Harga Pangan Global Melonjak 2,4 Persen: Biaya Energi dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama

Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melaporkan Harga Pangan Global naik 2,4 persen pada Maret, didorong oleh lonjakan biaya energi dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Simak dampak lengkapnya pada komoditas utama.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Harga Pangan Global Melonjak 2,4 Persen: Biaya Energi dan Konflik Timur Tengah Jadi Pemicu Utama
Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) melaporkan Harga Pangan Global naik 2,4 persen pada Maret, didorong oleh lonjakan biaya energi dan eskalasi konflik di Timur Tengah. Simak dampak lengkapnya pada komoditas utama. (AntaraNews)

Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO) melaporkan kenaikan harga pangan global. Pada Maret, harga pangan global melonjak 2,4 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Kenaikan ini menandai peningkatan bulanan kedua berturut-turut.

Peningkatan signifikan ini terutama didorong oleh melonjaknya biaya energi. Konflik yang meningkat di Timur Tengah menjadi pemicu utama kenaikan tersebut. Situasi geopolitik ini berdampak luas pada pasar komoditas.

Hampir semua kelompok komoditas utama mengalami kenaikan harga. Ini termasuk sereal, daging, produk susu, minyak nabati, dan gula. Indeks Harga Pangan FAO secara keseluruhan juga menunjukkan tren peningkatan.

Dampak Kenaikan Biaya Energi pada Komoditas Pangan

Kenaikan biaya energi memiliki efek domino pada harga komoditas pangan. Lonjakan harga minyak mentah secara langsung memengaruhi biaya produksi dan transportasi. Hal ini kemudian tercermin pada harga jual produk pangan di pasar global.

Indeks Harga Minyak Nabati menjadi salah satu yang paling terdampak. Pada Maret, indeks ini naik 5,1 persen dari Februari, mencapai 183,1 poin. Kenaikan ini merupakan yang ketiga berturut-turut dalam bulanan.

Harga minyak sawit internasional bahkan mencapai level tertinggi sejak pertengahan 2022. Fenomena ini juga menyebabkan minyak sawit bergerak ke tingkat premium di atas harga minyak kedelai. “Ini utamanya mencerminkan efek limpahan dari lonjakan tajam harga minyak mentah,” kata FAO.

Selain itu, kenaikan harga minyak mentah juga memengaruhi ekspektasi produksi etanol. Brasil, sebagai eksportir gula terbesar dunia, diperkirakan akan mengalokasikan lebih banyak tebu untuk produksi etanol. Ini berpotensi mengurangi pasokan gula di pasar global.

Lonjakan Harga Sereal, Daging, dan Produk Susu

Tidak hanya minyak nabati, harga sereal juga menunjukkan tren kenaikan. Indeks Harga Sereal naik 1,5 persen secara bulanan menjadi 110,4 poin. Angka ini juga meningkat 0,6 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Sektor daging juga tidak luput dari dampak kenaikan harga. Indeks Harga Daging rata-rata mencapai 127,7 poin pada Maret. Angka ini naik satu persen dibandingkan Februari dan delapan persen lebih tinggi dibandingkan tahun lalu.

Produk susu turut mengalami peningkatan harga, meskipun masih lebih rendah dari tahun sebelumnya. Indeks Harga Produk Susu naik 1,2 persen secara bulanan menjadi 120,9 poin. Namun, angka ini masih 18,7 persen lebih rendah dibandingkan Maret 2025.

Konflik di Timur Tengah Memicu Kekhawatiran Pasar Gula

Konflik yang memanas di Timur Tengah menimbulkan kekhawatiran serius di pasar komoditas global. Eskalasi konflik ini berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional. Hal ini secara langsung memengaruhi pasokan dan harga berbagai komoditas.

Terutama, tekanan tambahan pada harga gula juga berasal dari kekhawatiran ini. “Tekanan tambahan pada harga gula juga berasal dari kekhawatiran atas dampak eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap arus perdagangan gula,” tambah FAO.

FAO menyoroti bahwa dampak konflik ini dapat memperburuk situasi harga pangan. Kondisi geopolitik yang tidak stabil menambah ketidakpastian di pasar. Hal ini menuntut kewaspadaan dari semua pihak terkait.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi