Indonesia Tawarkan Tiga Jurus Hijau ke Dunia, dari Pasar Karbon hingga Pusat Mangrove Global

Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa tantangan global saat ini tidak lagi berhenti pada peningkatan komitmen iklim semata.

Endang Saputra
Oleh Endang Saputra - Reporter
Indonesia Tawarkan Tiga Jurus Hijau ke Dunia, dari Pasar Karbon hingga Pusat Mangrove Global
Indonesia Tawarkan Tiga Jurus Hijau ke Dunia, dari Pasar Karbon hingga Pusat Mangrove Global (Merdeka.com)

Indonesia kembali menegaskan perannya dalam percaturan kebijakan kehutanan dan iklim internasional melalui partisipasi pada Ministerial Event Forest and Climate Leaders’ Partnership (FCLP) bertema “From Glasgow to Addis Ababa: Building Momentum on Forests from COP30 to COP32” yang berlangsung di Kew Gardens, London.

Dalam forum yang mempertemukan para pengambil kebijakan sektor kehutanan dan iklim dari berbagai negara itu, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menyampaikan bahwa tantangan global saat ini tidak lagi berhenti pada peningkatan komitmen iklim semata.

Menurutnya, fokus utama kini bergeser pada kemampuan menerjemahkan komitmen tersebut menjadi langkah konkret yang dapat dijalankan dan diukur secara nyata.

Indonesia pun membawa tiga agenda utama yang diposisikan sebagai kontribusi strategis sekaligus bentuk kepemimpinan dalam mendorong tata kelola kehutanan global yang lebih efektif dan berkelanjutan.

Agenda pertama menitikberatkan pada penguatan pasar karbon berintegritas tinggi atau high-integrity carbon market. Pemerintah menilai mekanisme ini dapat menjadi salah satu solusi penting untuk memperluas pembiayaan perlindungan hutan, restorasi ekosistem, serta pengelolaan sumber daya alam yang lebih berkelanjutan.

Melalui penyempurnaan regulasi nasional, Indonesia terus memperkuat sistem perdagangan karbon agar memiliki kepastian hukum, tata kelola yang transparan, dan kredibilitas lingkungan. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan kepercayaan internasional sekaligus membuka ruang investasi yang mendukung konservasi dan pemberdayaan masyarakat di sekitar kawasan hutan.

Prioritas kedua adalah memperkuat peran International Tropical Peatland Center (ITPC) sebagai pusat kerja sama internasional dalam pengelolaan gambut tropis. Platform ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi untuk pengembangan riset, pertukaran pengetahuan, peningkatan kapasitas, hingga lahirnya inovasi berbasis sains.

Sebagai negara yang memiliki sekitar 13 juta hektare lahan gambut tropis, Indonesia menilai pengalaman pengelolaan ekosistem tersebut dapat menjadi modal penting dalam mendukung agenda ketahanan iklim global. Pemerintah juga membuka peluang kolaborasi lebih luas dengan negara-negara anggota FCLP guna mempercepat penerapan praktik terbaik pengelolaan gambut di berbagai wilayah.

Sementara itu, agenda ketiga diarahkan pada penguatan World Mangrove Center (WMC) sebagai pusat kolaborasi internasional di bidang konservasi dan pengelolaan mangrove.

Indonesia mendorong WMC berkembang menjadi wadah bersama untuk berbagi kebijakan, hasil riset, inovasi teknologi, serta peningkatan kapasitas antarnegara. Pemerintah mengajak lebih banyak mitra internasional untuk terlibat sehingga manfaat pengelolaan mangrove dapat dirasakan secara lebih luas.

Penguatan sektor mangrove dinilai penting karena ekosistem tersebut memiliki peran strategis dalam menyerap emisi karbon, menjaga keanekaragaman hayati, memperkuat ketahanan wilayah pesisir, serta mendorong ekonomi masyarakat.

Dengan kepemilikan sekitar 3,4 juta hektare mangrove atau hampir seperempat total mangrove dunia, Indonesia menegaskan kesiapan untuk berbagi pengalaman serta praktik pengelolaan yang telah dijalankan selama ini.

Dalam forum tersebut, Indonesia juga menyampaikan komitmen untuk memperluas keterlibatan dalam Forest and Climate Leaders’ Partnership dan memperkuat kemitraan dengan negara-negara sahabat maupun lembaga pembangunan internasional.

Kehadiran Indonesia di London sekaligus memperlihatkan semakin besarnya peran negara ini sebagai pemilik hutan tropis terbesar ketiga di dunia yang tidak hanya menjaga sumber daya hutannya sendiri, tetapi juga aktif menawarkan solusi bagi pencapaian target iklim global.

Pemerintah menilai tantangan perubahan iklim, kerusakan lahan, dan menurunnya keanekaragaman hayati tidak dapat diselesaikan secara individual. Karena itu, kerja sama lintas negara menjadi faktor penting untuk mempercepat implementasi solusi kehutanan yang berdampak nyata.

Melalui penguatan pasar karbon, optimalisasi pengelolaan gambut, dan pengembangan pusat mangrove dunia, Indonesia menempatkan diri sebagai salah satu mitra strategis dalam membentuk masa depan kehutanan global yang lebih berkelanjutan dan inklusif.

Rekomendasi