Jadi Korban Diskriminasi, MC Perempuan Tunggu Klarifikasi Gubernur Bali

Gubernur Bali Wayan Koster atau Pemerintah Provinsi Bali belum memberikan penjelasan terkait larangan tampil master of ceremony (MC) perempuan yang viral di media sosial. MC bernama Putu Dessy Fridayanthi meminta agar ada klarifikasi terkait kebijakan diskriminatif itu.

Moh. Kadafi
Oleh Moh. Kadafi - Reporter
Jadi Korban Diskriminasi, MC Perempuan Tunggu Klarifikasi Gubernur Bali
Gubernur Bali Wayan Koster. ©2020 Istimewa

Gubernur Bali Wayan Koster atau Pemerintah Provinsi Bali belum memberikan penjelasan terkait larangan tampil master of ceremony (MC) perempuan yang viral di media sosial. MC bernama Putu Dessy Fridayanthi meminta agar ada klarifikasi terkait kebijakan diskriminatif itu.

"Dan jika ditanya apa harapan saya sekarang kepada pihak Pemprov Bali, Saya ingin tanggapan atau klarifikasi atas perlakuan kurang menyenangkan yang saya alami, alasannya apa sehingga saya diperlakukan seperti tahanan perang," kata Dessy dalam keterangan tertulisnya, Kamis (16/9).

Ia berharap para perempuan bisa diizinkan untuk menjadi MC di acara Gubernur Bali. "Jangan disuruh ngumpet, diposisikan selayaknya sebagai MC yang membawakan acara di atas atau samping panggung. Dan tidak lagi di-cancel mendadak, karena acara yang akan dibawakan akan dihadiri Gubernur Bali maka MC-nya harus laki-laki. Hentikan, diskriminasi kepada kami kaum wanita di Bali. Kami berhak untuk bekerja dan berkarya sesuai profesi kami masing-masing. Mohon segera direspons pihak Pemprov Bali atau Gubernur langsung," ujar Dessy.

Seperti yang diberitakan, postingan seorang perempuan yang merupakan master of ceremony (MC) di Bali menjadi viral di media sosial. Postingan itu diketahui pertama kali di unggah oleh Putu Dessy Fridayanthi dalam Instagram pribadinya yakni @ecymcbali.

Dalam postingannya, ia menuliskan tentang keluhannya dan juga melakukan protes karena dilarang tampil dalam acara yang dihadiri oleh Gubernur Bali Wayan Koster.
"Sejak kepemimpinan @kostergubernurbali sudah bukan rahasia lagi jika kami para pekerja event wanita, MC, penyanyi, penari dll sering sekali dicancel client/EO acara H-1 ataupun beberapa menit sebelum acara dimulai. Alasannya karena Koster akan hadir jadi tidak boleh ada pengisi acara wanita," tulisnya dalam unggahan itu seperti dikutip Senin (13/9).

Dessy juga menyampaikan unggahan di Instagram story-nya tersebut berdasarkan pengalaman yang dialaminya berulang kali. Yang terbaru ia mengaku dilarang tampil di depan Koster dalam sebuah acara kementerian pada Jumat (3/9) lalu. Berbeda dengan saat gladi resik, perempuan ini harus membawakan acara dari ruangan yang tidak terlihat.

"Yang menyelenggarakan swasta tapi mendukung salah satu program kementerian, sehingga menteri hadir di sana untuk meresmikan dan Pak Gubernur hanya mendampingi," kata Dessy.

Sementara itu, Kepala Biro Umum dan Protokol Setda Provinsi Bali I Wayan Budiasa belum bisa memberikan tanggapan lebih jauh terkait peristiwa viral itu. "Informasi sudah sampai di pimpinan. Nanti katanya satu pintu keluar untuk respons itu," ujarnya.

Rekomendasi