Inovasi Pengering Gabah Hybrid Undip: Solusi Efisien Tingkatkan Kualitas Panen Petani

Universitas Diponegoro (Undip) meluncurkan inovasi pengering gabah hybrid, sebuah teknologi canggih yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi dan kualitas gabah kering giling secara cepat dan konsisten, memberikan harapan baru bagi petani Indones

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Inovasi Pengering Gabah Hybrid Undip: Solusi Efisien Tingkatkan Kualitas Panen Petani
Universitas Diponegoro (Undip) meluncurkan inovasi pengering gabah hybrid, sebuah teknologi canggih yang dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi dan kualitas gabah kering giling secara cepat dan konsisten, memberikan harapan baru bagi petani Indones (AntaraNews)

Universitas Diponegoro (Undip) Semarang kembali menunjukkan komitmennya dalam inovasi teknologi pertanian melalui pengembangan pengering gabah hybrid. Teknologi ini memanfaatkan media udara berkelembapan rendah dengan pemanas hybrid surya-biomassa. Inovasi ini diharapkan mampu menjadi solusi atas tantangan pengeringan gabah yang sering dihadapi petani.

Ketua Konsorsium Tim 1-Undip, Prof. Dr. Moh Djeni, menjelaskan bahwa teknologi ini dirancang untuk meningkatkan efisiensi energi secara signifikan. Selain itu, pengering gabah hybrid ini juga bertujuan menjaga kualitas gabah kering giling agar lebih cepat dan konsisten. Pengembangan ini melibatkan kolaborasi lintas institusi dan industri.

Inovasi ini merupakan hasil kerja sama Prof. Dr. Moh Djeni bersama Dr. Laeli Kurniasari dari Unwahas, Prof. Ir. Andri Cahyo Kumoro dari Undip, serta Anang Yudi Riswanto dari PT Mutiara Global Industry. Teknologi ini hadir sebagai jawaban atas permasalahan petani, terutama saat musim panen dengan anomali cuaca.

Salah satu keunggulan utama pengering gabah hybrid Undip adalah desainnya yang portabel. Alat ini dilengkapi dengan sasis beroda dan penarik, memudahkan mobilisasi ke berbagai lokasi lahan pertanian. Fitur ini sangat krusial bagi daerah yang tidak memiliki akses listrik atau fasilitas pengeringan permanen.

Panas yang dihasilkan pada pengering ini berasal dari pembakaran biomassa dengan aliran udara yang terkontrol. Prof. Djeni menekankan bahwa keunggulan utama teknologi tersebut terletak pada penggunaan kolom zeolit. Kolom zeolit berfungsi menurunkan kelembapan udara sebelum masuk ke sistem pemanas, sehingga udara kering yang dihasilkan jauh lebih efektif dalam menyerap kadar air dari gabah.

Hal ini memastikan proses pengeringan berjalan optimal dan menghasilkan gabah dengan kualitas terbaik. Teknologi pengering gabah hybrid Undip ini menjadi terobosan penting untuk petani. Dengan demikian, efisiensi energi dapat tercapai tanpa mengorbankan kualitas gabah.

Selain model portabel, inovasi pengering gabah hybrid Undip juga mencakup unit bed dryer berkapasitas besar. Unit ini mampu menampung hingga 2.000 kilogram gabah per batch. Kapasitas besar ini sangat cocok untuk petani dengan skala produksi yang lebih besar, mempercepat proses pengeringan pascapanen.

Unit bed dryer dilengkapi dengan unit dehumidifikasi menggunakan silika gel atau zeolit. Teknologi ini semakin meningkatkan efisiensi dalam proses pengeringan gabah. Dengan demikian, kualitas gabah dapat terjaga meskipun dalam jumlah besar dan kondisi cuaca yang kurang mendukung.

Untuk meningkatkan efisiensi operasional, sistem ini disertai mekanisme hidrolik. Mekanisme ini memudahkan proses pengeluaran gabah kering setelah pengeringan selesai. Kehadiran fitur ini membuat proses bongkar muat menjadi lebih cepat, aman, dan hemat tenaga kerja bagi petani, mengurangi beban kerja manual.

Inovasi teknologi pengering gabah hybrid Undip ini merupakan hasil dari dukungan hibah program RIKUB (Riset Konsorsium Unggulan Berdampak) 2025. Hibah ini berasal dari Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melalui Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan. Dukungan ini menunjukkan komitmen pemerintah terhadap inovasi di sektor pertanian.

Kehadiran pengering gabah hybrid diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Khususnya, teknologi ini penting dalam menghadapi anomali cuaca yang sering menjadi kendala utama petani saat musim panen tiba. Stabilitas hasil panen menjadi kunci untuk menjaga pasokan pangan.

Dengan hasil gabah yang lebih kering dan stabil, nilai jual di tingkat petani diharapkan meningkat. Hal ini seiring dengan berkurangnya susut hasil pascapanen yang sering merugikan petani. Undip berharap dapat meningkatkan daya saing produk lokal, sekaligus mendorong kemandirian industri berbasis potensi daerah.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi