Industri fesyen terus berinovasi, dan kini semakin banyak desainer yang mengedepankan praktik berkelanjutan. Perancang busana terkemuka, Anastasia Setiobudi, menjadi salah satu pelopornya dengan meluncurkan koleksi terbarunya yang diberi nama "Pertiwi". Koleksi ini secara resmi diperkenalkan kepada publik pada hari Rabu, 27 Agustus, bertempat di gerai SukkhaCitta yang berlokasi di kawasan Senopati, Jakarta Selatan.
Peluncuran koleksi Pertiwi ini bukan sekadar pameran busana biasa, melainkan sebuah pernyataan kuat tentang komitmen terhadap fesyen berkelanjutan. Anastasia Setiobudi secara khusus menyoroti penggunaan pewarna alami sebagai inti dari praktik ramah lingkungan yang diusungnya. Hal ini menunjukkan keseriusan dalam mengurangi dampak negatif industri busana terhadap lingkungan.
Koleksi ini menjadi bukti nyata bahwa keindahan dan etika dapat berjalan beriringan dalam dunia mode. Dengan fokus pada bahan baku alami dan proses produksi yang bertanggung jawab, Pertiwi diharapkan dapat menginspirasi lebih banyak pihak untuk mengadopsi pendekatan serupa. Ini adalah langkah maju yang signifikan dalam mewujudkan industri fesyen yang lebih bertanggung jawab.
Advertisement
Advertisement
Inovasi Pewarnaan Alami dan Bahan Baku Berkelanjutan
Dalam mewujudkan visi fesyen berkelanjutan, Anastasia Setiobudi mengandalkan pewarna alami yang berasal dari sumber daya terbarukan. Salah satu bahan utama yang digunakan adalah tanaman indigofera. Tanaman ini dikenal mampu menghasilkan spektrum warna yang kaya, mulai dari nuansa biru yang menenangkan, hijau yang segar, hingga hitam yang elegan.
Pewarna alami dari indigofera ini tidak didapatkan secara sembarangan. Tanaman tersebut dibudidayakan melalui sistem pertanian tumpang sari di kebun Rumah SukkhaCitta, yang berlokasi di Jawa Timur. Pendekatan ini memastikan keberlanjutan pasokan bahan baku sekaligus mendukung ekosistem pertanian yang sehat. Selain indigofera, SukkhaCitta juga menanam kapas Kanesia di kebun yang sama.
Kapas Kanesia memiliki keunikan tersendiri karena dapat menghasilkan warna benang coklat secara alami tanpa memerlukan pewarna tambahan. Ini merupakan terobosan signifikan dalam produksi tekstil ramah lingkungan. Anastasia Setiobudi menegaskan bahwa seluruh rantai pasokan, mulai dari kapas hingga pewarna, ditanam dan dikelola sendiri melalui kerja sama erat dengan komunitas petani lokal di berbagai desa.
Advertisement
Tidak hanya mengandalkan tanaman, SukkhaCitta juga berinovasi dengan memanfaatkan limbah dari industri lain. Untuk menghasilkan warna merah pada kain, mereka menggunakan sumber pewarna alami dari kulit kayu (treebark). Bahan baku kulit kayu ini diperoleh melalui kerja sama strategis dengan pabrik furnitur lokal, mengubah limbah yang biasanya terbuang menjadi sumber daya bernilai tinggi bagi fesyen berkelanjutan.
Advertisement
Pemberdayaan Perajin dan Filosofi SukkhaCitta
Komitmen SukkhaCitta terhadap fesyen berkelanjutan tidak hanya berhenti pada bahan baku, tetapi juga mencakup aspek sosial melalui pemberdayaan perajin. Mereka secara aktif memberdayakan perempuan perajin, yang seringkali menjadi kelompok paling rentan dalam rantai pasok industri busana. Inisiatif ini diwujudkan melalui program Rumah SukkhaCitta.
Rumah SukkhaCitta membangun hubungan yang kuat berdasarkan kepercayaan, memberikan suara, dan menghargai setiap kontribusi dari para perajin binaan. Anastasia Setiobudi menjelaskan bahwa Rumah SukkhaCitta berfungsi sebagai sekolah kerajinan dan vokasional. Di tempat ini, para perajin mendapatkan pelatihan keterampilan yang komprehensif, membekali mereka dengan pengetahuan dan keahlian yang relevan.
Pelatihan yang diberikan sangat beragam, mencakup teknik pewarnaan alami, penanaman kapas, hingga pembekalan pengetahuan untuk menilai harga karya mereka secara adil. Tujuan utama dari pelatihan ini adalah untuk mengubah posisi perajin dari sekadar "price taker" menjadi subjek yang memiliki kontrol penuh atas nilai ekonomi dari hasil karya mereka. Ini adalah langkah krusial dalam menciptakan keadilan sosial dalam industri fesyen.
Advertisement
Saat ini, Rumah SukkhaCitta telah hadir di lima lokasi berbeda di Indonesia, yaitu dua di Jawa Tengah, satu di Jawa Timur, satu di Bali, dan satu di Flores. Keberadaan sentra-sentra ini memungkinkan SukkhaCitta untuk lebih terlibat secara langsung dalam praktik fesyen berkelanjutan di berbagai daerah. Seluruh koleksi Pertiwi, termasuk lini kebaya, beskap, dan kain multifungsi, dirancang dengan konsep timeless dan versatile. SukkhaCitta tidak merilis produk berdasarkan tren musiman, melainkan pada progres pembelajaran perajin, memastikan setiap produk memiliki cerita dan nilai otentik yang selaras dengan filosofi fesyen berkelanjutan.
Sumber: AntaraNews