Geopark Rinjani Usulkan Shelter Sampah untuk Atasi Persoalan Limbah di Jalur Pendakian Gunung Rinjani

Geopark Rinjani mengusulkan pembangunan shelter sampah di Gunung Rinjani, sebuah solusi inovatif untuk mengatasi tumpukan limbah pendaki dan menjaga kelestarian alam.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Geopark Rinjani Usulkan Shelter Sampah untuk Atasi Persoalan Limbah di Jalur Pendakian Gunung Rinjani
Geopark Rinjani mengusulkan pembangunan shelter sampah di Gunung Rinjani, sebuah solusi inovatif untuk mengatasi tumpukan limbah pendaki dan menjaga kelestarian alam. (AntaraNews)

Pengelola Geopark Rinjani mengambil langkah proaktif dalam upaya penanganan masalah sampah di Gunung Rinjani, Nusa Tenggara Barat. Mereka mengusulkan pembangunan tempat penampungan atau "shelter" sampah di beberapa pos pendakian. Inisiatif ini diharapkan dapat mempermudah pengelolaan limbah yang dibawa oleh para pendaki.

Konsep shelter sampah ini telah dipaparkan kepada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi NTB untuk mendapatkan dukungan dan kajian lebih lanjut. Tujuannya adalah menyediakan titik kumpul sementara yang strategis bagi sampah pendaki. Hal ini akan mengurangi beban pendaki membawa sampah turun.

General Manager Geopark Rinjani, Qwadru Putro Wicaksono, menjelaskan bahwa usulan ini muncul sebagai respons terhadap volume sampah yang terus meningkat. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025, sampah pendakian mencapai puluhan ton.

Konsep dan Tujuan Shelter Sampah Rinjani

Konsep pembangunan shelter sampah di Gunung Rinjani dirancang untuk menciptakan sistem pengelolaan limbah yang lebih efisien di jalur pendakian. Shelter ini akan berfungsi sebagai lokasi pengumpulan sementara. Pendaki dapat meninggalkan sampah mereka di titik-titik yang telah ditentukan.

Qwadru Putro Wicaksono, General Manager Geopark Rinjani, menekankan bahwa shelter ini akan memudahkan proses pengangkutan sampah. Dengan adanya titik kumpul, upaya pembersihan jalur pendakian dapat dilakukan secara lebih terstruktur dan efektif. Ini juga mendorong kesadaran pendaki.

Pada tahap awal, pembangunan shelter sampah akan difokuskan pada jalur pendakian yang paling ramai. Jalur Sembalun di Lombok Timur dan Senaru di Lombok Utara menjadi prioritas utama. Hal ini untuk memaksimalkan dampak positif penanganan sampah.

Tantangan Pembiayaan dan Pengelolaan Inovatif

Skema pembiayaan untuk pembangunan dan pengelolaan shelter sampah masih dalam tahap kajian mendalam. Geopark Rinjani sedang mempertimbangkan berbagai opsi. Ini termasuk kemungkinan penerapan retribusi tambahan bagi pendaki atau alokasi sebagian dari retribusi wisata pendakian yang sudah ada.

Qwadru menyoroti bahwa retribusi pendakian saat ini cukup besar. Namun, pengelolaannya masih terpusat ke pemerintah pusat sehingga belum optimal mendukung penanganan sampah di lapangan. Perlu ada mekanisme yang lebih baik.

Untuk mengatasi keterbatasan tenaga manusia dalam mengangkut sampah di medan berat, Geopark Rinjani menawarkan pemanfaatan teknologi. Mereka mengusulkan penggunaan pesawat tanpa awak atau drone. Drone dapat membantu mengangkut sampah dari shelter ke titik pengumpulan yang lebih mudah diakses.

Urgensi Penanganan Sampah Berdasarkan Data TNGR

Persoalan sampah di Gunung Rinjani bukanlah masalah sepele, melainkan isu yang memerlukan perhatian serius dan tindakan segera. Berdasarkan laporan statistik Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR) pada tahun 2025, volume sampah pendakian mencapai angka yang mengkhawatirkan. Totalnya mencapai 30,35 ton.

Selain sampah dari aktivitas pendakian, terdapat pula sampah non-pendakian yang tercatat sebanyak 1,19 ton pada periode yang sama. Angka ini menunjukkan bahwa keseluruhan ekosistem Rinjani menghadapi tekanan signifikan dari limbah. Jumlah kunjungan wisata pendakian mencapai 80.214 orang.

Data kunjungan juga menunjukkan tingginya minat masyarakat terhadap Gunung Rinjani, dengan 52.108 orang tercatat sebagai pengunjung non-pendakian. Solusi seperti shelter sampah menjadi krusial dalam menghadapi tantangan ini.

Penguatan Regulasi dan Pemeriksaan Barang Bawaan

Selain pembangunan infrastruktur seperti shelter sampah, Geopark Rinjani juga menekankan pentingnya penguatan regulasi. Diperlukan sanksi tegas bagi pendaki yang melanggar aturan kebersihan. Pengetatan pemeriksaan barang bawaan pendaki juga menjadi fokus utama.

Pemeriksaan ini dilakukan baik saat pendaki naik maupun turun dari kawasan Taman Nasional Gunung Rinjani (TNGR). Tujuannya adalah untuk memastikan tidak ada sampah yang ditinggalkan di jalur. Ini juga untuk mencegah pendaki membawa barang-barang yang berpotensi menjadi sampah.

Kombinasi infrastruktur dan regulasi yang kuat diharapkan mampu menjaga kelestarian lingkungan Gunung Rinjani dengan lebih baik. Langkah-langkah regulasi ini diharapkan dapat menciptakan efek jera dan meningkatkan kesadaran para pendaki.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi