Fakta Unik: Lahan Makam TPU Tegal Alur Ternyata Berpasir Akibat Sisa Proyek MRT, Ini Penjelasan Sudin Pertamanan Jakbar

Kepala Sudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakbar mengungkapkan lahan di TPU Tegal Alur yang berpasir dan berbatu merupakan urukan sisa proyek MRT. Simak detailnya!

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Fakta Unik: Lahan Makam TPU Tegal Alur Ternyata Berpasir Akibat Sisa Proyek MRT, Ini Penjelasan Sudin Pertamanan Jakbar
Kepala Sudin Pertamanan dan Hutan Kota Jakbar mengungkapkan lahan di TPU Tegal Alur yang berpasir dan berbatu merupakan urukan sisa proyek MRT. Simak detailnya! (AntaraNews)

Kepala Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Barat, Dirja Kusumah, memberikan klarifikasi penting terkait kondisi lahan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Tegal Alur, Kalideres. Ia menjelaskan bahwa area pemakaman di Jakarta Barat tersebut memiliki karakteristik tanah berpasir dan berbatu yang tidak biasa. Kondisi ini menjadi sorotan publik setelah banyak makam baru di sana mengalami kerusakan signifikan akibat curah hujan tinggi.

Dirja Kusumah secara langsung mengonfirmasi bahwa karakteristik lahan tersebut berasal dari tanah urukan sisa proyek Mass Rapid Transit (MRT). Pernyataan ini disampaikan saat dikonfirmasi di Jakarta pada hari Senin, menanggapi pertanyaan seputar kualitas lahan pemakaman. Situasi unik ini menimbulkan berbagai pertanyaan terkait standar pemanfaatan lahan untuk fasilitas publik.

Meskipun demikian, pihak Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Barat berkomitmen penuh untuk meningkatkan perawatan. Mereka berencana untuk segera memperbaiki kondisi makam serta drainase saluran air, terutama menjelang musim penghujan. Upaya ini diharapkan dapat meminimalisir dampak buruk dari kondisi lahan yang tidak ideal tersebut bagi masyarakat.

Asal Mula Lahan Berpasir di TPU Tegal Alur

Dirja Kusumah menegaskan bahwa lahan di TPU Tegal Alur memang berpasir dan berbatu, sebuah kondisi yang berbeda dari lahan pemakaman pada umumnya. Kondisi ini bukan tanpa alasan, melainkan karena tanah tersebut merupakan hasil urukan dari proyek MRT yang telah selesai. Penjelasan ini memberikan gambaran jelas mengenai latar belakang karakteristik tanah di area pemakaman tersebut.

"Betul (tanah berpasir dan berbatu), karena itu tanah urukan dari MRT," ujar Dirja di Jakarta saat dikonfirmasi. Penggunaan material sisa proyek ini menjadi penyebab utama karakteristik tanah yang berbeda dari lahan pemakaman pada umumnya. Hal ini juga menunjukkan adanya pemanfaatan material sisa konstruksi untuk keperluan lain, dalam hal ini fasilitas publik.

Lahan TPU Tegal Alur, menurut Dirja, memang tidak sebaik lahan umum lainnya dari segi kualitas tanah. Faktor ini ditambah dengan intensitas curah hujan yang tinggi belakangan ini di wilayah Jakarta. Kondisi tersebut secara signifikan berkontribusi pada kerusakan makam-makam yang baru saja digunakan oleh warga, menimbulkan tantangan tersendiri bagi pengelola.

Dampak Curah Hujan Tinggi dan Upaya Perbaikan

Curah hujan yang besar menjadi tantangan serius bagi perawatan makam di TPU Tegal Alur, terutama bagi petak makam yang baru. Banyak makam baru yang tanahnya terkikis dan ambles akibat aliran air yang deras setelah hujan lebat. "Iya (ada beberapa yang rusak), karena curah hujan yang besar, makam yang baru banyak terkikis tanahnya," kata Dirja, menggambarkan situasi yang terjadi.

Untuk mengatasi masalah ini dan menjaga kondisi makam, Suku Dinas Pertamanan dan Hutan Kota Jakarta Barat akan meningkatkan intensitas perawatan makam. Fokus utama adalah pada saat musim penghujan tiba, di mana risiko kerusakan lebih tinggi dan memerlukan penanganan ekstra. Langkah proaktif ini diharapkan dapat menjaga kondisi makam agar tetap layak dan terawat bagi keluarga.

Perbaikan sedang berlangsung secara menyeluruh, termasuk penataan dan perbaikan drainase saluran air di seluruh area TPU Tegal Alur. "Saat ini juga sedang kita perbaiki lagi, termasuk drainase saluran airnya," ucap Dirja. Peningkatan infrastruktur drainase sangat krusial untuk mengelola aliran air hujan dan mencegah erosi tanah yang dapat merusak struktur makam.

Ketersediaan Lahan dan Proses Pematangan di TPU Tegal Alur

TPU Tegal Alur terus berupaya menyediakan ribuan petak lahan makam siap pakai untuk warga Jakarta Barat yang membutuhkan. Per 30 September 2025, tercatat ada 1.250 petak lahan siap pakai di Blok Islam dan 64 petak di Blok Kristen. Ketersediaan ini sangat penting untuk memenuhi kebutuhan pemakaman di ibu kota yang padat penduduk.

Namun, masih ada puluhan ribu petak lahan lainnya yang memerlukan proses pematangan sebelum dapat digunakan. Sebanyak 56.628 petak di Blok Islam dan 3.750 petak di Blok Kristen belum siap. Proses ini meliputi pengurukan tanah, pembuatan sistem drainase yang memadai, dan pemetaan petak makam secara teratur.

Dirja menjelaskan bahwa jumlah petak yang siap pakai akan terus bertambah secara bertahap seiring berjalannya proses pematangan lahan. "Masih perlu proses pematangan lahan dengan diuruk, dibuatkan drainase dan dipetakan petak makamnya. Makanya jumlah petak yang sudah siap tadi itu masih terus bertambah," kata Dirja. Upaya berkelanjutan ini menunjukkan komitmen dalam penyediaan fasilitas publik yang memadai.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi