Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Cirebon segera bertindak cepat melakukan asesmen awal pasca banjir yang melanda delapan desa di wilayahnya. Peristiwa ini terjadi akibat hujan deras yang mengguyur sejak Sabtu (13/12) malam, menyebabkan ratusan hingga ribuan warga terdampak. Penanganan darurat menjadi prioritas utama untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi.
Asesmen ini bertujuan untuk mendata secara rinci dampak banjir dan mengidentifikasi kebutuhan mendesak bagi warga yang kehilangan tempat tinggal atau akses ke fasilitas umum. Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Dinsos Cirebon, Tsabit Albani, menyatakan bahwa beberapa wilayah membutuhkan penyediaan makanan segera. Data awal menunjukkan skala dampak yang signifikan.
Tim dari Dinsos Cirebon, termasuk Taruna Siaga Bencana (Tagana), telah diterjunkan langsung ke lokasi-lokasi terdampak untuk membantu warga dan mengumpulkan informasi. Upaya ini merupakan bagian dari respons cepat pemerintah daerah dalam menghadapi bencana alam. Ketersediaan bantuan logistik dan evakuasi menjadi fokus utama penanganan.
Advertisement
Advertisement
Banjir Cirebon kali ini menyebar di delapan desa yang tersebar di beberapa kecamatan, menunjukkan cakupan dampak yang luas. Desa Gamel di Kecamatan Plered menjadi salah satu wilayah yang terdampak signifikan, dengan 287 kepala keluarga (KK) atau sekitar 576 jiwa yang merasakan langsung dampaknya. Kondisi ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak.
Selain Gamel, Desa Jemaras Kidul di Kecamatan Klangenan juga tidak luput dari terjangan banjir, mempengaruhi 27 KK atau 54 jiwa. Desa Kasugengan Kidul, Kecamatan Depok, mencatat delapan KK atau 45 jiwa terdampak, sementara Desa Klangenan di kecamatan yang sama memiliki sembilan KK atau 22 jiwa yang harus mengungsi atau bertahan. Data ini terus diperbarui.
Wilayah paling parah terdampak adalah Desa Jungjang Wetan, Kecamatan Arjawinangun, di mana sekitar 1.000 KK atau 4.000 jiwa harus menghadapi genangan air. Untuk Kecamatan Panguragan, Desa Panguragan Wetan merendam sekitar 50 rumah atau 57 KK. Desa Tegal Karang di Palimanan juga terdampak, dengan 18 rumah, 26 KK, dan 37 jiwa.
Advertisement
Desa Kebarepan di Kecamatan Plumbon juga mengalami dampak serius, dengan 267 rumah, 534 KK, atau 1.602 jiwa yang terkena banjir Cirebon ini. Total keseluruhan warga terdampak mencapai ribuan jiwa, menuntut respons cepat dan terkoordinasi dari pemerintah daerah serta lembaga terkait.
Advertisement
Tsabit Albani menjelaskan bahwa banjir Cirebon kali ini dipicu oleh beberapa faktor utama yang terjadi secara bersamaan. Salah satu penyebab utamanya adalah jebolnya tanggul sungai di sepanjang aliran Sungai Kalianyar-Panguragan. Kondisi ini menyebabkan air sungai meluap dengan cepat dan masuk ke permukiman warga, merendam rumah-rumah penduduk.
Selain tanggul jebol, luapan Sungai Bondet di Gunungjati juga memperparah situasi. Kejadian ini diperparah oleh air laut pasang yang bertepatan dengan kiriman air dari hulu sungai. Kombinasi faktor alam ini menciptakan kondisi yang sangat rentan terhadap banjir, terutama di daerah-daerah dataran rendah dan dekat aliran sungai.
Sebagai respons awal, Dinsos Cirebon telah mengambil langkah konkret dengan menurunkan Taruna Siaga Bencana (Tagana) ke lokasi-lokasi terdampak. Tim Tagana bertugas membantu evakuasi, mendistribusikan bantuan, dan melakukan asesmen lanjutan untuk memastikan semua kebutuhan warga terpenuhi. Kehadiran mereka sangat vital di tengah situasi darurat.
Advertisement
Untuk memenuhi kebutuhan pangan warga terdampak, dapur umum juga telah didirikan di beberapa titik strategis. Dinsos Cirebon memastikan bahwa pasokan makanan siap saji tersedia bagi mereka yang membutuhkan. Saat ini, Tagana masih terus melaksanakan asesmen lanjutan untuk mendata kebutuhan warga secara lebih rinci dan memastikan bantuan tepat sasaran.
Sumber: AntaraNews