Dewan Pendidikan Surabaya Dorong Transformasi Pendidikan Nasional, Fokus Karakter dan Keselamatan

Dewan Pendidikan Kota Surabaya menginisiasi transformasi pendidikan nasional, menekankan pentingnya penguatan karakter, keselamatan, dan kesadaran hukum siswa demi generasi berkualitas dan bertanggung jawab.

Redaksi Merdeka
Oleh Redaksi Merdeka - Reporter
Dewan Pendidikan Surabaya Dorong Transformasi Pendidikan Nasional, Fokus Karakter dan Keselamatan
Dewan Pendidikan Kota Surabaya menginisiasi transformasi pendidikan nasional, menekankan pentingnya penguatan karakter, keselamatan, dan kesadaran hukum siswa demi generasi berkualitas dan bertanggung jawab. (AntaraNews)

Dewan Pendidikan Kota Surabaya mendorong transformasi pendidikan nasional dari sekadar perluasan akses. Transformasi ini berfokus pada penguatan karakter, keselamatan, dan kesadaran hukum peserta didik sebagai elemen penting. Tujuannya adalah membentuk generasi yang berkualitas dan bertanggung jawab di masa depan.

Anggota Dewan Pendidikan Kota Surabaya, Sukma Sahadewa, menyatakan bahwa pendidikan harus dimaknai sebagai sistem yang membentuk manusia secara utuh. Ini mencakup aspek intelektual, sosial, emosional, hingga kesadaran hukum.

Menurut Sukma, tantangan pendidikan saat ini tidak lagi sederhana, mengingat persoalan karakter dan keselamatan peserta didik masih menjadi pekerjaan rumah. Hal ini terjadi di tengah meningkatnya akses pendidikan dan pesatnya perkembangan digitalisasi pembelajaran.

Pendidikan tidak hanya terbatas pada proses belajar mengajar di ruang kelas, melainkan sistem komprehensif yang membentuk individu. Pembentukan ini mencakup pengembangan intelektual, sosial, emosional, serta kesadaran hukum yang kuat. Sukma Sahadewa menekankan bahwa pendekatan holistik ini krusial untuk menciptakan manusia seutuhnya.

Tantangan yang dihadapi dunia pendidikan saat ini semakin kompleks, terutama dalam menjaga karakter dan keselamatan peserta didik. Perkembangan teknologi digital yang pesat memang memperluas akses pendidikan, namun juga membawa risiko baru. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai dasar menjadi sangat relevan.

Dewan Pendidikan Surabaya melihat bahwa fokus pada perluasan akses saja tidak cukup. Diperlukan upaya serius untuk mengintegrasikan pendidikan karakter dan keselamatan sebagai bagian integral dari kurikulum dan lingkungan belajar. Hal ini akan memastikan bahwa siswa tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memiliki integritas dan tanggung jawab sosial.

Salah satu fenomena yang masih menjadi perhatian serius di Surabaya adalah ditemukannya pelajar sekolah menengah pertama (SMP) yang menggunakan sepeda motor ke sekolah. Mereka berkendara meskipun belum memenuhi syarat hukum untuk memiliki surat izin mengemudi (SIM).

Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan secara jelas mengatur bahwa setiap pengendara kendaraan bermotor wajib memiliki SIM. Usia minimal untuk memperoleh SIM C adalah 17 tahun. Pelanggaran ini menunjukkan adanya kesenjangan antara regulasi dan implementasi di lapangan.

Pemerintah Kota Surabaya, melalui Dinas Pendidikan, telah melarang siswa SMP membawa kendaraan bermotor ke sekolah. Selain itu, kawasan sekolah juga ditetapkan sebagai kawasan tertib lalu lintas. Langkah ini diambil untuk menjaga keselamatan peserta didik dan menekan angka pelanggaran.

Pendekatan berbasis regulasi saja dinilai belum cukup untuk mengatasi persoalan ini. Sukma Sahadewa berpendapat bahwa harus ada pembentukan kesadaran dan pendidikan karakter yang diterapkan secara konsisten. Upaya ini perlu dilakukan baik di lingkungan keluarga maupun sekolah.

Orang tua memegang peran penting dalam pengawasan anak, karena penggunaan kendaraan bermotor oleh pelajar kerap terjadi akibat adanya izin atau kurangnya pengawasan dari keluarga. Edukasi dan komunikasi yang intensif antara orang tua dan anak sangat diperlukan.

Selain itu, sekolah juga perlu memperkuat pendidikan karakter melalui pembiasaan disiplin, pengawasan kendaraan siswa, hingga edukasi keselamatan dalam aktivitas sehari-hari. Pemerintah daerah didorong untuk memperluas program edukasi keselamatan melalui kolaborasi dengan kepolisian dan kampanye kesadaran hukum bagi pelajar.

Pendidikan modern tidak hanya berorientasi pada pengetahuan akademik, tetapi juga kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab dalam kehidupan sehari-hari. Ini berarti siswa harus mampu menerapkan nilai-nilai yang diajarkan dalam konteks praktis.

Momentum Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2026 harus menjadi pengingat bahwa pendidikan perlu membentuk generasi yang cerdas, berkarakter, serta memiliki kesadaran terhadap keselamatan diri dan lingkungan. Hardiknas menjadi refleksi untuk terus memperbaiki sistem pendidikan.

Sukma Sahadewa menegaskan bahwa pendidikan yang baik bukan hanya yang mencerdaskan, tetapi juga yang melindungi generasi bangsa. Ini adalah visi pendidikan yang holistik dan berorientasi pada masa depan, memastikan setiap anak tumbuh menjadi individu yang utuh dan berkontribusi positif bagi masyarakat.

Sumber: AntaraNews

Rekomendasi