Film Randa Ntovea, Adaptasi Cerita Rakyat Kaili, Kini Dilindungi: Kemenkum Sulteng Perkuat Perlindungan HKI Karya Budaya Lokal

Kemenkum Sulteng menyerahkan surat pencatatan Hak Cipta film Randa Ntovea, memperkuat perlindungan HKI karya budaya lokal dan mendorong kreativitas generasi muda.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Film Randa Ntovea, Adaptasi Cerita Rakyat Kaili, Kini Dilindungi: Kemenkum Sulteng Perkuat Perlindungan HKI Karya Budaya Lokal
Kemenkum Sulteng menyerahkan surat pencatatan Hak Cipta film Randa Ntovea, memperkuat perlindungan HKI karya budaya lokal dan mendorong kreativitas generasi muda. (AntaraNews)

Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) Sulawesi Tengah (Sulteng) secara aktif memperkuat upaya perlindungan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) terhadap berbagai karya budaya lokal. Langkah konkret ini diwujudkan melalui penyerahan Surat Pencatatan Hak Cipta untuk film Randa Ntovea kepada masyarakat Kampung Lere, Kota Palu. Inisiatif ini menandai komitmen pemerintah dalam mengakui dan melindungi kekayaan intelektual daerah.

Penyerahan dokumen penting ini dilakukan oleh Kepala Kanwil Kemenkumham Sulteng, Rakhmat Renaldy, kepada pemangku adat Kampung Lere, Mehdiantara Datupalinge. Acara penyerahan berlangsung dalam rangkaian kegiatan Posalia Kampu Lere 2025 yang meriah. Perlindungan ini tidak hanya bersifat hukum, tetapi juga menjadi bentuk pengakuan negara atas nilai budaya yang tinggi.

Film Randa Ntovea sendiri merupakan karya sinematografi yang diadaptasi dari cerita rakyat Kaili, hasil kreasi pemuda lokal bernama Eldiansyah. Melalui pencatatan hak cipta ini, negara hadir untuk memastikan hasil karya anak bangsa tetap lestari dan memiliki nilai ekonomi. Hal ini diharapkan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Pengakuan dan Perlindungan Terhadap Karya Budaya Lokal

Kepala Kanwil Kemenkumham Sulteng, Rakhmat Renaldy, menjelaskan bahwa pencatatan hak cipta merupakan bentuk perlindungan hukum sekaligus pengakuan negara. Ini adalah apresiasi atas nilai budaya dan identitas lokal yang diangkat oleh para kreator muda. Karya seperti Randa Ntovea menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda dapat menjadi penjaga budaya dengan cara yang kreatif dan inovatif.

Renaldy menegaskan bahwa melalui hak cipta, negara memiliki peran penting dalam melindungi hasil karya anak bangsa. Tujuannya agar karya-karya tersebut tetap lestari, bernilai ekonomi, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Film Randa Ntovea kini resmi tercatat sebagai ciptaan yang dilindungi oleh negara.

Pencatatan ini juga menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat adat dalam melestarikan budaya. Pendekatan hukum dan teknologi digunakan untuk menjaga warisan budaya. Ini menunjukkan bagaimana budaya lokal, kreativitas muda, dan perlindungan hukum dapat berjalan seiring.

Sinergi Pemerintah dan Masyarakat dalam Ekosistem Kreatif

Kakanwil Kemenkumham Sulteng berkomitmen untuk terus mendorong masyarakat memahami pentingnya perlindungan HKI, khususnya di bidang seni dan budaya. Edukasi mengenai hak cipta menjadi krusial untuk meningkatkan kesadaran. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan ekonomi kreatif di daerah.

Menurut Renaldy, sinergi antara pelaku budaya, pemerintah, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam menciptakan ekosistem ekonomi kreatif yang berkelanjutan. Kolaborasi ini memungkinkan lahirnya karya-karya baru yang inovatif. Selain itu, sinergi juga memastikan perlindungan yang memadai bagi setiap ciptaan.

Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aspek hukum, tetapi juga pada pemberdayaan komunitas. Dengan adanya dukungan dari berbagai pihak, potensi budaya lokal dapat digali lebih dalam. Ini juga membuka peluang ekonomi baru bagi para seniman dan budayawan.

Dampak Positif Perlindungan HKI bagi Komunitas

Mehdiantara Datupalinge, Ketua Panitia Posalia Kampu Lere 2025 sekaligus pemangku adat, menyampaikan rasa terima kasihnya atas perhatian Kemenkumham Sulteng. Ia mengapresiasi dukungan terhadap karya anak muda dari Kampung Lere. Pengakuan ini memberikan semangat baru bagi komunitas.

Datupalinge menyatakan, "Ini bukan sekadar penghargaan bagi Eldiansyah, tapi pengakuan bagi seluruh masyarakat Lere bahwa karya lokal juga bisa mendapat tempat di mata hukum dan dunia." Pernyataan ini menunjukkan betapa pentingnya pengakuan HKI bagi identitas dan kebanggaan lokal. Hal ini juga mendorong generasi muda untuk terus berkarya.

Perlindungan HKI terhadap film Randa Ntovea diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi kreator lain di Sulawesi Tengah. Ini membuktikan bahwa karya budaya lokal memiliki potensi besar untuk diakui secara nasional maupun internasional. Dengan demikian, kekayaan budaya daerah dapat terus berkembang dan lestari.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi