluarga pun langsung menyambut jemaah dengan isak tangis haru dan mengucap syukur karena tiba dengan selamat.
Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Depok, Enjat Mujiat mengatakan, ada 422 jemaah yang pulang ke Tanah Air dalam keadaan selamat. Dia pun mengucap syukur rombongan tiba dengan selamat sampai di Kota Depok.
"Alhamdulillah, bisa disaksikan jemaahnya pada bahagia dan sehat semuanya, itu berkat doa kita semua. Mudah-mudahan dapat pulang ke kediamannya masing-masing dalam keadaan sehat semuanya," kata Enjat, Rabu (18/6).
Kondisi para jemaah sehat dan tanpa kekurangan apapun termasuk para lansia. Soal ancaman bom, menurut Enjat, para jemaah baru mengetahui usai turun di Bandara Internasional Kualanamu.
"Awalnya itu para jemaah tidak tahu apa-apa, masalah teknis. Setelah turun dari bandara, baru diketahui (ancaman bom), itupun lewat media sosial yang dikirim pihak keluarga," ucapnya.
Advertisement
Dari kesaksian jemaah menuturkan, mereka awalnya tidak tahu sama sekali mengenai adanya ancaman bom. Jemaah baru tahu informasi tersebut setelah mendarat di Bandara Internasional Kualanamu, Medan. Saat itu suasana jemaah dalam pesawat tetap tenang dan tidak ada informasi langsung yang disampaikan saat penerbangan berlangsung.
Syarifah Mudaimah (38), salah seorang jemaah mengatakan, tetap tenang meski baru mengetahui adanya ancaman bom saat sudah mendarat darurat di Bandara Internasional Kualanamu, Medan.
"Dari pihak pramugari juga enggak menginfokan apa-apa di dalam, pas taunya pas di luar gitu," katanya.
Jemaah asal Sugutamu itu menuturkan, saat itu rombongan sempat bertanya-tanya mengenai alasan pendaratan mendadak. Dia dan suaminya memilih untuk tidak panik dan tetap menenangkan diri agar tidak mengganggu kondisi psikologis jemaah lainnya, terutama yang sudah lansia. Namun dia tidak menepis bahwa sebagian jemaah lansia memang tampak gelisah.
"Kita sih bertanya-tanya aja, cuma kita enggak mau terlalu panik ya. Pokoknya kita nenangin diri aja gitu. Kita juga enggak ngasih tahu yang lansia, takutnya malah panik. Jadi kita diam aja, biar tenang," katanya.
Setelah mendarat di Medan, para jemaah menginap di salah satu hotel. Mereka sempat menunggu selama sekitar lima jam di bandara sebelum akhirnya dipindahkan ke hotel untuk bermalam. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju Jakarta pada Rabu (18/6) pagi.
"Alhamdulillah dikasih tempat fasilitas menginap di hotel Medan ya, Alhamdulillah. Paling sekitar empat sampai lima jam nunggu, terus setelah Maghrib kita dibawa ke hotel. Subuhnya kita sudah siap-siap berangkat lagi ke Jakarta," ucapnya.
Meski menjadi bagian dari penerbangan yang disebut-sebut menerima ancaman bom, Syarifah mengaku tidak trauma. Dia justru melihat kejadian ini sebagai bentuk rezeki tambahan dari Allah SWT.
"Enggak sih, Alhamdulillah masih dikasih ketenangan. Nikmat banget, kayak dikasih bonus jalan-jalan ke Medan," akunya.
Begitu tiba di Depok, dia pun mengucap syukur setelah bertemu dengan keluarga. Dia mengaku senang bisa melihat kembali keluarganya, melihat hujan, dan nuansa hijau.
"Alhamdulillah senang banget, bisa lihat hujan, bisa lihat hijau-hijau. Ketemu keluarga. Ya Allah, bersyukur banget, haji tahun ini Alhamdulillah nikmat banget," akunya.
Dia mengaku harus menunggu selama 13 tahun untuk bisa menunaikan ibadah haji.
"Saya sama suami berangkat. Masa tunggu 13 tahun," pungkasnya.