Ada kisah perjuangan para kurir yang harus bertarung melawan waktu dan lelahnya fisik di balik tumpukan paket yang menggunung saat Hari raya Idulfitri. Mereka berkejaran dengan waktu dan barang-barang yang terus datang untuk segera dikirim.
Jelang Lebaran, Riyan Akbar (29) seorang kurir paket merasakan betul meningkatnya beban kerja. Seiring dengan lonjakan belanja online, Riyan harus menghadapi tumpukan barang yang tidak sedikit. Terutama saat menjelang libur panjang dan cuti bersama.
Pada 28 Maret 2025 distribusi pengiriman dihentikan hingga 31 Maret 2025. Karena banyak kurir dan pusat distribusi juga mengambil libur untuk merayakan Lebaran.
Setelah libur tiga hari, barang-barang yang tertunda pengirimannya mulai menggunung di gudang dan harus segera didistribusikan.
Inilah saatnya Riyan dan rekan-rekannya bekerja keras. Mempersiapkan ratusan paket untuk dikirimkan ke alamat-alamat yang tersebar di berbagai daerah.
Fisik dan tenaga terkuras. Belum lagi banyaknya protes dari pelanggan yang menanyakan kejelasan pengiriman.
"Kami juga menunggu kiriman dari gudang DC cabang lain, jumlah personil yang terbatas, dan lonjakan pesanan yang luar biasa besar menjelang Lebaran," kata Riyan saat cerita dengan Merdeka.com, Kamis (3/4).
Pelanggan tidak sepenuhnya memahami situasi ini. Meski sebelumnya sudah diinformasikan bahwa pengiriman akan terlambat jika pesanan dilakukan setelah tanggal 28 Maret.
Advertisement
Peningkatan pesanan yang pesat, terutama saat THR mulai cair dan mendekati Lebaran, membuat tugas kurir semakin berat. Dalam sehari, seorang kurir seperti Riyan bisa mengantar lebih dari 200 paket.
Setiap paket harus dikirim dengan teliti sampai ke alamat yang dituju. Namun, tak jarang Riyan dan rekan-rekannya menghadapi masalah teknis seperti alamat tidak sesuai atau nomor telepon yang sulit dihubungi.
Akibatnya, banyak barang yang terpaksa harus di retur karena kesalahan alamat atau tidak dapat dihubungi.
"Memang, jika barang atau hampers tidak sampai di hari Lebaran, itu bisa membuat pelanggan kecewa. Namun, ada banyak faktor dari sisi jasa pengiriman yang perlu dipahami juga," ujar Riyan.
Dia hanya berharap adanya pemahaman dari pelanggan lantaran proses pengiriman tidak dapat berjalan lancar. Terutama di masa-masa sibuk seperti menjelang Lebaran.
Bagi Riyan, tantangan besar memang selalu ada. Namun, rasa puas bisa melihat senyum pelanggan ketika barang sampai dengan selamat tetap menjadi motivasi utama dalam menjalani profesinya.
"Karena di setiap pengiriman yang sampai tepat waktu, ada pengorbanan yang tak terlihat," tutup Riyan.
Advertisement
Sudah hampir lima hari sejak Lebaran, kejutan yang diberikan keluarga Viska (28) untuk orang tua di kampung halaman tak kunjung datang.
Rencana untuk menikmati kue lebaran bersama keluarga tercinta terpaksa batal. Karena paket kue yang mereka pesan belum juga sampai.
Seiring dengan berjalannya waktu, harapan untuk menikmati hidangan manis itu semakin memudar.
Awalnya Viska ingin memberi kejutan pada orang tuanya di hari raya. Mengirimkan sebuah paket berisi kue lebaran jauh-jauh hari H-4 sebelum Lebaran.
Paket itu yang dikirim dari Jakarta menuju Padang. Diharapkan tiba tepat waktu agar orang tuanya bisa menikmati sajian spesial di hari Lebaran. Biasanya, pengiriman antar kota seperti ini memakan waktu sekitar empat hari. Namun, tahun ini segalanya berjalan berbeda.
Karena lonjakan pesanan yang luar biasa menjelang Lebaran, pengiriman paket mengalami keterlambatan. Viska yang awalnya optimis mulai merasa cemas ketika hari Lebaran tiba dan paket yang dikirimnya belum juga sampai.
"Saya sudah tahu ada potensi keterlambatan, tapi saya tak menyangka akan sejauh ini. Harapan saya, orang tua bisa menikmati kue yang saya kirimkan di hari yang spesial itu," ujar Viska.
Meski paket sudah sampai di pusat sortir tujuan, kurir belum juga mengantarnya. Akhirnya, orang tua Viska yang sebagai penerima paket memutuskan untuk datang langsung ke pusat sortir untuk mencari tahu keadaan paket tersebut.
Namun, sesampainya di sana, mereka disambut dengan pemandangan tumpukan paket yang menunggu untuk diantar.
"Paket-paket itu numpuk banyak sekali, sementara kurirnya masih pada libur Lebaran," ungkap Viska.
Karena overload pengiriman dan libur kurir yang bersamaan, paket kue Lebaran yang seharusnya tiba tepat waktu harus tertunda. Tentu saja, harapan orang tuanya untuk menikmati sajian spesial di hari raya harus terbuang.
Tidak hanya itu, Viska juga merasa khawatir kue yang ada dalam paket bisa rusak atau basi akibat keterlambatan tersebut.
"Makanan yang seharusnya dinikmati bersama di hari spesial malah jadi tak bisa dinikmati tepat pada waktunya," keluh Viska.
Viska memahami meningkatnya volume pengiriman saat Lebaran bisa menjadi tantangan besar bagi jasa pengiriman. Meski telah diatur dengan baik, tetap saja ada faktor-faktor eksternal seperti overload barang dan libur kerja yang membuat pengiriman tidak selalu berjalan mulus.
Harapan pelanggan untuk berbagi kebahagiaan di momen istimewa seperti Lebaran kadang harus tertunda karena kendala yang di luar kendali mereka.
Walau paket kue Lebaran yang diharapkan tidak sampai tepat waktu, Viska tetap berharap orang tuanya bisa menikmatinya meski sedikit terlambat.
"Bagi sebagian orang kebahagiaan sering datang lewat cara sederhana, dan terkadang pengertian atas situasi yang ada adalah hal yang lebih penting daripada waktu," tutupnya.